Jabar Siapkan 4.000 Tenaga Kerja ke Jerman, 350 Peserta Ikuti Ujian Bahasa

Posted on

Bandung

Sebanyak 350 peserta mengikuti ujian bahasa Jerman level A1 secara serentak di Kabupaten Majalengka, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini menjadi pelaksanaan ujian bahasa Jerman luring terbesar yang pernah digelar di satu lokasi di Jawa Barat.

Program tersebut digelar oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan LPK Instudia sebagai bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap menembus pasar kerja di Jerman.

Para peserta yang mengikuti ujian bukan peserta biasa. Sebanyak 325 di antaranya merupakan peserta inti yang lolos seleksi ketat dari lebih dari 7.300 pendaftar di seluruh Jawa Barat. Sisanya merupakan peserta cadangan yang disiapkan untuk menjaga kesinambungan program.

Kepala Disnakertrans Jawa Barat, I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka, menegaskan pelatihan bahasa Jerman merupakan strategi konkret pemerintah daerah untuk membuka peluang kerja internasional bagi generasi muda.

Menurut Kim, Jerman saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja dalam jumlah besar dan membuka peluang bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia.

“Pada 2024 misalnya, terdapat sekitar 439 ribu lowongan pekerjaan di Jerman yang terdaftar secara resmi untuk tenaga kerja terampil dan spesialis. Nah, pada Februari 2026 kemarin Indonesia baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk menempatkan sekitar 4.000 tenaga kerja di berbagai sektor strategis. Sebagai provinsi dengan jumlah angkatan kerja tertinggi di Indonesia, ini menjadi peluang strategis,” ungkap Kim.

Peluang tersebut, kata Kim, harus direspons dengan kesiapan sumber daya manusia yang kompeten. Apalagi kebutuhan tenaga kerja di Jerman mencakup berbagai sektor strategis.

Sektor kesehatan menjadi salah satu bidang yang paling membutuhkan tenaga kerja, khususnya tenaga perawat. Selain itu, sektor hospitality dan pariwisata juga membutuhkan tenaga layanan, sementara sektor teknologi informasi memerlukan spesialis IT serta pengembang perangkat lunak. Kebutuhan tenaga kerja juga muncul di sektor industri, logistik, hingga konstruksi.

Namun, untuk bisa bekerja di Jerman, calon tenaga kerja harus memenuhi sejumlah persyaratan utama, mulai dari kemampuan bahasa, penyetaraan kualifikasi pendidikan, hingga izin tinggal atau visa kerja.

Penguasaan bahasa menjadi syarat paling mendasar. Untuk sebagian besar profesi seperti tenaga kesehatan, profesional, maupun program pendidikan vokasi Ausbildung, kemampuan bahasa minimal berada di level B1 hingga B2.

“Bahasa adalah kunci yang membuka pintu dunia. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan anak-anak muda Jawa Barat mempunyai kompetensi yang relevan sehingga siap bersaing di tingkat global,” tegas Kim.

Sementara Direktur LPK Instudia, Aceng Imam, menjelaskan pelatihan bahasa Jerman dalam program ini telah berlangsung sejak 11 Februari 2026 dan dibuka secara resmi pada 18 Februari oleh Disnakertrans Jawa Barat.

Pelatihan dilakukan menggunakan sistem hybrid learning, yang menggabungkan pembelajaran daring dan tatap muka. Proses belajar juga didukung dengan sistem learning management system (LMS) yang dirancang untuk memastikan peserta mampu mencapai kompetensi bahasa hingga level A1 dan A2.

Pelaksanaan ujian pun dirancang secara ketat untuk menjaga kualitas penilaian. Ujian tulis yang mencakup kemampuan mendengar, membaca, dan menulis dilakukan secara serentak di ruang konvensi hotel.

“Ujian internal ini dapat menjadi bekal untuk mengukur kompetensi nyata peserta sebelum mengikuti ujian sertifikasi internasional melalui lembaga resmi yang diakui pemerintah Jerman” katanya.

“Pengalaman kami selama 20 tahun mengelola pelatihan Bahasa Jerman menunjukkan bahwa ujian kami memiliki tingkat presisi yang tinggi. Mereka yang mendapatkan skor tinggi pada ujian internal terbukti memiliki skor yang tinggi pula pada saat ujian di lembaga yang ditunjuk pemerintah Jerman,” imbuhnya.