Ikan Dewa Cigugur Mati Massal, Rajah Sunda Mengalun Tengah Malam

Posted on

Kuningan

Kasus kematian Ikan Dewa yang terus bertambah memicu warga Cigugur, Kuningan, menggelar ritual ruwatan dan pembacaan rajah Sunda pada Kamis malam, mulai pukul 22.00 WIB hingga Jumat (13/2) pukul 03.00 WIB di Balong Keramat Cigugur. Ruwatan ini merupakan upaya batin untuk menyikapi fenomena kematian massal Ikan Dewa yang terus terjadi di lokasi tersebut.

Sekitar 70 orang mengikuti tradisi ruwatan ini, mulai dari budayawan, seniman, pemerhati lingkungan, hingga masyarakat sekitar. Dengan mengenakan pakaian serba hitam, ritual dimulai dengan pembacaan doa dan salawat, lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi tradisional khas Sunda atau rajah, dengan iringan alat musik karinding.

Abah Sangha, budayawan sekaligus pemimpin proses ruwatan tersebut, memaparkan bahwa rajah yang dibaca merupakan doa-doa khas Sunda yang berisi permohonan keselamatan dan pengingat tentang hubungan manusia dengan alam. Menurutnya, peristiwa kematian Ikan Dewa Cigugur harus disikapi secara bijak oleh semua pihak.

“Ada yang bertanya apakah ikan dewa yang dipercaya jelmaan prajurit Siliwangi yang mati berguguran ini pertanda pemimpin sekarang bukan darah Siliwangi. Dalam pandangan budaya, itu bagian dari simbol dan pengingat, bukan untuk menghakimi. Pesan utamanya tetap sama, pemimpin dan rakyat harus menjaga alam dan berlaku adil,” tutur Abah Sangha, Jumat (13/2/2026).

Ia mengatakan, dalam ajaran leluhur Sunda, alam harus dirawat sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas segala pemberian alam. Jika terjadi bencana, hal itu merupakan pengingat agar manusia kembali sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

“Karuhun mengajarkan, alam harus dirawat dengan tata titi dan rasa hormat. Kalau manusia serakah atau lalai, alam memberi tanda agar kita kembali sadar,” tutur Abah Sangha.

Salah seorang warga Cigugur, Rasudi Taros, memaparkan bahwa ritual ini merupakan bentuk keresahan warga sekaligus upaya batin atas musibah di Balong Keramat Cigugur, Kuningan. Menurutnya, prosesi ini mengingatkan pentingnya nilai Sunda sebagai aturan hidup yang menjunjung adab dan harmoni yang selaras dengan alam.

“Kami prihatin. Ikan dewa ini bagian dari sejarah dan kepercayaan warga. Ritual ini ikhtiar batin agar alam kembali seimbang dan musibah berhenti,” tutur Rasudi.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Deni, memaparkan bahwa hingga Kamis (12/2/2026) atau dua pekan setelah kematian pertama tercatat, sudah ada 962 ekor Ikan Dewa yang mati di Balong Cigugur.

Deni menjelaskan, kematian massal tersebut disebabkan oleh serangan cacing parasit dan bakteri Aeromonas. Kondisi ini muncul akibat buruknya pengelolaan air di dalam kolam Ikan Dewa Cigugur yang disinyalir telah berlangsung selama puluhan tahun.

Hingga kini, tersisa sekitar 200-an Ikan Dewa di Balong Cigugur. Untuk mencegah kematian bertambah, ikan-ikan tersebut mendapatkan perhatian khusus seperti pemberian antibiotik, suplai oksigen, dan isolasi di kolam karantina. Proses isolasi dilakukan hingga seluruh tahapan pengurusan selesai dan kondisi kolam dipastikan steril dari bakteri maupun parasit.

Halaman 2 dari 2

Video Misteri Ratusan Ikan “Jelmaan Prajurit Prabu Siliwangi” Mati Mendadak!