Cirebon –
Anggota DPR RI, Herman Khaeron menyebut ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) menjelang arus mudik dan arus balik Lebaran dalam kondisi aman. Pemerintah disebut telah melakukan evaluasi terkait kesiapan pasokan energi menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat.
Herman mengatakan evaluasi dilakukan bersama sejumlah pihak untuk memastikan ketersediaan energi selama periode mudik lebaran tahun ini.
“Dua hari lalu kami sudah melakukan evaluasi dengan Pertamina, PLN, dan kemudian moda angkutan darat terkait dengan kesiapan arus mudik dan arus balik,” kata Herman Khaeron di Kota Cirebon, Minggu (8/3/2026).
Dari hasil evaluasi tersebut, Herman menyebut stok BBM masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 21 hari.
“Sampai evaluasi kemarin, untuk arus mudik dan arus balik ketersediaan BBM, baik dari ketersediaan maupun keterjangkauan, siap dan masih cukup untuk 21 hari. Jadi masih cukup untuk 21 hari dan itu terus ditambah sejalan dengan tingkat kebutuhan yang tentu itu sangat dibutuhkan, baik nanti saat mudik maupun saat balik,” ujarnya.
Di tengah kesiapan pasokan itu, Herman juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, hal itu dipicu penutupan jalur pelayaran strategis di Timur Tengah sehingga memengaruhi harga minyak internasional.
“Kita tetap tenang dan tentu dengan kenaikan harga internasional yang saat ini terjadi akibat penutupan Selat Hormuz dan terjadinya perang di sekitar Teluk yang tentu itu adalah sumber crude oil, pemerintah tentu ada cara dan strategi,” katanya.
Menurut Herman, pemerintah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Ia mencontohkan kebijakan yang pernah diambil pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika harga minyak internasional melonjak.
“Persoalan ini kan pernah terjadi di tahun sebelumnya, di era Pak SBY bahkan dulu di era-era awal Pak SBY menjadi Presiden, harga minyak internasional melonjak sangat tinggi. Dan kemudian Pak SBY dengan hitung-hitungan yang tepat, hitung-hitungan yang cermat, maka menaikkan BBM sejalan dengan tetap memberikan social safety net, jaring pengaman sosial, dan stimulus ekonomi kepada kalangan tertentu,” jelasnya.
Ia menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebijakan energi harus dikelola secara cermat agar tidak terlalu membebani masyarakat.
Saat ini, Herman meyakini Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan langkah-langkah strategis menghadapi situasi global sekaligus lonjakan permintaan BBM saat mudik.
“Permintaannya lebih tinggi dan ini terjadi kenaikan, artinya ada double impact yang saya meyakini juga bahwa ini sudah dipertimbangkan, sudah diperhitungkan,” ujarnya.
Terkait harga BBM, Herman memperkirakan tidak akan ada kenaikan untuk BBM bersubsidi hingga Lebaran. Namun untuk BBM yang mengikuti harga pasar atau floating price, kemungkinan penyesuaian tetap bisa terjadi.
“Oleh karena itu, kita cermati dan saya yakin tidak ada kenaikan harga sampai nanti Hari Raya Idulfitri, kecuali yang floating price karena di harga BBM tentu ada BBM yang disubsidi, ada BBM yang mengikuti harga pasar,” katanya.
Selain itu, Herman menyebut Indonesia juga memiliki alternatif pasokan minyak mentah jika terjadi gangguan impor dari kawasan Timur Tengah. Ia mengungkapkan sekitar 20 persen impor minyak Indonesia berasal dari kawasan tersebut.
“Saya mendapatkan informasi dari ESDM bahwa yang dari Timur Tengah itu ada 20 persen, terutama dari Aramco. Nah kalau 20 persen dari Aramco, di mana untuk bisa memenuhi kekurangan? Tentu harus ada sumber-sumber lain yang ini bisa memenuhi terhadap kebutuhan BBM dalam negeri,” jelasnya.
Herman menegaskan yang terpenting adalah memastikan masyarakat tetap dapat mengakses BBM dengan harga yang terjangkau di tengah dinamika global.
“Yang terpenting bahwa masyarakat tetap tidak kehilangan sumber energinya, tidak kehilangan bahan bakarnya, namun dengan harga yang tentu terjangkau oleh daya belinya,” pungkasnya.
Dikutip dari, sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat tetap tenang menyusul kekhawatiran soal ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Bahlil menegaskan stok BBM nasional dalam kondisi aman.
Bahlil menjelaskan, kapasitas penampungan minyak nasional sudah lama berada di kisaran 25 hari. Namun, menurut dia, standar minimal ketersediaan untuk kebutuhan nasional berada di atas 20 hari.
“Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu,” kata Bahlil di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (6/3/2026).
“Nah, standar minimal ketersediaan kita itu untuk standar nasional minimal harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari,” sambungnya.
Bahlil menekankan standar kepemilikan minyak saat ini masih aman. Dia mengimbau masyarakat tak panik. “Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman. Jadi nggak perlu ada panik, nggak perlu. Suplai lancar,” ujarnya.







