Sukabumi –
Pemandangan berbeda tersaji di kawasan pesisir Sukabumi, khususnya di sepanjang jalur sabuk estuari Loji hingga Sangrawayang, Kabupaten Sukabumi.
Usai diguyur hujan deras selama beberapa hari terakhir, warna biru laut yang biasanya memanjakan mata kini berubah drastis menjadi cokelat pekat, menyerupai hamparan ‘kopi susu’ raksasa.
Perubahan warna air laut ini terlihat sangat mencolok, membentang dari muara hingga menyebar luas ke tengah Teluk Palabuhanratu. Gradasi warna yang kontras antara air laut yang masih biru di kejauhan dengan air cokelat pekat di bibir pantai menciptakan pemandangan yang unik, namun sekaligus mengundang tanda tanya.
Jalur Loji – Sangrawayang sendiri dikenal sebagai gerbang favorit menuju kawasan Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGGp).
Tak heran, fenomena ini langsung menyita perhatian para pelintas. Sejumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, tampak menepi di bahu jalan.
Para wisatawan turun, menatap ke arah muara Cibutun yang tampak memuntahkan debit air keruh dalam jumlah besar ke lautan.
Rian (35), seorang wisatawan asal Bogor yang kebetulan melintas, mengaku sempat bingung dengan pemandangan tersebut. Ia mengira telah terjadi longsor besar atau bencana alam di sekitar lokasi, mengingat pekatnya warna air.
“Awalnya saya kira ada longsoran tebing yang jatuh ke laut, soalnya warnanya pekat sekali, cokelat kemerahan. Kirain bencana alam, tapi kalau dilihat-lihat kok airnya tenang saja. Agak ngeri juga sih melihatnya, tapi di satu sisi unik kayak gradasi warna,” ungkap Rian saat ditemui di pinggir jalan raya Loji, Jumat (6/2/2026).
Pemandangan serupa juga menarik perhatian Deni (28), seorang pengendara motor yang sedang touring menuju kawasan Geopark. Ia dan rombongannya sengaja berhenti sejenak untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Bagi mereka yang kerap melintas di jalur ini, pemandangan laut yang berubah warna secara drastis adalah hal yang tak biasa.
“Saya lumayan sering lewat jalur Loji kalau mau ke Geopark, biasanya kan biru bersih, enak buat cuci mata. Pas lewat tadi kaget, kok jadi cokelat semua sampai ke tengah. Kirain lagi ada pengerukan atau apa, ternyata alami ya. Jadi spot foto dadakan sih, unik buat update status,” ujar Deni.
Warna cokelat pekat ini rupanya membawa jejak cerita dari hulu. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari meluapnya Sungai Cisereuh dan beberapa sungai lain yang bermuara ke kawasan Teluk Palabuhanratu.
Beberapa waktu lalu, sungai yang bermuara di kawasan ini sempat mengamuk akibat curah hujan tinggi, membawa dampak kerusakan yang cukup signifikan di wilayah hulu.
Arus liar Sungai Cisereuh sendiri dilaporkan merusak sejumlah petak sawah warga dan menyebabkan pergeseran lahan. Material tanah dari sawah yang porak-poranda dan tebing sungai yang tergerus inilah yang kemudian terbawa arus hingga ke muara, mengubah wajah laut Loji menjadi keruh.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Mang Udon, warga Kecamatan Simpenan, memberikan penjelasan untuk menenangkan para pelintas yang bertanya-tanya. Ia memastikan bahwa warna keruh tersebut bukanlah pencemaran limbah, melainkan material tanah akibat luapan sungai.
“Ini mah imbas dari hulu. Kan kemarin Sungai Cisereuh sempat naik (meluap), itu sawah-sawah di atas pada kena, tanahnya kegerus sampai ada lahan yang geser. Istilahnya ‘banjir kiriman’ yang bawa material tanah merah,” jelas Mang Udon.
Menurutnya, kondisi ini akan kembali normal seiring berjalannya waktu dan siklus pasang surut air laut.
“Pas ketemu air laut, warnanya jadi cokelat begini karena debit air tawarnya lagi banyak dan bawa lumpur bekas longsoran tadi. Nanti juga kalau hujan reda dan arus laut pasang, warnanya bakal didorong balik dan jadi biru lagi,” pungkasnya.
