Tasikmalaya –
Peringatan Hari Braille Internasional yang jatuh hari ini, menyiratkan pesan dari pelajar tunanetra Tasikmalaya, terkait harapan pemenuhan fasilitas ramah disabilitas yang lebih luas.
Saat ini masih banyak fasilitas pelayanan publik dan ruang publik yang kurang memperhatikan kalangan tunanetra.
Nabilah, salah seorang guru SLBN Bungursari Tasikmalaya berharap fasilitas publik di Kota Tasikmalaya mulai serius mengakomodasi kebutuhan tunanetra.
“Harapannya banyak fasilitas umum yang di-upgrade, ada tulisan braille supaya mereka bisa mengenal lingkungan yang dikunjunginya. Bisa dimulai dari kantor-kantor,” ujar Nabilah, usai acara peringatan Hari Braille di sebuah restoran cepat saji, Jalan Ir Djuanda Tasikmalaya, Kamis (29/1/2026).
Nabilah mengakui, beberapa fasilitas huruf braille memang sudah ada, seperti di lift mall, hotel, atau sebagian layanan publik. Namun jumlahnya masih terbatas. “Belum semua, masih kurang,” kata Nabilah.
Acara peringatan Hari Braille itu sendiri diikuti oleh puluhan pelajar tunanetra dari Tasikmalaya dan Ciamis.
Di acara itu mereka unjuk kebolehan menulis dan membaca huruf braille. Selain itu ditampilkan juga potensi mereka yang lain, mulai dari bernyanyi, bercerita hingga membaca puisi.
Acara ini menjadi momentum untuk menunjukkan kemampuan nyata anak-anak tunanetra kepada publik.
“Anak-anak unjuk kabisa, mulai dari membaca dan menulis braille. Ada juga yang bisa menyanyi, baca puisi, sampai story telling. Ini semacam promosi supaya masyarakat tahu, anak tunanetra juga bisa,” ujarnya.
Menurut Nabilah, braille masih kalah populer dibanding bahasa isyarat, padahal sistemnya bersifat universal.
“Braille memang tidak se-famous bahasa isyarat. Tapi braille itu sedunia sama. Huruf A ya bentuknya itu di mana pun,” katanya.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra yang hadir dii acara itu menekankan pentingnya kesadaran sosial bagi masyarakat yang merasa hidupnya lebih “lengkap”.
“Yang pertama, kita semua yang merasa sudah diberikan gisik sempurna, sadar dirilah bahwa Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan dan kekurangannya. Saya yakin Tuhan memberikan sesuatu yang tersembunyi dan bisa mereka gunakan untuk berkarya,” ujar Diky.
Ia mencontohkan, di sejumlah daerah, difabel telah dilibatkan dalam berbagai sektor, termasuk industri kreatif dan jasa.
Menurutnya, hal tersebut membuktikan keterbatasan fisik tidak selalu menjadi penghalang produktivitas.
“Beberapa TV di Jakarta menggunakan teman-teman difabel untuk editing. Di Tasik juga sudah mulai merambat, ada beberapa resto yang memakai teman difabel. Mereka punya rasa, punya kepekaan, bahkan bisa main musik dan bersumbangsih lewat karya,” katanya.
Selain itu Diky tidak menampik bahwa dukungan pemerintah daerah masih jauh dari kata ideal, terutama dari sisi sarana dan prasarana.
“Kalau ditanya sarana prasarana, jujur saja masih jauh dari sempurna,” kata Diky.
Kondisi keuangan daerah dan pemotongan TKD, menurut Diky, ikut memengaruhi ruang gerak pemerintah. Namun ia menegaskan isu difabel tetap akan diperjuangkan.
“Dalam penyajian anggaran yang kecil pun tetap harus ada perhatian. Banyak yang harus dibenahi, dan itu kita catat. Ke depan kita coba kerja sama dengan pengusaha, ada pelatihan, peningkatan skill kaum difabel,” ujar Diky.*
