Bandung –
Kreativitas di tangan Generasi Z bukan sekadar mengisi waktu luang, kegiatan tersebut bahkan menjadi sumber penghasilan tambahan. Jika generasi sebelumnya melihat hobi sebagai aktivitas sampingan, Gen Z memandangnya sebagai kegiatan yang bernilai. Di Indonesia, fenomena ini membentuk tren baru dalam industri kreatif yang lebih personal dan eksploratif.
Dalam era yang serba digital, Gen Z sangat terhubung dengan teknologi digital. Namun, mereka tidak hanya melirik aktivitas berbasis teknologi, Gen Z juga memanfaatkan kemampuan mengolah bahan makanan hingga seni tradisional sebagai pengisi waktu luang hingga peluang mendapatkan pendapatan tambahan. Berikut beberapa kegiatan kreatif yang digemari oleh Gen Z:

1. Ekspresi Digital & Konten Kreatif
Gen Z memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk konsumsi, tetapi sebagai medium karya. Gen Z cenderung menggunakan platform seperti TikTok dan Instagram untuk narasi otentik. Konten digital bagi mereka adalah portofolio hidup yang dapat diakses oleh siapa pun di seluruh dunia. Hal ini meliputi:
• Content Creation: Membuat vlog harian, tutorial pendek, atau video seni di platform seperti TikTok dan Instagram.
• Digital Arts & AI: Membuat karya seni digital menggunakan Procreate atau bereksperimen dengan desain visual berbasis AI.
2. Literasi Digital dan Aktivitas Komunitas Virtual
Selain konten visual, Gen Z juga menunjukkan kreativitasnya melalui pengelolaan informasi dan pembangunan komunitas di ruang siber. Aktivitas ini berfokus pada kemampuan mereka dalam mengkurasi pengetahuan dan menciptakan ruang diskusi yang terbuka. Bagi mereka, menjadi kreatif juga berarti mampu membangun ekosistem digital yang bermanfaat bagi orang banyak.
Aktivitas ini tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga kecerdasan emosional dalam merangkul sesama pengguna internet. Beberapa kegiatan yang menonjol dalam kategori ini meliputi:
• Kurasi Pengetahuan & Newsletter: Membuat buletin digital atau utas (thread) informatif di media sosial yang merangkum topik-topik tertentu, mulai dari tips karier hingga isu lingkungan.
• Moderasi Komunitas & Server: Membangun dan mengelola komunitas berbasis minat di platform seperti Discord, di mana mereka mengoordinasikan acara daring atau sesi belajar bersama.
• Kampanye Digital Sosial: Merancang gerakan advokasi atau penggalangan dana secara daring untuk isu-isu sosial yang mereka pedulikan, menggabungkan desain grafis dengan teknik penulisan yang persuasif.
3. Inovasi Kuliner: Bisnis Makanan Ringan Berbasis Tren
Dunia kuliner menjadi ladang inovasi berikutnya yang menggabungkan keahlian memasak dengan kemampuan strategi pemasaran digital. Berjualan makanan ringan kini menjadi pilihan populer karena modal yang relatif fleksibel namun memiliki daya jangkau yang luas. Dalam hal ini, Gen Z tidak hanya menjual rasa, melainkan sebuah “pengalaman”.
Strategi pemasaran yang mereka digunakan sering kali memanfaatkan fenomena fear of missing out (FOMO) dengan kemasan produk yang estetik dan layak unggah ke media sosial. Inovasi kuliner ini meliputi:
• Modifikasi Rasa Tradisional: Mengolah camilan lokal seperti keripik atau kue kering dengan varian rasa internasional seperti truffle, mentai, atau matcha.
• Produk Artisan: Makanan ringan buatan rumahan yang dibuat dalam jumlah terbatas untuk menjaga eksklusivitas.
• Menu Viral: Menciptakan kembali atau memodifikasi resep yang sedang tren di internet dengan sentuhan personal yang unik.
4. Fesyen & Gaya Hidup Berkelanjutan
Kesadaran akan lingkungan hidup mendorong Gen Z untuk mengekspresikan diri melalui gaya hidup berkelanjutan. Dalam bidang fesyen, mereka tidak lagi hanya menjadi konsumen mode cepat (fast fashion), tetapi juga menjadi pencipta yang model tampilan yang baru juga unik. Aktivitas ini mencakup:
• Upcycling Fesyen: Mengubah pakaian bekas (thrifting) menjadi desain baru yang unik atau melakukan kustomisasi pada sepatu dan tas.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
• DIY Merchandise: Membuat aksesori manik-manik (beads), lilin aromaterapi, atau produk perawatan diri organik di rumah.
5. Kerajinan Seni Tangan
Menariknya, di tengah gempuran digitalisasi yang serba cepat, muncul gerakan kuat di kalangan Gen Z untuk kembali ke aktivitas fisik yang bersifat manual. Mengolah bahan mentah dengan tangan sendiri kini dipandang sebagai bentuk pelarian kreatif sekaligus sarana mindfulness untuk detoks digital dari hiruk-pikuk media sosial.
Proses manual yang lambat dan meditatif ini sangat dihargai oleh Gen Z sebagai penyeimbang teknologi tinggi. Ragam kegiatannya meliputi:
• Tekstil & Benang: Merajut (crochet dan knitting), menyulam, serta teknik macrame.
• Seni Tanah Liat: Membuat keramik, tembikar, atau hiasan dari air-dry clay.
• Seni Visual: Melukis dengan cat akrilik, menggambar ilustrasi, hingga menyusun puzzle rumit untuk dekorasi dinding.






