Tasikmalaya –
Jalan Cihideung merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi di Kota Tasikmalaya. Apalagi di bulan Ramadan ini, kawasan pusat pertokoan itu semakin ramai pengunjung.
Di tengah riuh denyut perdagangan Jalan Cihideung, terselip sebuah fakta unik terkait keberadaan sebuah gang sempit yang nyaris luput dari perhatian.
Akses ini sebenarnya cukup strategis karena menghubungkan Jalan Cihideung dan Selakaso, dua jalan protokol pusat pertokoan Kota Tasik.
Yang membuatnya unik, jalan ini relatif kecil. Bahkan lebih pantas disebut lorong atau terowongan. Lebarnya tak lebih dari 1 meter. Jika orang dewasa berpapasan, keduanya harus memiringkan badan.
Bagian atasnya tertutup beton dengan tinggi sekitar 2 meter. Inilah yang membuat gang ini lebih mirip lorong atau terowongan bawah tanah.
Suasana Gang Beurit di sekitar Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya (Foto: Faizal Amiruddin/). |
Sementara panjangnya sekitar 300 atau 400 meter. Cukup panjang untuk dilalui dengan berjalan kaki, dengan empat titik belokan yang membuatnya sedikit berliku.
Di beberapa titik bahkan minim cahaya alias gelap. Bagi yang tak biasa melewati, sepertinya butuh sedikit nyali untuk masuk menyusuri gang ini.
Tak ada papan nama di mulut gang ini, baik di Jalan Cihideung maupun di Jalan Selakaso.
“Dikenalnya Gang Beurit,” kata seorang tukang parkir di Jalan Cihideung, Senin (23/2/2026). Beurit adalah bahasa Sunda yang berarti tikus.
Sementara seorang remaja yang dijumpai keluar dari gang itu menyebutnya Gang Vampir. “Soalnya agak-agak horor ya gangnya,” kata remaja berseragam putih-biru itu.
Namun, di balik ketidakjelasan nama, keunikan, dan keangkeran suasana dari gang tersebut, terselip fakta lain.
Ternyata Gang Beurit ini adalah jalan utama bagi para pedagang kaki lima, pegawai toko, dan pengunjung yang hendak beribadah salat.
Gang ini seakan menjadi jalan pintas pemisah antara tenangnya masjid dan hiruk-pikuk pusat pertokoan.
Gang ini juga semacam life hack bagi pengunjung Cihideung yang kebingungan mencari masjid. Biasanya usai bertanya, pengunjung akan diarahkan untuk masuk menyusuri Gang Beurit sampai ujung, lalu masjid berada di sebelah kiri.
“Walau pun kecil, tapi gang itu hidup karena jadi jalan pintas ke musala. Mereka yang sehari-hari aktivitas di Cihideung kalau mau salat biasanya lewat situ,” kata Nunung (70), warga setempat.
Secara administratif, Gang Beurit ini masuk ke wilayah RT 06/RW 04, Kelurahan Yudanagara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.
Suasana Gang Beurit di sekitar Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/). |
Menurut Nunung, pengurus RW setempat selama ini merawat gang tersebut. Sehingga tak heran walaupun gelap, kebersihan gang itu relatif terjaga.
“Itu kan sengaja dipasang pintu, biar aman. Jadi kalau malam akses dari Jalan Cihideung mau pun dari Jalan Selakaso ditutup pintu besi,” kata Nunung.
Langkah ini tiada lain untuk mencegah Gang Beurit dimanfaatkan kalangan tertentu untuk beraktivitas negatif. Misalnya dimanfaatkan oleh tunawisma atau dijadikan tempat buang air.
Titin (45), warga lainnya, membenarkan walaupun mirip terowongan dengan kesan angker, nyatanya Gang Beurit bersih dan aman dilalui.
“Walau pun namanya Gang Beurit, tapi itu jalan orang-orang yang mau ibadah. Ramainya pas waktu salat, makanya bersih,” kata Titin.
“








