Gagal Lihat Blood Moon, Langit Bandung Tertutup Awan Tebal

Posted on

Bandung

Harapan untuk menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon dari Observatorium Al Biruni Universitas Islam Bandung (Unisba) pada Selasa (3/3/2026) terpaksa tertunda. Bulan yang seharusnya terbit dari ufuk timur Kota Bandung justru tersembunyi di balik awan tebal yang menyelimuti langit.

Sejak sore hari, tim pengamat di Observatorium Al Biruni Unisba telah melakukan persiapan matang. Teleskop digital maupun manual dikalibrasi dengan presisi, posisi bulan dihitung secara akurat, dan seluruh perangkat dipastikan siap untuk menangkap momen langka tersebut.

Kepala Observatorium Al Biruni, Encep Abdul Rojak, menjelaskan bahwa secara teknis tidak ada kendala berarti dalam persiapan pengamatan. Posisi bulan dipastikan sudah sesuai dengan perhitungan astronomis. Sayangnya, faktor cuaca menjadi penghalang utama dalam proses observasi kali ini.

“Kemudian tadi kita sudah dapatkan posisinya dan sudah terkalibrasi, hanya saja terkendala cuaca. Saat ini kita masih melangsungkan pengamatan itu sendiri, namun kita masih mengharapkan cuaca sedikit membaik sehingga gerhana bulan total ini dapat teramati dengan baik begitu,” kata Encep.

Berbeda dengan pengamatan hilal yang lazimnya mengarah ke barat, gerhana bulan total kali ini dipantau ke arah timur, mengikuti titik terbit bulan. Namun, tepat di titik koordinat tersebut, gumpalan awan tebal menggantung dan menghalangi pandangan teleskop.

“Hasil hasil pemantauan saat ini kita masih belum terlihat karena cuaca atau awan di sekitar ufuk cukup tebal ya. Dan ketika kita mengamati gerhana bulan, kebetulan bulan terbit dan saat itu sudah terjadi gerhana, maka kita mengamatinya berbeda dengan pengamatan hilal,” ucapnya.

“Kalau pengamatan hilal ini ke arah barat, tetapi kalau pengamatan gerhana bulan total ini seiring dengan terbitnya bulan itu sendiri kita mengamati ke arah timur saat di mana bulan itu terbit,” lanjut dia.

Sekitar 30 menit sejak pengamatan dimulai, kondisi langit belum menunjukkan tanda-tanda akan cerah. Berdasarkan perhitungan data, Encep menyebut puncak gerhana terjadi tepat pada pukul 18.34 WIB.

“Puncak gerhana bulan pada datanya terjadi pada pukul 18.34 WIB. Pada saat itu seluruh piringan bulan itu sudah tertutupi dengan bayangan bumi dan itu akan berakhir pada pukul 19 lebih 2 menit,” jelasnya.

Setelah pukul 19.02 WIB, bayangan bumi diprediksi mulai bergeser dan cahaya matahari perlahan kembali menyinari permukaan bulan. Fase akhir dari rangkaian Gerhana Bulan Total ini dijadwalkan berakhir pada pukul 20.17 WIB.

“Pada saat 19.02 itu bayangan atau piringan bulan itu sudah tidak terpenuhi secara utuh oleh bayangan bumi. Artinya sudah terbuka dan berangsur terbuka bercahaya sampai dengan kurang lebih 20.17 ya,” ujarnya.

Meski langit Bandung belum bersahabat, tim pengamat tetap bertahan di lokasi. Di sela-sela aktivitas ilmiah tersebut, rangkaian ibadah salat gerhana juga digelar sebagai bagian dari agenda utama di Observatorium Al Biruni Unisba malam ini.

“Setelah ini pun kita akan melaksanakan salat berjamaah yang mana itu bagian daripada yang dianjurkan. Artinya pengamatan ini masih terus berjalan,” pungkas Encep.