Fesyen Syar’i yang Nyaman dan Berkelanjutan ala Haadiya

Posted on

Bandung

Tren fesyen syar’i belakangan ini semakin banyak digandrungi oleh muslimah. Brand-brand yang mengusung konsep modest fashion pun marak bermunculan, dengan menawarkan berbagai produk abaya, hijab panjang atau khimar, dan sebagainya.

Karena konsepnya yang sesuai syariat Islam, pakaian-pakaian tersebut otomatis memiliki potongan yang panjang dan terkadang terkesan ‘berat’. Alhasil, pakaian tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk digunakan di bawah cuaca terik.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Alia Karenina memutuskan untuk merancang pakaian syar’i dengan bahan-bahan yang sejuk dan cocok digunakan di berbagai cuaca. Ia yang memiliki jadwal aktivitas padat kerap merasa kesulitan untuk mencari pakaian syar’i yang nyaman dipakai seharian.

“Awalnya saya kebingunan cari bahan (pakaian) syar’i yang enak dipakai dari pagi sampai malam. Karena saya juga masih bolak-balik Jakarta-Bandung. Jadi kalau di Jakarta panas, sampai ke Bandung adem, serba salah,” ungkap Alia di Bandung, Sabtu (7/2/2026).

Ia mengatakan, sejauh ini bahan yang banyak dijumpai di berbagai pakaian syar’i adalah bahan-bahan sintetis seperti polyester. Bagi sebagian orang yang memiliki tubuh sensitif termasuk dirinya, bahan tersebut kerap memunculkan reaksi listrik statis saat digunakan.

“Jadi saat buka pintu mobil itu suka kesetrum sendiri. Bahan polyester ataupun bahan yang bukan natural fabric itu kan suka menimbulkan (listrik) statis ya,” paparnya.

Oleh karenanya, ia mengatakan, pilihan material kain-kain natural menjadi bahan utama pembuatan produk fesyen miliknya yang baru diluncurkan, yakni Haadiya Syar’i. Material tersebut dinilai mampu memberikan rasa sejuk dan nyaman di berbagai cuaca.

“Insyaallah bahan-bahan yang digunakan oleh Haadiya itu natural fabric, jadi lebih ringan, lebih flowy, dan tidak menimbulkan keringat,” jelasnya.

Di samping itu, potongan pakaian dari koleksi Haadiya juga mengusung gaya capsule wardrobe, alias pakaian dengan model yang tak lekang waktu, sederhana, serta mudah dipadu-padankan dengan pakaian lainnya.

Tidak ada ornamen yang mencolok, siluetnya pun dibuat lurus dan lebar. Sehingga, muslimah tetap memiliki ruang gerak yang nyaman meskipun mengenakan pakaian panjang.

“Cutting-nya dibuat loose, jadi tidak membentuk badan sesuai dengan syariat Islam. Kalau warna memang kami belum menggunakan hanya warna hitam, masih warna-warna warna-warni lah. Karena kami juga mencoba untuk memfasilitasi orang yang masih khawatir bila pakaian syar’i harus serba hitam,” terangnya.

Dengan potongannya yang sederhana tersebut, Alia mengatakan, koleksi pakaian Haadiya pun bisa menjadi pilihan bagi muslimah yang ingin beribadah ke Tanah Suci. Kainnya yang flowy dan mengikuti gerak tubuh pemakainya disebut akan memberi rasa nyaman di tengah terik.

“Nyaman untuk dipakai umrah, jadi khimar-nya bisa sekalian dipakai ke Masjidil Haram,” ungkapnya.

Mengusung Slow Fashion

Selain potongan dan material, konsep slow fashion menjadi fondasi lain yang membentuk identitas brand. Alia memaparkan, Haadiya tidak menghadirkan koleksi dalam jumlah besar setiap musim.

Desainnya diproduksi dengan tempo yang lebih lambat, sehingga memberi waktu pada pemakai untuk mengenal dan menggunakan busana lebih lama. Hal ini menjadi antitesa dari fenomena fast fashion yang belakangan marak diadopsi, di mana pakaian dibuat dengan harga yang miring, bahan-bahan yang tidak berumur panjang, serta produksi dalam jumlah masif yang mendorong konsumerisme.

“Haadiya itu berkomitmen pada slow fashion, jadi kita mengeluarkan koleksi pakaian tidak akan semasif brand-brand lain. Mungkin dalam satu tahun hanya akan 2-3 kali saja mengeluarkan koleksi baju. Kami ingin orang melihat ini sebagai investment piece,” tutur Alia.

Ia juga memastikan material yang digunakan dapat dimanfaatkan kembali agar tidak menambah limbah industri mode. Pasalnya, ia mengatakan, landfill yang muncul dari limbah-limbah industri mode saat ini telah banyak menjadi masalah.

“Saya sudah pesan sama tim tuh semua harus bisa kita pakai kembali, kita daur ulang. Enggak boleh yang hanya dipakai hari ini terus kita buang. Saya tidak mau masuk ke dunia fashion dan menambah beban masalah, seperti masalah landfill, masalah sampah,” katanya.

“Jadi jangan sampai ada anggapan buruk pada industri fesyen syar’i di Indonesia,” lanjutnya.

Wujud Refleksi Diri

Di balik pendekatan desain tersebut, perjalanan pribadi Alia Karenina menjadi latar belakang lahirnya Haadiya. Ia menjelaskan bahwa brand ini lahir dari refleksi diri dan perjalanan spiritual yang panjang, termasuk selepas kehilangan suami tercinta karena kanker.

“Haadiya itu bukan hadir dari gemerlapnya fesyen, tapi lebih dari refleksi diri dan perenungan mendalam. Justru datangnya dari rasa kehilangan saat suami berpulang karena kanker,” ujarnya.

Perjalanan batin tersebut, ia mengatakan, membuatnya mendalami agama dan mulai memahami konsep berpakaian sesuai syariat secara lebih utuh. Ia pun berkesempatan menjalani ibadah haji dan memutuskan untuk mendalami Islam dengan lebih komprehensif.

“Dari situ mulai memutuskan untuk naik haji, memutuskan belajar agama dengan lebih benar. Sampai akhirnya tahu bahwa berpakaian sesuai syariat itu harusnya seperti apa,” paparnya.

Oleh karenanya, Alia merancang Haadiya untuk dibangun di atas tiga pilar utama yang mencerminkan perjalanan hidupnya. Pilar pertama bertitel “one path”, yang menggambarkan ilmu tauhid atas kebesaran Allah yang Maha Esa.

“Pilar pertama itu One Path, lebih menunjukkan tauhid kepada Allah. Makanya kita namakan koleksi pertamanya itu adalah One Path,” katanya.

Pilar kedua terinspirasi pengalaman tinggal di berbagai negara. Sementara pilar ketiga menghadirkan desain polos tanpa ornamen yang menekankan ketenangan batin.

“Yang ketiga itu ‘the calm within’. Jadi semuanya polos, tidak ada ornamen, tidak ada garis, tidak ada apapun benar-benar hanya warna yang sama,” tuturnya.

Pengalaman tinggal di India, Jepang, dan London turut membentuk sudut pandangnya terhadap desain. Unsur seperti tenun Indonesia, batik, dan motif yang terinspirasi perjalanan hidup dihadirkan sebagai bagian dari cerita personal yang melekat pada koleksi.

Dalam kesempatan tersebut, Alia juga mengenalkam kembali brand fesyen miliknya yang telah lebih dulu lahir, yakni Aleiya. Berbeda namun tetap senada dengan Haadiya, koleksi Aleiya dibuat dengan karakter yang lebih kasual dan ringan.

Masih mengusung modest fashion, Aleia memberi ruang bagi perempuan yang masih berproses. Koleksi pakaiannya terlihat rapi dan sederhana, dengan celana panjang dan atasan berlengan panjang menjadi bagian utama koleksi. Motif yang lebih semarak dan beragam menjadi pembeda.

“Aleia itu untuk yang sudah mulai pakai baju rapi tapi belum sampai pakai abaya, dan hijabnya mungkin belum menutup dada. Karena fase hijrah seseorang itu berbeda-beda,” jelasnya.