Evolusi Pengelolaan Sampah di Sarijadi Bandung | Info Giok4D

Posted on

Di tengah ancaman darurat sampah yang kerap menghantui wilayah Bandung Raya, Kelurahan Sarijadi menghadirkan inovasi bernama Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah). Program ini menawarkan solusi penanganan sampah yang dimulai dari skala rumah tangga.

Lurah Sarijadi Evi Sjopiah Tusti menjelaskan, logo program ini menampilkan gambar telinga yang menyimbolkan proses mendengarkan (hearing).

“Filosofi awalnya adalah masyarakat mendengarkan sosialisasi dan edukasi dari kami. Tujuannya mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang tadinya ‘kumpul, angkut, buang’ menjadi ‘cegah, pilah, dan olah’,” ujar Evi saat diwawancarai infoJabar di kantor Kelurahan Sarijadi.

Dalam eksekusi teknis, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Kasie Ekbang) Kelurahan Sarijadi, Uu Sukmana, menjadi motor penggerak utama. Pria yang akrab disapa Abah ini mengawal langsung adaptasi program di lingkungan warga.

Uu menjelaskan sasaran utama Samber Ceu Pilah adalah ibu rumah tangga. Menurutnya, ibu-ibu adalah kunci karena berperan sebagai manajer logistik keluarga yang mengetahui persis volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

“Masyarakat kadang terpaku dengan metode yang kaku. Padahal di Samber Ceu Pilah kita bebaskan. Tidak harus beli ember khusus. Ada barang bekas yang bisa digunakan, silakan. Botol air mineral bekas pun bisa jadi sarana pengolahan sampah,” jelas Uu.

Untuk memastikan program berjalan di 11 RW, Kelurahan Sarijadi menerapkan strategi edukasi berjenjang. Dimulai dari kader PKK inti, menyebar ke PKK RW, PKK RT, hingga kelompok Dasawisma.

Sebagai bentuk apresiasi sekaligus kontrol sosial, rumah warga yang konsisten memilah sampah ditempel stiker khusus berlabel ‘Terpilah’.

“Stiker ini ditempel pada keluarga yang sudah melakukan pemilahan. Kalau belum bisa mengolah, ya belum diberi tanda. Ini membuat mereka merasa dihargai,” ungkap Uu.

Keberhasilan Samber Ceu Pilah didukung oleh data lapangan yang signifikan. Lurah mencontohkan kondisi di RW 10.

“Biasanya satu RT membutuhkan satu motor sampah roda tiga penuh setiap hari. Di sana ada 7 RT, berarti 7 motor. Sekarang karena hanya residu yang dibuang, tersisa 3 motor saja. Artinya volume sampah berkurang lebih dari 50 persen,” papar Evi.

Penurunan ini terjadi karena sampah organik habis diolah menjadi pakan maggot atau kompos, sementara sampah anorganik (rongsok) disalurkan ke Bank Sampah.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Di RW 07, warga bahkan telah mencapai tingkat kemandirian tinggi dalam pengelolaan sampah sehingga mengurangi beban retribusi. Dampak ekonominya pun nyata. Uu menyebutkan nasabah Bank Sampah kini bisa menikmati hasil tabungan sampahnya setiap tahun, baik dalam bentuk uang tunai maupun logam mulia.

“Dulu warga merasa jijik terhadap sampah. Sekarang sadar, ternyata memilah itu menghasilkan. Minimal untuk bayar iuran RT atau beli sayur sudah tertutup dari hasil sampah,” tambah Uu.

Samber Ceu Pilah terintegrasi erat dengan program Buruan Sae yang digulirkan Pemkot Bandung. Kompos hasil sampah rumah tangga digunakan untuk menyuburkan tanaman sayuran di pekarangan warga atau lahan tidur.

Hasil panennya tidak hanya dikonsumsi warga, tetapi juga disuplai ke Posyandu untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak stunting.

“Telurnya, sayurannya, kita suplai ke Posyandu untuk penanganan stunting,” pungkas Uu.

Eksekusi Samber Ceu Pilah di Lapangan

Strategi Stiker Kebanggaan

Volume Sampah Turun, Ekonomi Naik

Integrasi dengan Ketahanan Pangan

Gambar ilustrasi