Bandung Barat –
Tim SAR Gabungan masih bekerja keras menemukan sisa korban tertimbun longsor di Kampung Pasir Kuning, Pasir Kuda, dan Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sebelas hari berlalu sejak longsor menerjang pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, sudah ada 83 body pack yang berhasil dievakuasi. Kini, pencarian dilanjutkan lagi sampai masa tanggap darurat berakhir pada 6 Februari mendatang.
Pencarian korban longsor beberapa kali terhambat. Utamanya karena cuaca, material longsor berupa lumpur yang tebal, hingga adanya bebatuan yang ikut terbawa longsor dari puncak Gunung Burangrang.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Ya memang di worksite, tidak semua korban itu dengan mudah didapat, artinya yang menjadi hambatan adalah korban terhimpit oleh bebatuan yang besar dari Gunung Burangrang,” kata SAR Mission Coordinator (SMC), Ade Dian Permana, Selasa (3/2/2026).
Tubuh-tubuh korban yang terhimpit batu hingga gelondongan batang pohon, tak bisa sembarangan ditarik. Tim SAR gabungan mesti menggeser terlebih dahulu batu dan batang pohon yang menghalangi.
“Tim SAR gabungan itu berupaya keras untuk bisa menggeser atau mengangkat batu untuk bisa mengeluarkan korban tersebut, dan itu juga harus mengedepankan keamanan dan keselamatan tim di lapangan,” kata Ade Dian.
Namun keberadaan batu-batu berukuran jumbo itu tak sepenuhnya menjadi penghalang operasi. Ada juga sisi positifnya, misalnya untuk menghalangi laju lumpur karena jenuh air setiap hujan mengguyur.
“Jadi lumpur memang masih sering bergeser, misalnya saat lagi digali itu kondisi jenuh air, langsung geser. Nah kalau kita asal menggeser batu, itu bahaya buat petugas yang lagi evakuasi di bawahnya. Jadi batu ini menghalangi juga lumpur yang bergerak karena jenuh air,” kata Tatang, koordinator operator alat berat dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Laju lumpur dan potensi longsor susulan diakui Tatang masih menghantui operator alat berat. Setidaknya ada 13 operator alat berat yang ia komandoi. Ia mesti bisa memberikan arahan dan jaminan keamanan selama operasi berlangsung.
“Ya risiko besar, apalagi kalau hujan. Makanya kalau hujan dan ada kabut alat berat kita tarik. Paling yang operasi hanya satu atau dua alat. Lumpur juga kan tebal ini, kayaknya rata-rata di pinggir 5 meter,kalau di tengah lebih. Makanya kita belum berani injak ke tengah,” kata Tatang.
Sementara itu, Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Anjar Heriwaseso, menjelaskan jika lokasi longsor di Desa Pasirlangu berada di area pegunungan vulkanik tua.
Longsoran gawir mahkota teridentifikasi jelas pada ketinggian kurang lebih 2.000 Mdpl, dengan tinggi kurang lebih 80 meter, lebar kurang lebih 40 meter, lalu panjang aliran longsor hingga 3 kilometer.
“Pada bagian hulu, terlihat jejak tebing sangat curam yang terbentuk karena terjadinya longsoran akibat ketidakstabilan lereng, setelah batuan dan tanah yang ada di bawahnya tergerus kuat aliran air sehingga meninggalkan lembah berundak yang berbentuk V,” kata Anjar.







