Emak-emak Panyileukan Bandung Manfaatkan Sampah Organik untuk Pupuk

Posted on

Hujan dengan intensitas rendah sempat mengguyur kawasan Panyileukan pada Minggu (25/1/2026) pagi. Selepas hujan, sejumlah ibu rumah tangga di Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, tampak sibuk dengan kegiatan urban farming.

Mereka yang merupakan anggota Buruan SAE Bertoga Padepokan Hegar sibuk membersihkan daun kering dari tanaman sayur. Usai merawat tanaman, mereka menebar sampah organik kiriman warga ke tanah sebagai nutrisi alami.

Lokasi Buruan SAE ini memanfaatkan lahan tidur yang sebelumnya dipenuhi sampah rumah tangga. Tak hanya itu, beragam sampah yang mengeluarkan aroma tak sedap sempat menumpuk di tempat tersebut sebelum akhirnya ditata ulang.

Kini, lahan itu dibatasi pagar bambu dan ditanami beragam sayuran, mulai dari pakcoy, selada, terung, bayam, kangkung, tomat, hingga cabai. Untuk memberikan nutrisi bagi tanaman, anggota Buruan SAE memanfaatkan sampah organik yang dikumpulkan dari warga sekitar.

“Kami menampung sampah organik setiap hari. Bekas sayuran dari dapur yang belum dimasak bisa langsung dimasukkan ke tanah untuk menjadi pupuk,” kata Bendahara Buruan SAE Padepokan Hegar Ela Supriatin kepada infoJabar.

Ela mengungkapkan, untuk sampah dapur yang sudah diolah, nantinya akan dimasukkan ke lubang sisa dapur atau Loseda. “Kita tidak punya maggot, tapi ada Loseda. Sampahnya dimasukkan sampai terurai sendiri. Jika sudah menjadi kompos, nanti bisa digunakan untuk pupuk tanaman juga,” ungkapnya.

Di RW 09, hampir seluruh sampah organik sudah terolah. Bahkan, 50 persennya digunakan sebagai pupuk di area Buruan SAE tersebut. “Warga juga punya Loseda masing-masing. Kalau ke sini paling 50 persennya. Volumenya bisa belasan sampai puluhan kilogram,” ujar Ela.

Ia memastikan sampah organik yang masuk ke tempatnya sudah terpilah. Ela melarang keras sampah organik tercampur dengan sampah plastik. “Karena warga semakin sadar, sampah yang masuk sudah dipilah, tidak boleh tercampur plastik,” tegasnya.

Saat ini, tanaman terung di Buruan SAE tersebut sedang berbuah lebat. Warga diperbolehkan membeli hasil panen langsung di kebun dan memetiknya sendiri. “Bisa beli setiap saat ke sini. Selain untuk konsumsi, bisa jadi wisata petik sendiri. Ada sensasinya, bisa selfie*, bisa *refreshing,” terangnya.

Mengenai konsistensi program, Ela menekankan bahwa semuanya kembali pada kesadaran warga dalam menjaga lingkungan. “Kalau mau berhenti, harus berpikir dulu; sampah akan makin membeludak. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ucapnya.

Selain didukung Pemkot Bandung, Buruan SAE Bertoga Padepokan Hegar juga mendapatkan bantuan CSR BRI Peduli. Bantuan tersebut berupa instalasi hidroponik, tanah, serta bibit tanaman keras seperti mangga, lemon, dan sawo.

“Bantuan ini sangat membantu warga. Mereka yang mencari terung, pakcoy, dan lainnya tidak perlu lagi jauh-jauh ke pasar,” tambah Ela.

Program ini merupakan bagian dari CSR BRI ‘Yok Kita GAS’ (Gerakan Kelola Sampah) yang dilakukan BRI Regional Office Bandung. Program ini tidak hanya menghadirkan fasilitas, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran baru di kalangan masyarakat.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan program ini mendorong masyarakat untuk memahami pemilahan sampah dari rumah hingga mengelola limbah secara mandiri.

“Inovasi ini tidak hanya memberikan insentif langsung kepada masyarakat untuk mendaur ulang, tetapi juga mengubah paradigma publik terhadap sampah. Botol plastik yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini memiliki nilai ekonomi. Setiap individu berkesempatan menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,” kata Dhanny dikutip dari infoFinance.