Produk luar negeri kini masif menggempur pasar Indonesia, tak terkecuali di sektor kuliner. Namun, burbacek (bubur, rumbah, cecek) khas Kabupaten Indramayu tetap bertahan dengan ciri khasnya yang kuat.
Sekilas, burbacek terlihat seperti bubur pada umumnya. Namun, perpaduan rumbah dan cecek inilah yang menjaga eksistensi kuliner tersebut hingga kini. Perlu diketahui, rumbah merupakan sajian yang identik dengan kangkung dan tauge rebus yang disiram sambal kacang asin-pedas. Sementara itu, cecek adalah olahan kikil sapi yang berpadu dengan parutan kelapa serta cabai merah.
Kombinasi bubur, rumbah, dan cecek ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indramayu, termasuk generasi muda. Ratu (27), warga Kelurahan Margadadi, Indramayu, mengaku sangat menggemari burbacek.
“Harganya murah dan bikin kenyang,” ungkap Ratu kepada infoJabar saat menyantap burbacek di sebuah warung di Jalan Samsu, Kelurahan Margadadi, Senin (5/1/2026).
Satu porsi burbacek di warung tersebut hanya Rp8.000. Ratu mengaku sudah berlangganan sejak kecil karena lokasinya yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Senada dengan Ratu, Faisal (30), warga lainnya, menikmati burbacek karena kekayaan rasanya dalam sekali suap. “Kuah burbacek itu asin, mungkin ada sedikit terasi, lalu sambal rumbah yang pedas, dan cecek yang gurih. Semuanya menyatu dalam satu suapan,” terangnya.
Sayangnya, saat ini jumlah penjual burbacek di Kecamatan Indramayu bisa dihitung dengan jari. Faisal berharap para penjual yang ada tidak banting setir dan berharap jumlah pedagang makanan tradisional ini justru bertambah.
Mukidin (46), salah satu penjual burbacek, mengaku bangga bisa ikut melestarikan kuliner khas Bumi Wiralodra ini. Berdasarkan cerita turun-temurun, Mukidin menyebut burbacek dulunya adalah hidangan utama masyarakat Indramayu, terutama saat sarapan.
“Makan siang juga enak, tapi dulu umumnya orang sarapan pakai burbacek,” kata Mukidin kepada infoJabar, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan, burbacek telah menjadi identitas Indramayu sejak era pascakemerdekaan dan mulai lazim disajikan dalam acara syukuran. “Dulu, mereka yang menyajikan burbacek untuk syukuran dianggap sebagai orang kaya, misalnya keturunan Arab di Desa Dermayu,” tuturnya.
Sudah lebih dari 10 tahun Mukidin meneruskan usaha ibunya menjajakan burbacek. Ia berharap kuliner ini kembali menjadi primadona di semua kalangan, di tengah gempuran makanan luar negeri yang mulai menginvasi Indramayu.







