Drainase Tak Optimal Dianggap Jadi Biang Kerok Banjir Indramayu

Posted on

Indramayu

Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Indramayu beberapa waktu lalu kembali memicu banjir di sejumlah titik. Kondisi ini menyoroti sistem drainase perkotaan yang dinilai belum berfungsi maksimal.

Genangan air tampak merendam berbagai jalan protokol yang menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, di antaranya Jalan Pahlawan, Jalan DI Panjaitan, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan S Parman, Jalan RA Kartini, Jalan Tridaya Barat, hingga Jalan Yos Sudarso. Akibatnya, arus lalu lintas tersendat dan aktivitas warga terganggu.

Tak hanya ruas jalan, banjir juga merambah kawasan permukiman. Air dilaporkan masuk ke dalam rumah warga, menyebabkan ketidaknyamanan dan kerugian bagi masyarakat.

Yudi Mulyanto (31), warga Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu, mengeluhkan kondisi tersebut. Ia menilai banjir yang terjadi menunjukkan sistem pembuangan air tidak berjalan dengan baik.

“Banjir di mana-mana, ini tentu pembuangan airnya tidak lancar. Irigasi bermasalah, drainase bermasalah,” ujar Yudi saat ditemui di sebuah warung dekat rumahnya, Senin (2/2/2026).

Senada dengan Yudi, keluhan juga disampaikan Cipto (34), warga Margadadi lainnya. Menurutnya, persoalan banjir tidak hanya disebabkan oleh infrastruktur, tetapi juga kebiasaan masyarakat serta minimnya pengawasan dari dinas terkait.

“Kebiasaan hidup sehat juga berpengaruh, seperti buang sampah sembarangan di saluran air dan di sungai. Sampah menumpuk di saluran tersebut dan jarang dipantau oleh dinas terkait. Ketika banjir terjadi, salurannya baru dilihat, baru dicari masalahnya,” kata Cipto.

Ia menambahkan, apabila masyarakat tidak membuang sampah sembarangan dan dinas terkait melakukan pemantauan rutin, dampak banjir setidaknya dapat diminimalkan.

Sementara itu, Septian (29), warga lainnya, menyoroti keberadaan eceng gondok yang dinilai menghambat aliran air.

“Eceng gondok juga benar-benar mengganggu aliran air, ini benar-benar seperti diabaikan. Mungkin menunggu banjir datang dulu baru ditangani,” ujarnya.

Normalisasi Saluran Irigasi

Menanggapi keluhan warga, Pemerintah Kabupaten Indramayu memastikan akan melakukan penanganan melalui normalisasi saluran irigasi di wilayah perkotaan.

Pengerjaan ditargetkan dimulai dalam waktu dekat dengan target penyelesaian antara satu hingga tiga bulan.

Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menyampaikan hal tersebut saat meninjau langsung kondisi saluran irigasi di kawasan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Pembangunan, Kecamatan Indramayu beberapa waktu lalu. Di lokasi tersebut, saluran dipenuhi eceng gondok dan mengalami pendangkalan.

Lucky Hakim menegaskan bahwa eceng gondok menjadi salah satu penyebab utama tersendatnya aliran air.

“Eceng gondok yang sudah besar-besar ini kalau tidak segera dibersihkan akan memperburuk banjir di Indramayu,” tegas Lucky dalam keterangannya.

Banjir di IndramayuBanjir di Indramayu Foto: Burhannudin/

Menurut Lucky, saluran irigasi tersebut menampung aliran air dari kawasan permukiman warga, namun kondisinya kini dangkal.

Oleh karena itu, diperlukan normalisasi dengan pengerukan hingga kedalaman sekitar 2,5 meter agar aliran air kembali lancar.

“Kita ingin Indramayu memiliki drainase yang baik. Semua usulan akan kami tampung dan ditangani satu per satu. Kita usahakan semaksimal mungkin. Minimal satu sampai dua bulan ke depan penanganan sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Selain persoalan pendangkalan dan eceng gondok, Bupati Lucky juga menyoroti masih adanya bangunan liar berupa warung yang berdiri di atas saluran air.

Ia menegaskan bahwa saluran air tidak diperuntukkan sebagai lokasi bangunan, karena dapat menghambat aliran dan memicu banjir.

Ia mengimbau warga yang membangun di atas saluran air agar bersedia dipindahkan melalui pendekatan yang humanis dan komunikatif.

Menurutnya, penertiban bangunan perlu dilakukan agar proses normalisasi dapat berjalan lancar, dan ditargetkan segera dilaksanakan.

Peninjauan kemudian dilanjutkan ke kawasan Jalan Pembangunan, Kecamatan Indramayu. Di lokasi tersebut, aliran air menuju laut Karangsong terhambat akibat longsoran sungai, tumpukan sampah, serta eceng gondok.

“Air dari kota terhambat di tengah karena sedimentasi, sampah, dan eceng gondok. Kalau alur air lancar, eceng gondok tidak akan tumbuh. Artinya, saluran ini memang perlu dinormalisasi,” jelas Lucky.

Ia juga menegaskan bahwa meskipun di beberapa titik saluran irigasi terlihat lebar, aliran air tetap tidak optimal karena kedalamannya tidak memadai.

Oleh sebab itu, Pemkab Indramayu menargetkan pendalaman saluran hingga kedalaman konstan sekitar 4 meter sampai ke pintu air.

Halaman 2 dari 2