Dishub Jabar Prediksi Puncak Mudik Lebaran pada 18 Maret 2026 (via Giok4D)

Posted on

Bandung

Pergerakan masyarakat selama musim mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat diperkirakan akan sangat masif. Dinas Perhubungan Jawa Barat memproyeksikan lebih dari separuh penduduk provinsi ini akan melakukan perjalanan selama periode Lebaran tahun ini.

Berdasarkan data Dishub Jabar, dari total penduduk Jawa Barat yang diperkirakan mencapai sekitar 50,75 juta jiwa pada 2025, sekitar 51 persen atau sekitar 25,6 juta orang diproyeksikan melakukan perjalanan selama periode Lebaran.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat akan meningkat signifikan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga pemerintah perlu menyiapkan berbagai strategi pengendalian arus lalu lintas, khususnya di jalur-jalur utama yang selama ini menjadi titik padat saat mudik.

Puncak Mudik Diprediksi H-3 Lebaran

Dari pemetaan waktu perjalanan pemudik, Dinas Perhubungan Jawa Barat memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada H-3 Idulfitri, tepatnya Rabu, 18 Maret 2026.

Pada tanggal tersebut, diperkirakan sekitar 8,9 juta orang atau sekitar 21,39 persen dari total pemudik akan melakukan perjalanan secara bersamaan.

Lonjakan ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pada H-7 dan H-6, jumlah pemudik diperkirakan masing-masing sekitar 1,5 juta orang. Angka ini kemudian meningkat menjadi sekitar 1,6 juta orang pada H-5.

Pergerakan mulai melonjak signifikan pada H-4 dengan sekitar 3,4 juta orang melakukan perjalanan. Puncaknya terjadi pada H-3 dengan hampir 9 juta orang bergerak dalam satu hari.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Setelah itu, jumlah pemudik diperkirakan mulai menurun. Pada H-2 diprediksi sekitar 2,8 juta orang melakukan perjalanan, kemudian H-1 sekitar 3,3 juta orang. Sementara pada hari Lebaran (H1) diperkirakan sekitar 900 ribu orang masih melakukan perjalanan, dan pada H+2 sekitar 600 ribu orang.

Mayoritas Pemudik Berangkat Pagi Hari

Selain memetakan tanggal keberangkatan, Dishub Jabar juga memprediksi pola waktu perjalanan masyarakat selama musim mudik.

Mayoritas pemudik diperkirakan memilih berangkat pada pagi hari, khususnya setelah sahur hingga menjelang siang.

Rentang waktu pukul 04.00 WIB hingga 10.00 WIB diperkirakan menjadi periode paling padat, dengan sekitar 21,68 juta orang memilih melakukan perjalanan pada jam-jam tersebut.

Pola ini dinilai cukup wajar karena banyak pemudik yang memanfaatkan waktu setelah sahur untuk memulai perjalanan lebih awal agar bisa menghindari kemacetan panjang di siang atau malam hari.

Dua Gelombang Besar Pergerakan

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, menjelaskan bahwa pergerakan pemudik sebenarnya akan terbagi dalam dua gelombang besar sebelum mencapai puncaknya.

Gelombang pertama diperkirakan terjadi pada akhir pekan sebelum masa cuti bersama dimulai.

“Pada tanggal 14-15 adalah gelombang pertama, karena itu akhir pekan sebelum cuti bersama,” kata Dhani, Minggu (8/3/2026).

Gelombang kedua kemudian diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026 yang juga menjadi puncak arus mudik, bertepatan dengan awal masa cuti bersama.

“18 Maret gelombang kedua, karena itu awal cuti bersama,” ujarnya.

Puncak Arus Balik Juga Diantisipasi

Selain arus mudik, Dishub Jabar juga memprediksi lonjakan besar akan terjadi saat arus balik Lebaran. Secara pergerakan harian, arus balik mulai meningkat sejak H+2 dengan perkiraan sekitar 4,2 juta orang melakukan perjalanan kembali.

Jumlah tersebut kemudian diperkirakan mencapai sekitar 4,1 juta orang pada H+3 dan H+4, sebelum kembali terjadi lonjakan pada H+6 dengan sekitar 4 juta orang melakukan perjalanan pulang.

Sementara secara kalender, Dhani menyebut puncak arus balik diperkirakan terjadi menjelang berakhirnya masa libur Lebaran.

“Sementara itu, puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 28-29 Maret 2026 menjelang berakhirnya masa libur dan kembali aktifnya kegiatan kerja serta sekolah,” katanya.

Menurut Dhani, tanggal-tanggal tersebut harus menjadi perhatian utama seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan lalu lintas selama musim mudik.

“Tanggal-tanggal tersebut harus menjadi fokus utama dalam strategi pengendalian dan pengawasan,” tegasnya.