Dipalang Kayu, Penampakan Tangga Menara Pandang Alun-alun Gadobangkong | Giok4D

Posted on

Sukabumi

Pemandangan kontras terlihat di kawasan Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di balik kemegahan kawasan yang menelan anggaran hingga belasan miliar rupiah tersebut, akses menuju fasilitas utamanya justru tertutup rapat.

Bukan oleh pagar besi atau tali pengaman resmi, tangga menuju dek pandang (viewing deck) atau dek selfie itu dipalang menggunakan balok kayu dan bambu bekas seadanya.

Palang tersebut dipasang melintang tepat di mulut tangga, menjadi penanda keras bahwa area di lantai dua itu dilarang keras untuk diinjak oleh siapa pun karena alasan keselamatan.

Padahal, area tersebut digadang-gadang sebagai spot terbaik bagi wisatawan untuk menikmati panorama laut Palabuhanratu dari ketinggian. Namun faktanya, sejak diserahterimakan, fasilitas ini seolah mati suri.

Di bagian bawah dek, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Area kolong bangunan yang terbuka justru dipenuhi tumpukan barang-barang tak terpakai di antara tiang penyangga beton, menambah kesan kumuh pada bangunan yang belum lama rampung tersebut.

Kondisi ini menjadi ironi di tengah besarnya ekspektasi warga terhadap proyek revitalisasi pantai tersebut. Acep (45), warga sekitar, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut fasilitas mewah itu hanya berfungsi seumur jagung.

“Sayang sekali, padahal biayanya kan mahal belasan miliar. Waktu itu habis peresmian memang sempat dibuka, warga antusias naik. Tapi paling cuma bertahan sekitar dua mingguan,” tutur Asep.

Setelah dua pekan singkat itu, akses ke atas langsung ditutup total. Menurut Asep, penutupan dilakukan karena bangunan dinilai tidak aman saat dinaiki banyak orang.

Titik menara pandang di kawasan Alun-alun Gadobangkong yang tidak berfungsi sesuai peruntukannya karena alasan keamanan Foto: Syahdan Alamsyah/

“Habis itu dipalang kayu begini sampai sekarang. Katanya bahaya. Jadi cuma bisa lihat dari bawah saja, mau selfie di atas enggak bisa. Mubazir jadinya,” keluhnya.

Keraguan akan kualitas bangunan juga dirasakan Diwan (38). Saat berolahraga di area tersebut, ia mengaku ngeri melihat struktur tiang beton penyangga yang tampak tidak presisi.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Kalau dilihat dari bawah juga ngeri. Itu tiang-tiangnya kayak enggak sinkron, beda-beda ukurannya. Wajar kalau ditutup juga, takut ambruk kalau dinaiki orang banyak,” ujar Ujang sambil menunjuk pilar beton di bawah dek.

Kekhawatiran warga dan pemalangan akses tangga itu ternyata bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, secara blak-blakan mengakui bahwa konstruksi dek selfie tersebut memang bermasalah.

“Langkahnya pasti kita akan rapatkan kembali. Sebetulnya kemarin kan sudah ketahuan mana titik lemahnya. Seperti dek selfie ya, ini juga harus perbaikan. Kita kan enggak berani naik ke atas,” tegas Ade Suryaman saat meninjau lokasi.

Ade menjelaskan, aset Gadobangkong ini diserahterimakan dari Pemprov Jabar ke Pemkab Sukabumi pada September 2024. Namun, sejak awal serah terima, pihaknya sudah memberikan catatan tebal terkait kualitas pengerjaan yang dinilai belum sempurna.

“Sebetulnya dari pihak pemerintah provinsi sudah diserahkan ke kabupaten waktu itu. Tapi kita ada catatan khusus. Jadi waktu itu mungkin dalam pengerjaan masih yang belum sempurna,” pungkasnya.