Kuningan –
Anak-anak sekolah di Kabupaten Kuningan terpaksa melewati medan berat demi bisa sampai ke sekolah. Jalan yang tertutup longsoran tanah memaksa mereka berjalan kaki, bahkan harus mendaki timbunan material longsor yang menutup akses utama warga.
Peristiwa tersebut terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam video yang dilihat pada Jumat (6/2/2026), tampak sejumlah siswa berseragam pramuka dan batik berjalan perlahan menapaki longsoran tanah. Sebagian dari mereka melepas sepatu agar lebih mudah melangkah di tanah yang labil.
Di sekitar lokasi terlihat dahan dan daun pohon yang ikut tumbang terbawa longsor. Sementara di bagian atas tebing, sebuah alat berat tampak mengeruk material tanah yang menutup jalan.
Berdasarkan keterangan dalam video, peristiwa itu terjadi di Kampung Pamuruyan, Desa Ciwaru, Kabupaten Kuningan.
“Hayu hayu, hese iya mah gusti. (Ayo ayo, susah ini mah,” tutur suara dalam video tersebut.
Kasi Kesejahteraan Desa Ciwaru, Didi Wardi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan jalan yang tertutup longsor merupakan satu-satunya akses penghubung warga antara Blok Pamuruyan dan Dusun Cisereh.
“Iya betul. Karena memang itu akses jalan satu-satunya yang menghubungkan Dusun Pamuruyan Blok Pamuruyan dengan Dusun Cisereh. Masih sama-sama di Ciwaru. Siswa yang melintas di situ ada yang dari SD Ciwaru 4, sama SMP dan SMA Ciwaru,” tutur Didi.
Menurutnya, longsor berasal dari tebing perbukitan di sisi jalan. Sepanjang Januari 2026, tebing tersebut telah mengalami longsor sebanyak tiga kali.
“Longsornya terjadi di bulan Januari terjadi tiga kali, sudah lebih dari seminggu. Memang longsornya lumayan banyak, soalnya bukitnya tinggi sekitar 11 meter. TPT juga ikut terbawa longsoran sekitar 40 meteran. Tidak ada rumah terdampak, soalnya itu jauh dari pemukiman,” tutur Didi.
Material longsor menutup badan jalan sepanjang kurang lebih 15 meter. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun merusak rumah warga, akses transportasi warga sempat terputus.
Saat ini, proses pembersihan masih berlangsung dengan bantuan alat berat dari Dinas PUTR. Selain pembersihan, juga dilakukan pembuatan terasering untuk mencegah longsor susulan.
“Sekarang dibantu dinas PUTR untuk pembuatan terasering untuk mencegah longsor lagi. Itu urugan yang menutupi jalan bukan longsoran baru, tapi dari urugan beko yang diturunin. Jadi sementara menutup jalan dulu. Nggak bisa sekaligus bersih. Sekarang lagi dalam proses pengerjaan. Jadi otomatis jatuhnya ke jalanan,” tutur Didi.
Karena kondisi jalan masih berbahaya, warga diimbau tidak melintas menggunakan kendaraan. Untuk sementara, kendaraan disimpan di luar area longsor.
“Kami sudah menghimbau kepada warga Pamuruyan yang terputus jalanya itu untuk sementara jangan masuk dulu ke kampung. Jadi kendaraan semua disimpan di luar longsoran. Kebetulan ada lahan warga yang bisa dimanfaatkan untuk parkiran. Untuk mencegah kecelakaan juga, sebagai antisipasi,” tutur Didi.
Ia memperkirakan proses pengerukan material dan pembangunan terasering membutuhkan waktu lebih dari satu minggu, bergantung pada kondisi cuaca dan stabilitas tanah.
“Kalau untuk pengerukan dan pembuatan terasering itu bisa sekitar satu, dua minggu tergantung cuaca. Karena itu jalan bawahnya juga sudah turun, jadi mau dipasang TPT juga. Selagi masih dalam pengerjaan otomatis lalu lintas terhambat. Karena lumpur masih menutupi jalan. Tapi untuk akses jalan kaki masih bisa,” pungkas Didi.







