Layar gawai masyarakat Indonesia belakangan ini tidak lagi didominasi semata oleh gelombang budaya Korea. Sebuah pergeseran halus namun signifikan tengah terjadi di ruang-ruang publik. Kini, semakin mudah ditemui layar ponsel yang menampilkan aktor berbusana kolosal melayang dengan latar pegunungan berkabut, atau kisah ‘CEO Muda’ dengan estetika visual tajam.
Inilah era kebangkitan Drama China, atau kerap disebut Dracin, yang kini menjadi salah satu tontonan paling digandrungi di tanah air. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikasi perubahan selera konsumsi konten digital masyarakat yang didukung oleh algoritma media sosial dan kemudahan akses platform streaming.
Dracin merujuk pada serial televisi yang diproduksi di Tiongkok Daratan. Berbeda dengan sinetron lokal, industri ini didukung oleh modal raksasa dan teknologi produksi tingkat tinggi. Kehadiran platform video dalam jaringan seperti WeTV dan iQIYI menjadi gerbang utama masuknya konten ini ke Indonesia.
Laporan Media Partners Asia (MPA) mencatat bahwa konten Asia, khususnya Mandarin, menjadi pendorong utama pertumbuhan konsumsi video premium di Asia Tenggara. Strategi mereka terbilang cerdik, menyediakan model freemium (gratis dengan iklan) yang sangat ramah bagi kantong masyarakat Indonesia, berbeda dengan kompetitor Barat yang umumnya mewajibkan langganan berbayar penuh sejak awal.
Satu hal yang menarik dari tren ini adalah pergeseran demografi penonton. Jika drama Asia identik dengan kaum hawa, Dracin justru kini juga sukses memikat sebagian kaum adam. Hal ini diperkuat melalui pengakuan selebritas Desta Mahendra. Dalam sebuah tayangan podcast di YouTube, presenter kondang ini secara terbuka mengakui kegemarannya menonton Dracin, mematahkan stigma bahwa drama hanya untuk wanita. Pada kesempatan itu, Desta bahkan blak-blakan sampai membayar agar bisa menyaksikan setiap episode dari Drama China itu.
Padahal, menurut Desta, Drama China yang disaksikannya itu memiliki akting yang kurang dan cerita yang umum.Namun entah mengapa, Desta mengaku tak bisa berhenti untuk penasaran dan menyaksikannya.
“Gue sampai beli loh, series-series yang aktingnya jelek banget. Cuman ceritanya standar, tapi kok pengen tahu terus gitu,” beber Desta.
Tak hanya Desta, media sosial TikTok juga merekam fenomena unik di kalangan bapak-bapak. Akun @jaxulrajinmengajiii sempat mengunggah konten viral bertajuk “Top 3 Dracin Rekomendasi Bapak-bapak”. Judul-judul yang disebut pun terdengar bombastis khas mini-drama vertikal, seperti “Istriku Tiga Takdirku Gila”, “Si Lemah Penyelamat Dunia”, dan “Dewa Pedang Diantara Kami”.
“Sumpah ini harus ditonton,” ucap pemilik akun tersebut dalam video yang diunggahnya.
Kolom komentar unggahan tersebut pun banjir rekomendasi serupa dari warganet pria lainnya. “Sang Naga Kembali Dracin yang is the best, Bang,” tulis akun @alen_lemon.
Sementara akun @saffstore44 menambahkan daftar favoritnya, “Gua sih: 1. “Petani Menjadi Suami”, 2. “Si Lemah Penyelamat Dunia”, 3. “Hitungan Mundur Terakhir”.”
Setiap tren memiliki dampak yang perlu dicermati. Popularitas Dracin yang meroket perlu dicermati dampaknya terhadap pola konsumsi waktu, seperti peningkatan aktivitas menonton maraton yang berpotensi menurunkan produktivitas.
Di kalangan pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek daring (ojol), konsumsi berlebihan ini menjadi isu serius. Durasi episode yang panjang atau format video pendek yang terus bergulir memaksa penonton untuk terus menatap layar.
Melansir laporan infoInet, seorang pengemudi ojol dengan akun TikTok @ubbuyadi98 membagikan kisah pilunya. Pendapatannya anjlok drastis bukan karena sepi penumpang, melainkan akibat kebiasaan barunya mencandu serial drama asal Tiongkok tersebut. Dalam video curhatannya, ia menceritakan bagaimana fokusnya teralihkan.
“Gara-gara saya nonton itu. Biasanya saya ojek sehari bisa dapat Rp 300 ribu. Gara-gara saya nonton drama China, saya habiskan waktu sampai 3 jam, 2 jam… Akhirnya pendapatan sehari kadang cuma Rp 100 ribu,” ujarnya sembari tertawa getir, menertawakan ironi yang dialaminya sendiri.
Selain itu, ada yang mengaku bahwa pola tidur pun terganggu. Algoritma iklan di media sosial kerap memunculkan potongan klip drama (biasanya berdurasi 5-10 menit) di momen krusial menjelang tidur. Akun TikTok @wildigar membagikan pengalamannya terjebak dalam lingkaran setan ini.
“Lu pernah gak sih gak jadi tidur gara-gara lu kena drama China? Itu kejadian gue tadi malam. Gue lagi scroll-scroll tiba-tiba ada iklan drama China. Sebenernya ceritanya expected (mudah ditebak), tapi kok seru ya? Ternyata anaknya dari jenderal siapa, ah gitu deh pokoknya,” ungkapnya.
Rasa penasaran memaksanya mencari kelanjutan cerita di platform lain hingga larut malam. “Yang gue gedek adalah kenapa gue tontonin Dracin-nya sampe abis, jadinya tidurnya jam 1 karena gue cari lagi di Youtube, sampe gue kelarin tuh 3 jam,” tambahnya.
Fenomena korban iklan ini ternyata dialami banyak orang. Dokter muda sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ayman Alatas (@aymanalats), juga mengaku mengalami hal serupa.
“Kenapa iklan drama China bikin gue ketagihan, sampe gue nyari gak ada kelanjutan, tapi penasaran dan ikut emosi,” akunya.Komentar netizen pun membenarkan betapa kuatnya magnet drama ini. “Sebenernya ceritanya cringe banget, tapi kenapa nagih banget,” ujar akun @ro.seyna.
Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Uses and Gratifications Theory. Audiens mencari media untuk memenuhi kebutuhan pelepasan. Dracin, dengan visual memukau dan plot cerita seperti dari orang biasa menjadi dewa/kaya raya, memberikan kepuasan instan yang membebaskan penonton sejenak dari realitas hidup yang berat.
Kini, Dracin telah menjelma menjadi fenomena sosiokultural yang mengubah peta demografi penonton di Indonesia. Kehadiran platform digital menjadikan hiburan ini primadona baru. Namun, kebijaksanaan dalam mengonsumsi konten tetaplah kunci. Bagi para penikmatnya baik itu ojol, pekerja kantoran, maupun bapak-bapak di pos ronda, tantangan terbesarnya kini bukanlah melawan musuh di medan perang Wuxia, melainkan melawan keinginan menekan tombol “Next Episode” demi menjaga produktivitas esok hari.
