Kayuhan becak itu terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh deru kendaraan bermotor yang mendominasi jalanan. Namun bagi para penarik becak, setiap putaran roda bukan sekadar usaha mencari penumpang, melainkan cara bertahan hidup di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat.
Di balik tubuh yang menua dan becak yang sederhana, tersimpan keteguhan yang terus dijaga. Saat transportasi modern kian menggeser peran becak, para pengayuhnya memilih bertahan, menggantungkan harapan pada kerja keras dan kesabaran yang dijalani hari demi hari.
Salah satunya Nana. Di usia 60 tahun, hidupnya nyaris tak terpisahkan dari becak yang ia kayuh. Puluhan tahun telah dihabiskannya menyusuri kawasan Bojongsoang, mengantar penumpang dari satu sudut ke sudut lain.
“Alasannya jadi tukang becak ya, tidak ada alasan khusus. Memang sudah takdirnya mungkin begini jalannya,” ujarnya pelan saat berbincang dengan infoJabar (7/1/2026).
Perubahan zaman terasa nyata baginya. Jalanan yang dulu lengang kini dipenuhi kendaraan bermotor dan layanan transportasi berbasis aplikasi. Becak yang ia kayuh seolah tertinggal, berjalan perlahan ketika dunia melaju kencang.
“Pas ada transportasi online itu perubahan parah sekali. Penumpang banyak yang pindah ke motor, ada juga yang sekarang sudah punya kendaraan sendiri kan. Tapi ya diusahakan sedikit-sedikit saja, yang penting gerak,” kenang Nana.
Penurunan pendapatan tak sekadar ia rasakan, tetapi juga ia hitung. Memasuki tahun 2025 lalu, kondisi ekonomi semakin terasa berat. Awal 2026 pun belum memberi banyak harapan.
“Kalau dulu biasanya minimal dapat lima penumpang sehari. Sekarang, dapat dua saja sudah syukur, bahkan kadang satu pun belum tentu ada,” tuturnya.
Beban itu kian berat karena becak yang ia gunakan bukan miliknya sendiri. Setiap hari, ia masih harus menyisihkan penghasilan untuk membayar sewa.
“Ini becak bukan punya saya, tapi nyewa,” tambahnya singkat.
Setiap hari Nana mulai mangkal sejak pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Ia menunggu dengan sabar, meski tak selalu ada penumpang yang datang. Tarif yang ia patok pun sederhana, jauh dari harga transportasi modern.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Penumpang paling minimal kalau satu jalan itu sepuluh ribu rupiah. Tapi ya kadang-kadang ada yang cuma kasih tiga ribu atau enam ribu. Kayak sekarang ini, dari pagi baru dapat satu penumpang, belum dapat lagi,” katanya sambil menatap arus kendaraan di jalan raya.
Alih-alih marah atau menyalahkan keadaan, Nana justru menerima perubahan dengan lapang dada. Baginya, setiap orang sudah memiliki jalan hidup masing-masing.
“Penghasilan belum tentu cukup kalau cuma sepuluh ribu sehari. Kalau sepi, ya saya sampingan markirin kendaraan aja. Bertahan ya karena sudah tua juga, gak ada motor mau kerja di perusahaan mana lagi, mau bilang apa, jalani saja,” ujarnya.
Tantangan terberat baginya bukanlah usia atau tenaga yang semakin terbatas, melainkan kebutuhan hidup yang tak bisa menunggu.
“Tantangan terberat ya ekonomi saja, buat makan sehari-hari,” akuinya jujur.
Di tengah kerasnya kehidupan jalanan, Nana masih menyimpan satu pegangan yang membuatnya terus bertahan. Bagi pria ini, becak bukan sekadar alat kerja, melainkan simbol tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
“Arti pekerjaan ini ya buat istri aja. Memberi nafkah, buat makan. Itu tujuan utamanya,” ucapnya dengan mata yang mulai berkaca.
Puluhan tahun mengayuh becak mengajarkannya bahwa kekuatan sejati bukan hanya soal fisik, tetapi juga keteguhan batin. Ia percaya, setiap rupiah yang dibawanya pulang tak lepas dari doa sang istri.
“Pesan saya buat sesama penarik becak atau siapa pun, yang penting itu tabah dan sabar menghadapi cobaan. Usaha terus, nanti juga rezekinya ada. Pelajaran hidup yang paling berharga bagi saya ya cuma satu, doa istri. Itu yang bikin saya kuat.” ungkapnya.
Nana tak tahu apakah esok akan lebih baik dari hari ini. Namun selama kakinya masih mampu mengayuh, ia memilih terus bergerak, menjemput takdir dengan kepala tegak di tengah hiruk-pikuk modernitas.
