Cirebon –
Kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpa Vina (23), warga Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, menjadi perhatian serius Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Perhatian itu disampaikan langsung di hadapan ribuan warga saat gelaran Safari Ramadhan di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (28/2/2026) malam. Dedi memastikan telah berkomunikasi langsung dengan Vina dan siap menangani persoalan tersebut.
“Aspek komunikasi, insyaallah nanti ditangani. Akan dijemput seperti warga yang lain ketika di luar negeri. Nanti saya sampaikan ke Bupati datanya,” ujar Dedi.
Dedi juga menyinggung fenomena perempuan Jawa Barat yang tergiur janji pernikahan dengan mahar besar di luar negeri. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbuai iming-iming materi.
“Banyak sekali perempuan Jawa Barat yang mudah tergoda oleh janji uang, janji dinikahi dengan mahar yang mewah. Pada akhirnya, seluruh janji itu tidak ditepati, seperti janjinya politisi,” ucapnya.
Dedi juga berpesan agar masyarakat lebih waspada terhadap modus perdagangan orang berkedok pernikahan.
Dedi juga menegaskan komitmennya untuk mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan.
“Saya tidak akan pernah memimpin dengan membicarakan dari mana partainya, dari mana golongannya, dari mana ormasnya. Seluruh atribut itu hilang ketika kita jadi pemimpin. Yang ada hanya satu kepentingan rakyat harus lebih utama dari kepentingan pribadi,” tegasnya.
Vina sendiri diketahui telah melakukan panggilan video dengan Dedi selama sekitar 25 menit pada hari yang sama. Dalam percakapan tersebut, Vina juga mengaku sempat ditegur oleh Dedi.
“Dia sempat marahin Vina, katanya kenapa mau. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga,” tuturnya.
Meski begitu, Vina mengaku mendapat dukungan moral. Ia bahkan diminta mengirimkan lokasi dan nomor pihak yang diduga terlibat.
“Disuruh sharelock, kirim nomor pelaku sama kontak,” katanya.
Dedi pun menenangkan Vina dan memastikan akan ada pendampingan dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
“Katanya, tenang saja. Kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat,” ujar Vina menirukan ucapan Dedi.
Sekadar diketahui kasus ini bermula dari perkenalan Vina dengan seorang pria saat bekerja di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Sejak awal, ia mengetahui adanya ajakan menikah, namun mengaku tidak menyadari adanya dugaan sindikat.
Setibanya di China, situasi berubah. Vina mengaku mendapat ancaman saat mencoba membatalkan pernikahan. Bahkan, ia sempat melarikan diri hingga diketahui oleh polisi setempat.
Kasus ini mencuat setelah video Vina menangis dan meminta pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat viral di media sosial.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun berjanji akan mengawal proses ini hingga tuntas, sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran pernikahan instan dengan iming-iming kemewahan di luar negeri.







