Daop 3 Petakan Titik Rawan, 53 Perlintasan KA di Indramayu Tak Terjaga

Posted on

Indramayu

Perlintasan kereta api sebidang yang tidak terjaga masih menjadi salah satu potensi kerawanan keselamatan di wilayah Kabupaten Indramayu. Hingga akhir 2025, data menunjukkan terdapat 53 perlintasan sebidang yang tidak terjaga di wilayah kerja PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon, yang mencakup Kabupaten Indramayu sebagai salah satu wilayah utamanya.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 3 Cirebon sendiri telah memetakan sejumlah titik rawan kecelakaan dan bencana di sepanjang jalur rel menjelang masa Angkutan Lebaran 2026. Salah satu potensi kerawanan yang menjadi perhatian adalah banyaknya perlintasan sebidang yang tidak terjaga.

Manager Humas Daop 3 Cirebon Muhibbuddin mengatakan lintasan kereta api rawan kecelakaan di wilayah Daop 3 Cirebon didominasi oleh perlintasan tersebut. “Lintasan kereta api rawan kecelakaan di Daop 3 Cirebon didominasi oleh 53 perlintasan sebidang tak terjaga dari total 166 titik, terutama di area padat pemukiman dan pertanian,” kata Muhibbuddin saat ditemui di Stasiun Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan, titik rawan kecelakaan kerap terjadi di perlintasan sebidang yang tidak dijaga maupun perlintasan liar yang berada di kawasan pemukiman dan pertanian. Beberapa wilayah yang sering menjadi titik rawan di antaranya berada di jalur Haurgeulis-Cilegeh, Terisi-Jatibarang, hingga Ciledug-Ketanggungan.

Selain potensi kecelakaan di perlintasan, Daop 3 Cirebon juga memetakan sejumlah wilayah rawan bencana seperti longsor, tanah labil, dan banjir di sepanjang jalur kereta api.

Titik rawan tersebut antara lain berada di kilometer 138+500 hingga 139+000 serta kilometer 141+000 hingga 141+100 pada petak jalan Stasiun Haurgeulis-Cilegeh. Kemudian di kilometer 149+700 hingga 150+700 pada petak jalan Stasiun Cilegeh-Kedokangabus.

Selanjutnya di kilometer 175+000 hingga 176+200 pada petak jalan Stasiun Terisi-Jatibarang, serta di kilometer 277+500 hingga 278+600 pada petak jalan Stasiun Larangan-Songgom.

Selain itu terdapat pula sejumlah titik rawan lainnya, yaitu di kilometer 174+248, kilometer 177+542, kilometer 185+210, kilometer 187+603 pada jalur Tanggung-Losari, kilometer 161+644 pada jalur Brebes-Tegal, serta kilometer 252+664 dan kilometer 264+7/8 pada jalur Ciledug-Ketanggungan.

Muhibbuddin menjelaskan, kecelakaan di perlintasan kereta api umumnya dipicu oleh beberapa faktor, terutama ketidakpatuhan pengguna jalan.

Menurutnya, masih banyak pengendara yang menerobos palang pintu atau tidak berhenti saat melintas di perlintasan yang tidak dijaga. Selain itu, aktivitas warga di sekitar rel juga masih kerap ditemukan.

“Banyak yang menerobos. Padahal mobil pemadam kebakaran saja harus berhenti ketika ada kereta lewat, apalagi yang lainnya. Kemudian juga masih ditemukan warga yang beraktivitas di sepanjang jalur rel, seperti berjalan kaki maupun kegiatan lain seperti ngabuburit,” ujarnya.

Faktor lain yang turut memicu kecelakaan adalah kelengahan pengguna jalan serta pandangan yang terhalang. Beberapa pengendara diketahui menggunakan telepon genggam saat melintas, salah memperkirakan jarak kereta, atau memiliki jarak pandang yang terbatas di perlintasan.

Untuk meminimalkan potensi kecelakaan, PT KAI Daop 3 Cirebon terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Di antaranya dengan menutup perlintasan ilegal, memasang spanduk peringatan di titik rawan, serta melakukan normalisasi saluran air di sejumlah lokasi yang berpotensi longsor atau banjir.

Upaya tersebut dilakukan guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api sekaligus mengantisipasi meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang masa Angkutan Lebaran 2026.

Posko Angkutan Lebaran

Sementara itu, menjelang masa Angkutan Lebaran 2026, berbagai persiapan juga terus dimatangkan di wilayah PT KAI Daop 3 Cirebon. Salah satunya terlihat di Stasiun Jatibarang, Kabupaten Indramayu, yang mulai menyiapkan posko serta berbagai fasilitas pendukung guna memastikan perjalanan pemudik berjalan aman dan lancar.

Muhibbuddin mengatakan, pada masa Angkutan Lebaran nanti akan dibentuk Posko Angkutan Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Posko tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kementerian Perhubungan, direksi, hingga manajemen KAI Daop 3 Cirebon.

“Posko Angkutan Lebaran akan berlangsung mulai 13 Maret hingga 30 Maret, sehingga total masa operasionalnya sekitar 18 hari,” katanya.

Ia menjelaskan, berbagai persiapan telah dilakukan jauh hari sebelumnya, mulai dari perawatan sarana dan prasarana hingga pemeriksaan keselamatan untuk memastikan operasional kereta api tetap andal selama masa mudik.

Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui kegiatan ramp check oleh Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Bandung. Ramp check mencakup pemeriksaan sarana seperti lokomotif, kereta, dan gerbong, serta prasarana meliputi stasiun, wesel, hingga jalur rel.

Selain itu, KAI Daop 3 Cirebon juga menyiapkan Alat Material Untuk Siaga (AMUS) yang ditempatkan di beberapa titik strategis. Peralatan ini disiapkan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan pada perjalanan kereta api.

“Material yang disiapkan ini untuk kondisi siaga apabila terjadi kendala operasional, sehingga penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” ujar Muhibbuddin.

Dalam mendukung operasional selama masa mudik, KAI Daop 3 Cirebon menyiapkan 15 lokomotif yang terdiri dari 13 lokomotif operasional dan dua lokomotif cadangan. Sementara itu, untuk kereta penumpang tersedia 92 unit kereta atau gerbong.

KAI juga menyiagakan satu kereta penolong jenis Railway Crane serta satu kereta penolong NR (NoodHulp Rijtuig) yang ditempatkan di wilayah Jatibarang dan Haurgeulis sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan perjalanan.

Lonjakan Penumpang

Dari sisi layanan penumpang, Daop 3 Cirebon menyediakan 102.300 tiket selama masa Angkutan Lebaran. Hingga saat ini, sebanyak 41.000 tiket telah terjual, sementara sekitar 61.000 tiket masih tersedia dengan tingkat okupansi sementara mencapai 40,4 persen.

Secara nasional, puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 18 Maret, sedangkan puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 28 Maret.

Sementara itu, data sementara menunjukkan aktivitas penumpang di sejumlah stasiun di wilayah Daop 3 Cirebon mulai meningkat. Di Stasiun Jatibarang tercatat sebanyak 10.019 penumpang naik dan 13.200 penumpang turun selama periode Angkutan Lebaran 11 Maret hingga 1 April.

Sedangkan di Stasiun Haurgeulis, jumlah penumpang yang naik tercatat 5.300 orang, sementara penumpang yang turun mencapai 6.600 orang.

Di sisi lain, Operator Stasiun Jatibarang, Yusef, mengatakan pihaknya juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk posko keamanan dan layanan kesehatan di area stasiun.

“Kami berharap sampai nanti waktunya tiba seluruh operasional dapat berjalan lancar. Pada masa Angkutan Lebaran juga akan didirikan posko, termasuk posko dari kepolisian,” ujar Yusef.

Menurutnya, posko kepolisian akan ditempatkan di bagian depan stasiun. Penempatan ini dilakukan karena keterbatasan ruang, sehingga posko yang biasanya berada di luar area kini ditempatkan di dalam stasiun.

Keberadaan posko tersebut difokuskan untuk mendukung aspek keamanan selama masa arus mudik. Selain itu, layanan kesehatan juga disiapkan di area stasiun agar dapat segera membantu penumpang apabila diperlukan.

Dengan berbagai persiapan tersebut, KAI Daop 3 Cirebon berharap perjalanan masyarakat yang menggunakan kereta api selama masa mudik Lebaran dapat berlangsung aman, nyaman, dan lancar.