Jakarta –
Dawn Wickhorst (33), seorang ibu tunggal dengan lima anak, menceritakan kepiluannya menjadi ibu pengganti (surrogate mother). Ia mengaku merasa “tak terlihat dan sangat kesepian” selama menjalani proses tersebut.
Dawn memutuskan menjadi ibu pengganti pada 2019 setelah melihat banyak pasangan kesulitan memiliki anak secara alami. Meski berniat mulia, perempuan asal Alberta, Kanada, yang berprofesi sebagai fotografer ini menegaskan bahwa perjalanannya jauh dari kata mudah.
Sebagai orang tua asuh yang mengandung bayi untuk dua pasangan berbeda, Dawn melewati seluruh prosesnya seorang diri. Kondisi ini membuatnya merasa terisolasi secara emosional.
“Sebagai ibu pengganti, kamu adalah sosok krusial karena mengandung dan melahirkan bayi ini ke dunia,” terang Dawn, dikutip dari Daily Mail.
“Namun di saat yang sama, kamu bukan bagian dari keluarga itu. Saat pasangan tersebut sibuk berbahagia menyambut anggota keluarga baru, kamu justru sendirian,” sambungnya.
Selama hamil, Dawn harus tetap mengurus kelima anaknya sendiri. Ia menghadapi mual hebat dan perubahan fisik yang terasa lebih berat daripada kehamilan sebelumnya. Di tengah kondisi itu, rasa kesepian menjadi tantangan terbesar.
Ia mengungkapkan ada masa-masa ketika dirinya merasa benar-benar “tidak terlihat”. Dawn ingat saat harus duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit, bergelut dengan emosi besar dalam diam, lalu pulang untuk menjalani tanggung jawab sehari-hari sebagai ibu tunggal tanpa jeda untuk mencerna beban fisik dan emosionalnya.
Kisah Dawn menyoroti sisi lain dari tren ibu pengganti yang meningkat di kalangan selebritas. Sejumlah figur publik seperti Kim Kardashian, Paris Hilton, Priyanka Chopra, hingga Rebel Wilson diketahui menggunakan jasa ini. Namun, perhatian terhadap dampak emosional perempuan yang mengandung bayi tersebut dinilai masih minim.
Menurut Dawn, suara para ibu pengganti jarang terdengar sehingga mereka kerap merasa terabaikan. Ia pun mengingatkan calon ibu pengganti agar membangun jaringan dukungan yang solid. “Ingat, merasa kesepian bukan berarti kamu menyesali perjalanan ini,” katanya.
Dawn menceritakan proses medis yang dijalaninya. Setelah mendaftar di agen dan bertemu pasangan penerima, ia menjalani transfer embrio pada Agustus 2020, yang sempat tertunda akibat pandemi.
“Dokter mentransfer embrio dengan sangat cepat, lalu menatapku dan berkata ‘selamat, kamu hamil’. Rasanya tetap alami karena aku sudah sering hamil, tapi aneh karena aku tahu tidak akan membawa pulang bayi di akhir proses ini,” tambahnya.
Di Kanada, ibu pengganti dilarang menerima bayaran. Dawn menjalani seluruh proses tersebut secara sukarela. Ia mengaku tidak kesulitan menyerahkan bayi setelah melahirkan, namun tetap merasakan kehilangan yang mendalam. Setelah proses selesai, rutinitas yang sebelumnya berpusat pada janin seolah berhenti tiba-tiba.
Sebagai ibu tunggal, Dawn tidak memiliki pasangan yang mendampinginya melewati masa-masa sulit. Jarak tempat tinggal yang jauh dari orang tua biologis bayi juga membuat dukungan langsung sulit diperoleh.
Meski penuh tekanan emosional, ia menegaskan tidak menyesal. Pengalaman tersebut memberinya tujuan hidup, bahkan ia kembali menjalani proses serupa pada 2024. Namun, setelah tujuh kali hamil, ia merasa tubuhnya sudah mencapai batas.
“Akan sangat luar biasa jika ada lebih banyak layanan untuk ibu pengganti, seperti kelompok dukungan, agar proses ini tidak terasa begitu sepi,” tutupnya.







