Bandung –
Adanya cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Bandung berpengaruh pada geliat sektor pariwisata. Apalagi beberapa objek wisata yang tersedia adalah menyuguhkan berbagai pemandangan alam.
Ancaman bencana hidrometeorologi kini menjadi variabel utama yang menghambat target peningkatan durasi tinggal (length of stay) dan angka belanja wisatawan di wilayah tersebut. Kemudian faktor lainnya adalah musiman menjelang bulan Ramadhan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung mencatat terdapat penurunan jumlah kunjungan dalam beberapa waktu terakhir. Hal tersebut menjadi tantangan yang berat supaya masyarakat bisa kembali berwisata di Kabupaten Bandung.
“Sekarang lagi low season (musim sepi), menjelang puasa juga, trus hujan masih tinggi curahnya. Apalagi Imlek sekarang, sebentar lagi puasa. Pasti ada kondisi-kondisi di mana kunjungan wisatawan dan pendapatan pelaku usaha wisata dalam posisi yang sedang menurun,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan, kepada , Sabtu (14/2/2026).
Wawan mengungkapkan, kondisi alam dan cuaca yang tidak menentu menjadi faktor penurunan wisatawan. Sehingga saat ini banyak masyarakat lebih berhati-hati datang ke objek wisata.
“Pada saat cuaca rawan, misalnya angin puting beliung, pohon tumbang, kan wisatawan ini agak sedikit berhati-hati pada saat dia datang ke destinasi wisata alam. Jadi biasanya itu menjadi pertimbangan wisatawan yang datang ke khususnya ke destinasi wisata alam,” katanya.
Pihaknya telah meminta para pelaku usaha wisata untuk memaksakan membuka jam operasional ketika kondisi cuaca buruk. Apalagi objek wisata yang berada di ruang terbuka pasti akan menjadi pengawasan yang ketat.
“Kita menghimbau kepada kepada pelaku usaha wisata untuk tidak memaksakan pada saat kondisinya tidak mendukung. Otomatis, usaha wisata seperti arung jeram tidak banyak diakses. Kemudian kegiatan usaha yang di ruang terbuka, mereka akan berhati-hati pada saat menerima wisatawan,” jelasnya.
Wawan mengakui bahwa pergerakan fisik wisatawan ke Kabupaten Bandung tergolong tinggi. Namun dari sisi kontribusi ekonomi dan sisi lama tinggal masih dikategorikan belum optimal.
“Iya memang potensi pergerakannya besar, tetapi lama tinggal dan belanjanya masih kurang. Hal ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari daya beli, situasi ekonomi, hingga terbatasnya infrastruktur akomodasi seperti hotel berbintang yang selama ini lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan,” ungkapnya.
Dia menyebutkan saat ini akan fokus pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor ekonomi kreatif dan desa wisata. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menyiasati adanya tantangan tersebut.
“Langkah ini diambil agar para pelaku usaha lokal mampu bersaing di pasar bebas melalui peningkatan kualitas produk dan perluasan jangkauan pemasaran,” kata Wawan.
Pemkab Bandung saat ini terus berupaya melakukan transformasi citranya dari sekadar destinasi persinggahan menjadi destinasi hunian wisata. Walaupun terdapat keterbatasan fasilitas penunjang industri jasa wisata masih menjadi pekerjaan rumah.
“Penguatan sisi kreatif diharapkan mampu memberikan alternatif wisata dalam ruang (indoor) yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca, sekaligus menarik minat wisatawan untuk menetap lebih lama,” pungkasnya.







