Bandung –
Deretan mesin jahit di pinggir jalan kawasan Kosambi dan Jalan Ahmad Yani telah menjadi pemandangan harian. Di sana, para penyedia jasa permak merajut asa, meneruskan sejarah panjang pekerja industri konfeksi yang memilih bertaruh nasib di atas trotoar. Menjelang hari raya, jumlah mesin jahit yang berjajar meningkat berkali-kali lipat demi memenuhi kebutuhan busana Lebaran masyarakat.
Sumino, seorang penjahit yang telah beroperasi sejak 1982, menceritakan bahwa keberadaan penjahit jalanan di kawasan ini berawal dari banyaknya pekerja konfeksi, garmen, atau pabrik yang terkena pemutusan hubungan kerja. Berbekal keahlian menjahit, mereka mencoba peruntungan di jalanan, dimulai dari titik-titik ramai di sekitar toko pakaian.
“Yang netap di sini itu rata-rata awalnya dari konfeksian, termasuk saya, macem-macem ada yang dari pabrik, garmen juga. Begitu ada pengurangan tenaga kerja, kan bingung mau kerja apa, jadi coba-coba ke jalan” jelas Mino, panggilan akrabnya, saat ditemui belum lama ini.
Bekerja di jalanan menawarkan kebebasan yang tidak ditemukan di industri konfeksi, seperti sistem target harian dan upah mingguan yang mengikat. Sebaliknya, menjadi penjahit jalanan memungkinkan mereka mengantongi uang tunai secara langsung setiap kali pekerjaan usai.
Di balik kebebasan tersebut, mereka tidak memiliki jaminan pendapatan tetap sehingga harus menjemput pelanggan di tengah ketidakpastian. Bagi Mino, bekerja pada majikan sebenarnya memiliki keuntungan tersendiri, yakni kemudahan meminjam uang atau kasbon saat ada keperluan mendesak.
“Sebenarnya kalau enaknya mah punya dunungan (majikan) gitu. Jadi kita bisa di mana nggak punya duit teh bisa kasbon kan gitu. Nggak enaknya kita kerjanya terikat kan gitu enggak bebas” ujar Mino.
Momen tertentu mengubah situasi di jalanan. Sepekan menjelang Lebaran, Jalan Ahmad Yani akan dipenuhi penjahit dadakan yang merupakan pekerja konfeksi yang tengah libur. Mereka membawa mesin jahit sendiri ke trotoar untuk mengejar keuntungan musiman dengan mematok harga di atas standar harian.
“Sebentar lagi yang orang-orang konfeksi kalau seminggu sebelum lebaran tuh udah pada libur kan, itu banyak yang dadakan tuh yang nongkrong. Harganya udah dipatok, ga standar kaya biasa. Kalau saya yang tiap hari mangkal di sini enggak enak gitu kalau sekarang saya ngasih harga patokan harga lebaran mahal langsung pada protes” ungkap Mino.
Bagi Mino, mempertahankan harga sudah menjadi pilihan yang tepat walau mendekati momen hari raya. “Mau ga mau saya mah ga ngerubah harganya, seikhlasnya pelanggan aja, daripada jadi ga berkah juga. Pernah saya naikin Rp5.000 juga langsung pada protes kenapa naik harganya” tambahnya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
