Ciamis –
Ramadan menghadirkan suasana berbeda di sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sejak malam hingga menjelang sahur, para santri menjalani berbagai aktivitas ibadah mulai dari tadarus Al Qur’an, pengajian kitab, hingga salat malam berjamaah.
Salah satu tradisi unik terlihat di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis. Di pesantren ini, salat tarawih tidak dilaksanakan setelah Isya seperti kebanyakan masjid, melainkan pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB menjelang sahur. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi ciri khas Ramadan bagi para santri.
Salah seorang santri, Kayla Azka Nadhifah (15), asal Sukadana Ciamis, menceritakan keseharian para santri selama menjalani Ramadan di pesantrennya. Ia mengatakan aktivitas dimulai sejak dini hari saat para santri dibangunkan untuk melaksanakan tarawih.
“Biasanya kami dibangunkan sekitar jam dua dini hari untuk salat tarawih berjamaah. Setelah itu langsung bersiap sahur di asrama masing-masing,” ujar Kayla, Kamis (5/3/2026).
Usai sahur, para santri melaksanakan salat Subuh berjamaah yang dilanjutkan pengajian kuliah subuh. Setelah itu, mereka bersiap mengikuti kegiatan belajar di madrasah yang berlangsung setengah hari selama Ramadan.
“Kemudian salat zuhur berjamaah, setelah itu ada tadarus bersama di aula. Di sini biasanya ada program tadarus one day one Al-Qur’an, jadi sehari membaca Al-Qur’an, tergantung kemampuan masing-masing santri membagi jumlah juznya,” katanya.
Pada sore hari, para santri mengikuti pengajian yang membahas akhlak seorang muslim. Menjelang waktu berbuka, mereka juga bisa menikmati suasana ngabuburit di bazar yang dikelola oleh para santri dengan berbagai makanan khas di komplek pesantren.
“Biasanya sore ada pengajian akhlak, lalu menjelang magrib kami bisa ngabuburit di bazar santri. Banyak makanan menarik yang dijual di sana,” ungkapnya.
Setelah berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah, salat Isya, dan pengajian malam hingga sekitar pukul 21.00 WIB sebelum para santri beristirahat.
Kayla mengaku pada awalnya merasa cukup berat menjalani tarawih dini hari. Namun lama-kelamaan ia terbiasa dengan ritme ibadah tersebut.
“Awalnya terasa berat karena harus bangun malam untuk tarawih. Tapi sekarang sudah terbiasa dan justru terasa lebih khusyuk,” ujarnya.
Santri lainnya, Adnan Ramadhani (17), mengatakan tadarus Al Qur’an menjadi kegiatan rutin yang hampir selalu dilakukan setelah salat berjamaah.
“Biasanya setelah salat wajib ada kultum singkat, lalu dilanjutkan tadarus. Untuk hafalan tidak dibatasi, tergantung kemampuan santri. Alhamdulillah ada yang bisa khatam sekali bahkan dua kali selama Ramadan,” kata Adnan.
Menurutnya, meski tarawih dilaksanakan pukul 02.00 WIB dan terasa melelahkan, para santri berusaha menjalaninya dengan ikhlas.
“Memang cukup melelahkan, tapi insyaallah dijalani lillah. Tarawih dini hari juga ada hikmahnya karena Nabi melaksanakan salat malam di sepertiga malam,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Muda Pondok Pesantren Darussalam Ciamis Defikri Natadiwangsa menjelaskan Ramadan di pesantren identik dengan kegiatan memperbanyak interaksi dengan Al Qur’an.
“Ramadan di sini kami fokuskan sebagai syahrul Qur’an atau bulan Al Qur’an. Jadi setelah setiap salat wajib, para santri diwajibkan membawa Al Qur’an dan melaksanakan tadarus,” kata Defikri.
Selain itu, pesantren juga menggelar kegiatan tasmil Al Qur’an setiap pekan yang menampilkan para hafiz untuk membaca hafalan di depan santri lainnya.
“Setiap Kamis biasanya ada tasmil Qur’an, santri yang hafal membaca di depan, yang lain mendengarkan. Ini sekaligus menjadi motivasi agar santri lebih semangat mengkaji dan mengamalkan Al Qur’an,” jelasnya.
Ia menambahkan, jumlah santri di pesantren mencapai sekitar 1.200 orang. Namun tidak semuanya mengikuti kegiatan berjamaah karena sebagian sedang menjalani ujian madrasah.
“Total santri sekitar 1.200 orang, tetapi yang rutin mengikuti kegiatan berjamaah sekitar 800 santri karena sebagian sedang ujian,” ujarnya.
Menurut Defikri, pelaksanaan tarawih pada dini hari bertujuan membiasakan santri untuk bangun malam dan menghidupkan suasana Ramadan sepanjang waktu.
“Tarawih dini hari ini salah satu upaya memakmurkan Ramadan, baik siang maupun malam. Kami ingin membiasakan santri bangun malam agar terbiasa melaksanakan salat tahajud,” pungkasnya.






