Bandung –
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, konsep berjualan secara daring semakin diminati oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Penjualan melalui platform digital dinilai mampu memperluas jangkauan konsumen dan mendorong peningkatan omzet.
Pemesanan makanan melalui aplikasi kini menjadi tren dan bahkan dianggap sebagai kebutuhan di abad ke-21. Meski demikian, tidak semua pedagang mengikuti arus tersebut. Sebagian masih bertahan dengan cara berjualan secara langsung, salah satunya Rizki, pedagang lumpia basah di sekitar Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.
Rizki telah menekuni usaha berjualan lumpia basah sejak 2011. Selama lebih dari satu dekade, ia menyaksikan berbagai perubahan di lingkungan sekitar UIN Bandung, mulai dari bertambahnya pedagang, pergantian mahasiswa setiap tahun, hingga pandemi Covid-19 yang mengubah pola aktivitas masyarakat secara drastis.
“Sebelum 2011 saya memang belum punya aktivitas tetap. Tahun 2009 lulus SMP, lalu sempat masuk SMA kelas satu, tapi tidak saya lanjutkan,” ungkap Rizki.
Rizki hanya menamatkan pendidikan hingga jenjang SMP. Setelah memutuskan tidak melanjutkan SMA, ia memilih mengasah keterampilan yang dimilikinya, yakni mengolah bahan dapur menjadi makanan dan camilan. Dari sanalah ia belajar membuat lumpia basah, dengan bantuan sang kakak yang lebih dulu berkecimpung di dunia usaha.
Setelah merasa memiliki bekal yang cukup, Rizki memutuskan merantau ke Kota Bandung dan meninggalkan kampung halamannya di Majalengka. Ia melihat kawasan sekitar UIN Bandung sebagai lokasi yang strategis untuk berjualan, seiring bertambahnya jumlah mahasiswa dari waktu ke waktu.
Suasana sekitar UIN Bandung Foto: Adi Mukti |
Hasil berjualan lumpia basah tersebut pada awalnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Namun, setelah berkeluarga, kebutuhan rumah tangga yang meningkat membuat penghasilannya menjadi pas-pasan.
“Kalau dari 2011 sampai 2020 itu sebenarnya cukup-cukup saja. Tapi setelah menikah, kebutuhan anak juga kadang butuh biaya lebih. Jadi sekarang pendapatan pas-pasan. Saya berjualan dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Habis atau tidak, tetap pulang,” ujarnya.
Di tengah maraknya penjualan daring, Rizki menghadapi tantangan tersendiri. Ia mengaku kesulitan bersaing dengan pedagang yang memanfaatkan aplikasi pemesanan online. Rizki memilih tetap berjualan secara konvensional dengan bertemu langsung pembeli.
“Kalau menurut saya, yang daring-daring itu tidak usah. Lebih baik jualan langsung seperti sekarang. Apalagi sekarang banyak kuliah daring. Biasanya Sabtu atau Minggu. Mahasiswa yang datang ke sini jadi berkurang,” tambahnya.
Kondisi tersebut membuat Rizki sangat bergantung pada mahasiswa dan pelajar sebagai konsumen utama. Ia berharap usahanya dapat kembali ramai seperti sebelum pandemi, ketika aktivitas kampus masih berjalan sepenuhnya secara luring.








