Subang –
Banjir yang merendam ribuan rumah warga di delapan kecamatan di Kabupaten Subang masih terjadi. Meski ketinggian air mulai menurun, warga belum bisa kembali ke rumah masing-masing. Kecamatan Pamanukan kini menjadi titik terparah bencana tersebut.
Di kecamatan ini, belasan ribu jiwa bertahan di sejumlah tempat pengungsian. Titik pengungsian yang paling padat berada di kolong jembatan Jalur Pantura Subang. Warga terpaksa bertahan di lokasi tersebut meski kondisinya kurang layak dan minim fasilitas. Mereka tidur hanya beralaskan tikar tanpa selimut yang memadai.
Silvina, salah satu pengungsi yang bertahan di kolong jembatan, mengaku sangat membutuhkan perlengkapan bayi dan makanan. Selain itu, ia mengeluhkan fasilitas MCK yang sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah pengungsi yang banyak.
“Kami butuh popok, minyak telon, makanan instan, dan nasi. Ada pembagian bantuan, tapi sering berebut, bahkan kadang tidak kebagian,” ujar Silvina, Sabtu (31/1/2026).
Sinta, pengungsi lainnya, mengungkapkan hal senada. Selama dua hari mengungsi, ia mengaku belum mendapatkan bantuan sama sekali dan kesulitan mengakses fasilitas MCK.
“Belum dapat bantuan. Saya sudah dua hari di sini. Kalau Enok sudah seminggu, dia kadang dapat, tapi cuma satu karena harus berebut,” katanya.
Pantauan di lokasi, ratusan warga tampak beristirahat di kolong jembatan karena kurang tidur semalam. Sebagian lainnya hanya duduk-duduk menunggu kepastian kapan banjir akan surut.
Meski banjir masih merendam permukiman di Kecamatan Pamanukan, luapan Sungai Cipunagara mulai menyusut sehingga genangan air tidak terus meluas.







