Bandung –
Bisingnya kendaraan yang melintas tidak membuat para jemaah terganggu dalam beribadah. Mereka tetap fokus memanjatkan doa kepada Sang Pencipta meski beradu dengan deru mesin kendaraan.
Doa-doa tersebut terus terpanjat di sebuah masjid yang berada di bawah kolong jembatan Tol Padaleunyi Km 142, arah pintu masuk tol Buahbatu menuju Cileunyi. Masjid tersebut bernama Masjid Hijrah Bawah Jembatan Tol Buah Batu (BJTB).
Di bawah bentangan beton jalan tol itu kini terdapat rumah ibadah yang rapi dan bersih. Bangunan masjid tersebut tidak memiliki atap karena telah tertutup beton jalan tol. Struktur bangunannya hanya memiliki dinding tanpa atap. Konsep tersebut merupakan hasil kesepakatan agar bangunan tetap aman dan tidak melanggar aturan.
Bagi jemaah yang mendatangi lokasi tersebut, tidak terlihat kesan kumuh seperti kolong jembatan tol pada umumnya. Sebaliknya, kondisi masjid tampak bersih dan tertata.
Masjid tersebut memiliki tempat wudhu di area belakang, tersedia kamar kecil, serta taman disertai kolam yang membuat suasana semakin sejuk dan indah. Pada bagian lainnya, terdapat beberapa lapak UMKM yang disediakan.
Titik masjid berada di perbatasan antara Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, dan Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung. Setiap harinya, banyak pengendara yang mampir untuk beristirahat.
Masjid tersebut kini menjadi tempat singgah pengemudi ojek online (ojol) untuk beristirahat sambil menunggu pesanan. Mereka bisa mengisi daya ponsel dan beristirahat dengan tenang.
Pembangunan masjid tersebut telah melalui dinamika yang panjang. Hal itu diawali dengan proses hijrah sang pendiri dari dunia kelam menjadi lebih dekat dengan agama.
“Awalnya dulu saya bersama teman-teman berusaha untuk hijrah. Dulu cikal bakal saya berada di geng motor. Terus saya berusaha untuk memperbaiki diri,” ujar pendiri masjid sekaligus sekretaris DKM, Saepul Rohmat (47), saat ditemui, Selasa (3/3/2026).
Titik balik pembuatan masjid tersebut adalah ketika anak pertamanya yang berusia 17 tahun meninggal dunia. Kehilangan anak yang dicintainya membuat hidupnya kalut dan ia memutuskan untuk lebih dekat dengan agama Islam.
“Setelah itu tercetuslah ide gagasan untuk membangun masjid pada tahun 2022. Padahal pada waktu itu, pemahaman agama belum banyak. Saya dulu berada di jalanan, bukan dunia majelis, bukan juga dunia dengan orang-orang saleh, dan bukan juga dengan pemuda-pemuda yang menjaga istikamah di dalam ketaatan kepada Allah” katanya.
Setelah itu, dirinya sempat mendapatkan kabar dari sang adik bahwa ada dermawan yang akan membantu memberi modal untuk membangun masjid. Ia langsung mencari lokasi dan terpilihlah bawah jembatan tol tersebut.
“Iya di sini lokasinya dekat dengan daerah saya tepat tinggal. Bisa kegambarlah dulu aroma kriminalitasnya kuat. Dulunya ini yang boleh dibilang seram, menakutkan. Memang bukan tempat (pemakai) narkoba, tapi di dalamnya ada transaksi kuat,” jelasnya.
Perjalanan pembangunan masjid tersebut tidak mudah. Berbagai rintangan dihadapinya demi membangun rumah ibadah bagi umat Muslim itu. Gesekan dengan berbagai pihak kerap terjadi selama pembangunan.
“Wah ini banyak ditentang. Terutama sama preman-preman yang ada di sini. Padahal saya udah bangun sedikit-sedikit, walau pakai terpal dulu. Dianggap ajaran sesat lah, jadi masih jarang-jarang yang beribadah di sini dulu mah,” ucapnya.
Ancaman-ancaman tersebut terus hadir dan sempat membuatnya putus asa. Peristiwa itu memuncak kala dirinya memilih menjadi relawan gempa bumi Cianjur pada tahun 2023 lalu.
Selama satu bulan lebih dirinya menjadi relawan, masjid yang didirikannya diurus oleh rekan-rekannya. Namun saat situasi tenang, sekumpulan preman memasang spanduk ancaman agar bangunan tersebut segera dikosongkan.
“Jadi sama mereka dipasang plang besar, bertuliskan ‘Kalau ada yang berani salat disini, masjid ini akan dihancurin’. Di situ saya panggil semua teman saya, mereka datang dan jaga-jaga takut emang ada yang mau ngehancurin,” ungkapnya.
Setelah itu, dirinya memutuskan pulang untuk menjaga masjid yang tengah dibangunnya. Teman-temannya menemani hingga beberapa hari ke depan untuk memastikan bangunan tidak dihancurkan. “Setelah teman-teman saya pada pulang. Eh para preman datang dan di situ ada sedikit perkelahian lah,” bebernya.
Setelah itu, dilakukan proses mediasi antara kedua belah pihak. Dari hasil mediasi, pihak masjid harus memberikan sejumlah uang kompensasi kepada pihak yang kerap berada di lokasi tersebut.
“Saya juga bingung uang dari mana. Saya berdoa ke Allah, ternyata ada aja bantuannya. Ada yang tiba-tiba ngasih uang untuk bantu ngebebasin masjid. Ada yang ngasih tapi engga mau disebut namanya. Ada aja bantuannya,” kata Saepul.
Tekanan dari premanisme memang telah mereda, namun tantangan baru muncul dari otoritas terkait. Apalagi masjid tersebut berada di lahan milik pemerintah. Pihak berwenang sempat datang dan beradu argumen terkait pembangunan masjid tersebut.
Dari hasil audiensi, pihak masjid diminta untuk membangun tanpa menempel ke area beton jalan. Masjid tersebut juga diminta tidak memiliki atap agar jika terdapat beton jalan tol yang retak bisa segera terlihat dan diantisipasi.
“Terus pihak pemerintah pun memberikan aturan-aturannya. Memang secara aturan mereka tak berhak mengirimkan izin tertulis. Tapi secara lisan, saya melihat mereka akhirnya membiarkan. Dengan catatan yang aturan-aturan tersebut dipenuhi. Makanya hingga saat ini saya lanjutin. Balik lagi niat saya ini demi kemaslahatan masyarakat di sini,” tuturnya.
Situasi mulai mereda dan lebih tenang sejak tahun 2024 lalu. Aktivitas ibadah mulai ramai dan beberapa masyarakat turut mendukung keberadaan masjid tersebut. “Iya masjid ini 24 jam. Jadi siapapun boleh datang dan beribadah ke sini. Makanya banyak sopir-sopir truk, dan ojol yang istirahat di sini mah,” kata Saepul.
Pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana di Masjid Hijrah BJTB terasa lebih hidup dengan berbagai kegiatan. Pengurus masjid kini sudah bisa menyediakan takjil dan hidangan berbuka puasa. “Alhamdulillah sudah banyak donatur tetap. Jadi sudah bisa nyediain takjil bagi yang berbuka puasa,” kata Saepul.
Agenda masjid selama bulan Ramadan meliputi kajian, tausiah sebelum ibadah, dan tadarus Al-Qur’an. Masyarakat bisa mengunjungi masjid tersebut kapan saja. “Iya alhamdulillah kami sediain air gratis, casan gratis, parkir gratis. Dan alhamdulillah dari mulai masjid berdiri, mudah-mudahan tidak ada yang kehilangan motor di sini,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan masjid tersebut telah menjadi ruang amal dan ibadah bagi masyarakat sekitar. Meski begitu, ia menyadari bahwa masjid tersebut sewaktu-waktu bisa dibongkar.
“Saya mah yang penting telah berbuat membangun masjid. Segini juga udah lumayan bisa dipakai ibadah, walau sederhana. Makanya saya mah engga apa-apa kalau sewaktu-waktu pemilik tanah mau dibongkar juga,” kata Saepul sambil berkaca-kaca.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Saepul menambahkan, hal yang terpenting adalah tujuan awal membangun masjid telah tercapai. Area tersebut telah sukses diubah dari yang semula ruang negatif menjadi ruang ibadah.
“Alhamdulillahnya masjid ini sudah bisa menjadi tempat singgah warga dan tempat ibadah. Setidaknya meski di lokasi kolong jembatan, tapi doa-doa itu tetap muncul dari berbagai ruang manapun,” pungkasnya.
