Cerita Mang Kumis Jaga Resep Siomay Warisan Sang Ayah

Posted on

Cirebon

Uap tipis mengepul dari balik gerobak siomay di Jalan Veteran, Kota Cirebon. Aroma adonan ikan yang matang bercampur dengan gurihnya bumbu kacang menyambut siapa saja yang datang.

Di balik gerobak itu, Didin Badrudin (56) terlihat sibuk. Tangannya begitu cekatan menata potongan siomay ke piring, sambil sesekali menyapa pelanggan yang datang.

Didin merupakan penjual siomay yang lebih dikenal dengan panggilan Mang Kumis. Julukan itu melekat karena ia memiliki kumis yang menghiasi wajahnya sejak lama.

Setiap pagi, Didin memulai aktivitas dari rumah kontrakannya di Kota Cirebon. Ia menyiapkan dagangan sebelum mendorong gerobaknya menuju lokasi berjualan.

Pria asal Majalengka itu biasa berkeliling ke sejumlah titik. Meski begitu, Jalan Veteran menjadi tempat yang paling sering ia datangi.

Di lokasi itu, Didin merasa sudah memiliki pelanggan tetap. Banyak pembeli yang datang kembali karena sudah mengenal rasa siomay buatannya.

“Dari dulu jualan di sekitar sini aja. Mangkalnya di sini, tapi kadang keliling-keliling juga,” ucap Didin.

Didin Badrudin, penjual siomay di Jalan Veteran, Kota CirebonDidin Badrudin, penjual siomay di Jalan Veteran, Kota Cirebon Foto: Ony Syahroni/

Puluhan tahun sudah Didin menekuni pekerjaan sebagai pedagang siomay. Dari gerobak sederhana itulah ia menggantungkan hidup untuk menafkahi keluarganya.

Bapak tiga anak itu menjadikan usaha berjualan siomay sebagai sumber pendapatan utama. Kebutuhan sehari-hari hingga biaya sekolah anak-anaknya dipenuhi dari hasil berjualan.

“Jualan mungkin udah 25 tahun lebih, sebelum saya nikah. Sampai saya nikah dan punya anak tiga tetap jualan siomay. Nafkahi keluarga ya dari usaha ini,” ucap Didin.

“Sekarang anak yang pertama dan kedua sudah punya pekerjaan dan usahanya masing-masing. Kalau anak yang ketiga sekarang masih sekolah SMA,” sambung dia.

Didin menuturkan, keterampilannya membuat siomay didapat dari sang ayah yang lebih dulu berjualan. Ia belajar meracik adonan hingga memahami cara penyajian dari orang tuanya.

Hingga kini, proses pembuatan berikut resep warisan keluarga itu tetap ia pertahankan. Bagi Didin, rasa yang ada sekarang tak lepas dari didikan ayahnya.

“Dulu belajarnya dari orang tua. Karena bapak saya juga dulu jualan siomay. Sampai sekarang saya masih pakai resep lama warisan bapak,” ucap Didin.

Untuk satu porsi siomay, Didin mematok harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Harga itu bergantung pada tambahan telur dalam penyajiannya.

“Yang Rp10 ribu itu kalau tidak pakai telur, kalau pakai telur itu Rp15 ribu,” kata dia.

Saat ini, dalam sehari Didin mengaku bisa meraih omzet sekitar Rp400 ribu dari hasil berjualan. Penghasilan itu menjadi penopang kebutuhan hidupnya bersama keluarga.

Meski sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdagang, Didin tetap berusaha pulang ke kampung halamannya. Ia ingin menyempatkan diri bertemu keluarga di sela kesibukan mencari nafkah.

“Sewaktu-waktu ya pulang ke kampung,” ucap dia.