Cerita Mahrus Rintis Bisnis Undangan Modal Printer Rumahan

Posted on

Cirebon

Keterbatasan alat tak menyurutkan langkah Mahrus, pemuda asal Desa Bodelor, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, untuk merintis usaha. Berbekal printer rumahan dan kemampuan desain otodidak, ia sukses membangun bisnis kartu undangan, baik cetak maupun digital, yang kini mulai dikenal luas di kalangan pasangan muda.

Di tengah tren pernikahan sederhana namun tetap berkesan, Mahrus melihat peluang yang tak semua orang tangkap. Ide itu muncul dari lingkungan terdekatnya.

“Awalnya saya lihat teman-teman seumuran banyak yang menikah dan mau menikah. Dari situ saya kepikiran untuk bikin usaha undangan, sekalian membantu teman-teman juga,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Ia kemudian menawarkan jasa pembuatan undangan dengan konsep ‘all in’ mulai dari desain hingga cetak dengan harga yang ramah di kantong. Strategi itu ternyata tepat sasaran.

“Alhamdulillah ternyata banyak yang berminat,” ungkapnya dengan senyum.

Harga Terjangkau, Peminat Melimpah

Di saat harga undangan pernikahan bisa mencapai beberapa ribu rupiah per lembar, Mahrus berani mematok harga mulai dari Rp1.000 per lembar kartu undangan.

Harga tersebut menjadi yang paling diminati pelanggan, terutama pasangan muda yang ingin menggelar pernikahan hemat tanpa mengurangi kesan elegan.

Dalam sepekan, ia bisa menerima satu hingga dua pesanan. Setiap pesanan rata-rata mencapai 500 hingga 1.500 lembar undangan.

Meski omzetnya belum menentu karena usaha masih dalam tahap perintisan, permintaan yang terus berdatangan menjadi sinyal positif bagi perkembangan bisnisnya.

“Kalau untuk omzet memang belum menentu karena saya masih merintis usaha ini,” paparnya.

Selain undangan cetak, Mahrus juga menyediakan undangan digital yang kini semakin diminati. Format digital dianggap praktis dan efisien, terutama untuk dibagikan melalui media sosial dan aplikasi pesan instan.

Momentum Syawal, Pesanan Meningkat

Momentum setelah Hari Raya Idulfitri menjadi berkah tersendiri bagi usaha Mahrus. Tradisi masyarakat yang banyak menggelar pernikahan setelah Lebaran membuat pesanan undangan melonjak.

“Tapi menjelang bulan Syawal pesanan undangan meningkat dari biasanya,” ucapnya.

Kesibukan pun bertambah. Ia harus membagi waktu antara proses desain, revisi sesuai permintaan pelanggan, hingga mencetak dan memotong undangan secara mandiri.

Meski saat ini masih dikerjakan dari rumah dengan peralatan sederhana, Mahrus optimistis usahanya bisa berkembang lebih besar. Ia berharap ke depan dapat menambah peralatan produksi agar kapasitas cetak meningkat dan kualitas semakin baik.

Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi cara membantu sesama agar bisa tetap menggelar pernikahan dengan biaya terjangkau.

Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan usaha, kisah Mahrus menjadi bukti bahwa peluang bisa datang dari sekitar, selama ada kemauan untuk mencoba dan keberanian untuk memulai.