Cerita Kampung Cina yang Tersembunyi di Pinggiran Bogor - Giok4D

Posted on

Bogor

Sekitar sepuluh kilometer dari Kantor Bupati Bogor di Cibinong, sebuah kampung berdiri tanpa papan penanda dan tanpa gapura. Dari arah jalan Bojonggede-Kemang, kawasan itu tampak seperti permukiman biasa yang dikepung perumahan baru. Namun warga sekitar mengenalnya sebagai Kampung Cina, sebuah kampung peranakan di Tajurhalang yang menyimpan riwayat panjang tentang hidup berdampingan.

Ketika memasuki wilayah RW 09, yang pertama terasa bukanlah bentuk rumah atau wajah warganya, melainkan aroma. Bau dupa tipis mengambang di udara, terutama di sekitar RT 3, tak jauh dari Litang Makin Tepasarira (tempat ibadah umat Konghucu).

Secara fisik, stereotip tentang etnis Tionghoa nyaris tak terlihat. Dialek yang terdengar justru Betawi bercampur Sunda. Percakapan warga mengalir sebagaimana kampung-kampung lain di pinggiran Bogor. Identitas tak lagi tampak di permukaan, tetapi hidup dalam kebiasaan.

“Mayoritas di sini keturunan. Sudah turun-temurun,” ujar Gaw Pung Lie (77), yang akrab disapa Koh Pungut, saat ditemui Rabu (11/2/2026).

Di teras rumahnya yang berhadapan langsung dengan litang, ia menelusuri silsilah keluarganya yang telah lima generasi menetap di kampung itu. Leluhurnya, Kong Coh, disebut sebagai salah satu yang mula-mula tinggal di sana.

Sebagian keluarga, katanya, dulu bermukim di kawasan Suryakencana, Bogor. Pada masa Orde Baru, ketika praktik keagamaan Tionghoa dibatasi, banyak yang memilih menyembunyikan perayaan.

“Dulu ibadah tidak berani terbuka. Baru setelah Gus Dur, perayaan bisa diadakan lagi,” kata pengusaha pemotongan hewan ternak babi tersebut.

Cerita serupa datang dari Tie Ong, 80 tahun, generasi ketiga yang lahir dan besar di Kampung Cina. Ia masih mengingat ketika wilayah itu dari ujung ke ujung berupa hutan. Warga menyebut diri mereka dengan sebutan Cina kampung, keturunan Tionghoa yang telah membaur, tak lagi bisa berbahasa Mandarin, dan hidup sepenuhnya dengan adat setempat.

Sejak kecil ia menyaksikan kehidupan sederhana. Banyak warga tak mengenyam sekolah dan belajar dari orang tua. Selama hampir 40 tahun ia mengurus pemakaman Tionghoa yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Sebelumnya, ia penganyam bambu, membuat bakul dan kukusan, kerajinan yang kini tergeser peralatan modern.

“Sekarang mana laku jual begitu,” ujarnya.

Suasana Kampung Cina di Kabupaten Bogor.Suasana Kampung Cina di Kabupaten Bogor. Foto: Andry Haryanto/

Seiring waktu, kawin campur menjadikan kampung ini semakin terbuka. Di keluarga Tie Ong sendiri, percampuran itu nyata. Ayahnya Tionghoa, ibunya Muslim, neneknya pun Muslim. Enam anaknya memeluk agama berbeda, Konghucu, Islam, dan Kristen, tanpa paksaan.

“Yang penting rukun,” katanya.

Jika ada anak menikah dengan pasangan Muslim, Tie Ong melanjutkan, ia membantu mengurus pernikahan. Bagi warga di sini, agama adalah pilihan pribadi, sementara kebersamaan adalah kesepakatan bersama.

Ketua RW 09, Endra (48), menyebut Kampung Cina terdiri dari tiga RT dengan sekitar 500 kepala keluarga keturunan yang menetap turun-temurun. Ia sendiri peranakan dengan jejak keluarga lebih dari delapan generasi di kampung itu.

Meski sebagian orang kini menyebutnya Kampung Baru Cina, nama lama tetap melekat. “Orang tetap tahunya Kampung Cina,” ujarnya di sela pembagian sembako dari sebuah yayasan.

Menurut Endra, sekitar 70 persen warga memeluk Konghucu, tetapi kampung ini tak pernah tertutup. Muslim serta warga dari Medan, Ambon, Kupang, Nias, hingga Padang hidup dalam ruang sosial yang sama.

Istilah ‘kampung damai’ kerap dilekatkan pada wilayah ini, terutama sejak era Presiden Gus Dur membuka kembali ruang ekspresi budaya Tionghoa. Perayaan Imlek kini dilakukan terbuka. Warga beribadah di litang, lalu saling berkunjung seperti suasana Lebaran.

Watak berdagang menjadi denyut ekonomi kampung. Sejak dulu warga dikenal sebagai pedagang kecil dan pelaku usaha rumahan. Mulai menjual daging, sayur, makanan matang, memasok pasar, hingga berjualan ke warung-warung sekitar.

Sebagian beternak, sebagian membuka usaha dari rumah. Di tengah kepungan pembangunan perumahan, aktivitas itu menjaga kampung tetap hidup.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Bagi Endra, memimpin Kampung Cina bukan sekadar mengurus administrasi, melainkan menjaga jalinan komunikasi yang sudah lama terbangun. Persoalan diselesaikan melalui musyawarah, perbedaan tidak dipertajam.

Setiap Imlek, warga tak sekadar sembahyang. Mereka membagikan sembako, bukan hanya untuk umat Konghucu, tetapi juga untuk tetangga Muslim. Jemaah dari berbagai Litang seperti Depok, Rumpin, dan wilayah lain datang berkumpul. Perayaan menjadi ruang temu, bukan sekadar ritual.