Bandung Barat –
Kaus biru dongker dengan gambar dasi pramuka merah putih melekat di tubuh pemuda berambut ikal. Ia berjalan menenteng makanan dari posko relawan di worksite A1, dekat kaki Gunung Burangrang.
Namanya Iwan Gusniawan Nur Graha, pemuda berusia 22 tahun asal Kampung Nyampay, Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu ambil bagian dalam formasi tim SAR gabungan di lokasi longsor Desa Pasirlangu.
Sejak Sabtu (24/1/2026), Iwan sibuk menyisir titik yang diyakini sebagai tempat lima anggota keluarganya tertimbun longsor. Iwan kehilangan bibi, paman, dan tiga keponakannya.
Di tengah upaya pencarian korban tertimbun longsor, Iwan ikut nimbrung kala Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyambangi lokasi longsor di Kampung Pasir Kuning, Pasir Kuda, dan Kampung Babakan beberapa hari lalu.
Iwan lalu terlibat obrolan dengan Dedi Mulyadi. Sampai akhirnya ia bercerita kehilangan keluarga namun ikut terjun menjadi relawan. Iwan juga kehilangan hewan ternaknya, empat ekor domba yang dititip di kandang bibinya.
Di momen itu, Dedi Mulyadi lalu memberikan uang sebagai modal Iwan kembali berternak domba. Uang Rp10 juta jadi modal awal Iwan memulai lagi usahanya yang direnggut oleh kemarahan alam.
“Jadi waktu itu saya lagi ikut cari korban, soalnya bibi, paman, sama keponakan juga meninggal. Terus ada Pak Gubernur,” kata Iwan saat ditemui, Jumat (30/1/2026).
Setelah perbincangan panjang dengan orang nomor satu di Jawa Barat itu, Iwan menyebut ia lalu diberi modal. Uang itu diamanahkan padanya agar dibelikan lagi domba untuk diternakkan.
“Iya uangnya langsung saya belikan domba, saya beli sepasang. Sekarang dititip di kandang teman,” kata Iwan.
Sebelum uang itu ia belikan domba, ada beberapa orang tak dikenal di lokasi longsor yang berusaha meminta jatah dari uang yang ia terima. Namun Iwan menolak. Ia memegang teguh amanah dari KDM agar uang itu dibelikan hewan ternak.
“Iya ada yang mau minta, bahasa Sundanya mah ‘aya meureun‘. Tapi saya enggak kasih, soalnya kan saya dikasih buat dibelikan domba lagi,” ujar Iwan.
Iwan sendiri sempat bercerita detik-detik longsor yang menerjang rumah bibinya. Kebetulan, beberapa hari sebelum kejadian ia sedang menginap di rumah bibi dan pamannya itu. Di satu sisi ia bersyukur masih selamat, namun ia sedih kehilangan bibi yang ia sayangi.
“Saya waktu itu dengar suara ngaguruh (gemuruh), terus keluar rumah. Setelah di luar saya teriak-teriak biar yang di dalam rumah keluar. Cuma bibi saya tertidur, jadi semuanya terbawa longsor,” kata Iwan.
Kini ia masih berjibaku menerjang lumpur-lumpur dengan kedalaman lima meter. Bibi dan pamannya sudah ditemukan, ia masih berusa mencari tiga jasad keponakannya. Ia berharap jasad keponakannya bisa segera ditemukan.
“Bibi sama paman sudah ketemu, tinggal keponakan saya belum. Mudah-mudahan segera ditemukan,” kata Iwan.







