Cimahi –
Erika Tika Sari sempat menghabiskan waktu di ranjang IGD RSUD Cibabat, Kota Cimahi. Ia dilarikan ke rumah sakit pada Rabu (25/2/2026) malam setelah mengalami muntah-muntah dan pusing.
Guru SD Negeri Karangmekar Mandiri 1 itu bahkan sempat menjalani perawatan infus. Ia kehilangan banyak cairan akibat gejala khas keracunan usai menyantap onigiri atau nasi kepal dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima sekolahnya pada Rabu pagi.
Lantaran sedang tidak berpuasa, Erika menyantap menu tersebut pada pukul 13.30 WIB sepulang mengajar. Di dalam paket menu MBG yang diterimanya, terdapat pula telur rebus, apel, kurma, serta susu UHT.
“Saya kemarin makan setengah 2 siang, kebetulan lagi nggak puasa. Saya cuma makan onigirinya saja,” kata Erika, Kamis (26/2/2026).
Onigiri isi ayam suwir itu tak ia habiskan, melainkan hanya setengahnya saja karena ia merasa ada rasa yang tak biasa dari makanan khas Jepang tersebut. Berselang dua jam kemudian, ia mendadak merasakan mual dan pusing yang tak tertahankan.
“Saya sempat muntah, karena saya kira cuma masuk angin. Nah saya cek HP, ternyata di grup sekolah ada keracunan yang habis makan MBG. Ya berarti yang saya rasakan juga itu,” kata Erika.
Kondisinya berangsur membaik setelah ditangani tim medis RSUD Cibabat. Erika tak menyangka menu MBG yang dikonsumsinya justru berujung di ruang perawatan. Tak hanya Erika, tercatat ada 42 siswa lain dari sejumlah sekolah yang turut menjadi korban keracunan serupa.
“Sekarang alhamdulillah sudah mendingan. Sudah nggak merasa mual dan pusing lagi, muntah juga sudah berhenti. Disuruh istirahat dulu beberapa hari,” kata Erika.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyebut pihaknya telah memanggil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan menu MBG ke sekolah-sekolah tersebut.
“Ya sudah dipanggil langsung, kemudian kita tegur kenapa bisa kejadian seperti ini. Kita minta penjelasannya juga,” kata Adhitia.
Sampel makanan tersebut telah dikirim ke Labkesda Jawa Barat untuk diuji secara klinis. Penyelidikan mendalam terkait penyebab pasti keracunan massal ini akan ditangani oleh pihak berwenang.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Yang sifatnya observasi atas penyebab, itu kita lakukan sesuai mekanisme. Sampel sudah dibawa dan sedang diuji, isinya itu apa yang tadi didistribusikan. Kita tunggu hasilnya seperti apa, kita fokus ke penanganan pasien yang bergejala,” kata Adhitia.
“






