Cerita Deni dan Kecintaannya Terhadap Radio Jadul Indonesia

Posted on

Bandung

Radio di era sekarang memang sudah banyak ditinggalkan. Dibanding ribet harus menyiapkan alat untuk mendengar informasi yang disampaikan, publik hanya perlu mengakses mediasi sosial demi bisa mendapat apa yang diinginkan.

Namun bagi sebagian orang, radio punya nilai sejarah dan peran yang jauh lebih dari itu. Deni Kurniawan (52) misalnya, tercatat saat ini punya koleksi 50 koleksi radio jadul dari sebelumnya mencapai 400-an karena harus dijual.

Radio yang dimiliki Deni pun tak sembarangan. Di rumahnya, dia punya tipe radio yang sama digunakan Jenderal Sudirman saat menjalani perang gerilya, atau tipe yang sama dengan radio yang digunkanan Bung Karno di masa pra-kemerdekaan sekitar tahun 38-39an.

Dalam perbincangannya dengan, Deni kemudian menunjukkan satu radio bersejarah yang ia miliki. Radio itu bernama Ralin (Radio Listrik Negara), yang tercatat sebagai radio yang diproduksi pertama oleh Indonesia.

“Dan Ralin ini pabriknya ada di Bandung. Ini radio pertama yang diproduksi sama Indonesia tahun 50-an,” kata Deni belum lama ini.

Ralin bisa diproduksi setelah Indonesia merdeka. Bung Karno saat itu menasionalisasi semua aset asing, sehingga radio tersebut akhirnya bisa diproduksi secara massal di Tanah Air.

Sebelum menjadi Ralin, pabrik radio yang berada di Kiaracondong, Bandung itu awalnya adalah pabrik Philips, sebuah perusahaan teknologi milik Belanda. Namun setelah dinasionalisasi, Philips akhirnya berganti nama menjadi Ralin.

“Saya dapet Ralin ini 25 tahun yang lalu. Kondisinya udah bisa hidup lagi setelah beberapa modifikasi,” ungkap Deni.

Unit Ralin yang Deni miliki memang tidak seoriginal awal. Sejumlah bagiannya sudah mendapat restorasi, mulai dari kayu untuk bahan radio tabung itu, mesin, hingga pemasangan FM tunner.

Meski demikian, Deni tetap mempertahankan mayoritas bagian Ralin seperti SW dan MW tunner. Deni pun begitu bangga karena bisa turut andil melestarikan perjalanan Bangsa Indonesia, minimal sebagai pengetahuan kepada anak dan cucunya.

“Saya berharap orang-orang bisa meniru. Karena saya kalau enggak ada yang lestariin. Siapa lagi kalau bukan kita, anak cucu kita nantinya enggak bisa tahu sejarahnya,” ungkap Deni.

Bagi Deni, radio tak hanya jadi media penyampai informasi. Lebih jauh dari itu, radio bisa menjadi alat komunikasi rahasia seperti digunakan Jenderal Sudirman dalam perang gerilya, atau dipakai Bung Karno menerima informasi bagi kepentingan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Untuk itu, Deni mulai rutin menggelar pameran radio setiap tahunnya. Per Kamis (12/2/2026), ia dan rekan-rekannya berencana menggelar pameran bertajuk alat pemutar musik jadul, yang di dalamnya terdapat pameran radio-radio antik di Indonesia.

“Pamerannya kita mulai hari ini di Museum Kavaleri. Jadi saya mengajarkan ke anak saya dengerin penyiar, supaya enggak terlalu ketergantungan HP. Biar merasakan juga suasana dulu yang lebih kita denger interaksinya. Kayak live report pertandingan bola itu dulu seperti kita lagi ada di lapangan. Mendengar sandiwara radio kita ikutan nangis. Jadi kita seolah-olah kita berada di situ,” pungkasnya.