Bandung –
Kebijakan pemerintah memutakhirkan data peserta BPJS Kesehatan segmen Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) ternyata menimbulkan kejadian fatal di lapangan. Imbasnya, di Kota Bandung, 70.202 warga tidak bisa menikmati layanan kesehatan karena kepesertaannya dinonaktifkan.
Salah seorang warga yang terkena imbasnya adalah Budhi Nurdiana (53). Warga Dungus Cariang, Andir, Kota Bandung itu terpaksa bertahan sekuat tenaga di antara hidup dan mati karena kartu BPJS Kesehatan PBI miliknya dinonaktifkan tiba-tiba.
Saat ditemui di rumahnya, Budhi bercerita bahwa ia baru mengetahui BPJS PBI miliknya sudah tidak bisa digunakan pada 31 Januari 2026 saat hendak melakukan cuci darah di RS Khusus Ginjal Ny RA Habibie, Kota Bandung. Budhi sendiri merupakan pasien cuci darah yang sudah rutin menjalankan prosedur medis itu sejak 7 tahun silam.
Namun di momen kemarin, Budhi dan istrinya, Engkom Komalawati (52), harus dibuat kelimpungan. BPJS PBI yang biasanya ia andalkan ternyata tak bisa digunakan karena status kepesertaannya sudah tidak bisa diakses untuk layanan kesehatan.
“Saya baru tahu itu hari Sabtu 31 Januari. Saya kan jadwal cuci darahnya itu hari Rabu sama Sabtu, nah kemarin pas nunggu antrean, BPJS-nya harus diurus dulu karena enggak aktif,” kata Budhi saat mengawali perbincangannya.
Sang istri yang baru saja mengantar, kemudian Budhi minta untuk datang kembali ke rumah sakit. Engkom kemudian bergegas ke loket pelayanan BPJS supaya sang suami bisa segera mendapatkan penanganan medis.
Sembari menunggu, Budhi menaruh harapan supaya proses pengaktifan kartu BPJS miliknya bisa rampung di hari itu. Namun ternyata, penantiannya tak sesuai harapan karena loket pelayanan sedang libur.
Akhirnya, Budhi dan sang istri memutuskan untuk pulang ke rumah. Di hari itu, Budhi gagal cuci darah, dan keesokan harinya, Minggu (1/2/2026), mencoba datang ke puskesmas demi menyelesaikan masalah ini.
Namun usaha yang mereka lakukan ternyata masih menemui kebuntuan. Karena hari libur, pelayanan di puskesmas dekat rumah mereka pun ikut tutup. Alhasil, Budhi dan sang istri disarankan untuk datang kembali keesokan harinya, Senin (2/2/2026).
Tapi lagi-lagi, usaha Budhi dan sang istri belum menemukan jawaban. Dari puskesmas mereka diarahkan ke kelurahan, namun sesampainya di sana pihak kelurahan malah menyarankan untuk kembali ke puskesmas.
Di momen ini, istri Budhi, Engkom, sebetulnya sudah diberi solusi. Sang suami disarankan untuk mengakses layanan Universal Health Coverage (UHC), program kesehatan gratis milik Pemkot Bandung. Sebab ternyata, proses reaktivasi BPJS Kesehatan PBI harus menunggu sampai 3 bulan untuk kembali bisa digunakan.
“Tapi UHC juga katanya kita harus ke dokter dulu, berobat dulu, harus rawat inap dulu. Kalau enggak, kita harus nunggu 2-3 hari,” ucap Budhi.
“Padahal kita pasien HD (hemodialisis), tapi harus tetep antre. Kalau enggak ditanganin bisa bahaya,” ungkap Engkom menimpali.
Di tengah kebuntuan, Engkom disarankan salah seorang pasien cuci darah supaya menghubungi kontak Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Sebab di saat itu, banyak pasien cuci darah mengalami kondisi yang sama akibat penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan PBI.
Engkom sempat menghubungi dan mengikuti langkah yang disarankan temannya. Namun hingga keesokan harinya, Selasa (3/2/2026), tidak ada kabar yang ia dapatkan untuk kejelasan penanganan medis bagi suaminya.
Di hari itu sebetulnya, Budhi sudah berniat memindahkan status kepesertaannya dari BPJS Kesehatan PBI ke mandiri. Namun karena alasan satu dua hal, opsi ini urung mereka lakukan karena pada Rabu (4/2/2026) Budhi harus kembali menjalani jadwal cuci darah.
Yang tak diduga, saat jadwal cuci darah tiba, Budhi kembali tak kunjung mendapat kejelasan. Kepesertaan BPJS PBI miliknya masih belum bisa digunakan sehingga membuat Budhi urung datang ke rumah sakit untuk menjalani penanganan medis tersebut.
Sampai kemudian, Engkom akhirnya memutuskan untuk memindahkan status kepesertaan suaminya dari PBI ke mandiri. Uang Rp 105 ribu pun harus dikeluarkan untuk membayar biaya bulanan BPJS Kesehatan milik Budhi, Engkom dan anak laki-lakinya.
Kamis (5/2/2026), Engkom pun memindahkan status kepesertaan itu. Setelah mendaftar pada pagi hari, kartu BPJS Kesehatan milik Budhi pun akhirnya bisa aktif di sore harinya.
“Rabu itu belum ada kabar. Jadi daripada bapak kenapa-kenapa, akhirnya daftar mandiri aja. Takutnya nanti lama lagi. Alhamdulilah hari Kamis sore itu udah aktif, si bapak langsung minta jadwal cuci darahnya,” kata Engkom.
Namun akibatnya, kesehatan Budhi jadi menurun. Dua kali dia melewatkan jadwal cuci darah hingga membuat kondisi tubuhnya langsung menimbulkan gejala yang mengkhawatirkan.
Budhi mengatakan, saat itu, tubuhnya sudah mulai membengkak. Napasnya menjadi sesak, bahkan timbul gatal di beberapa bagian tubuh akibat racun di aliran darah yang sudah lama tidak dikeluarkan.
Bahkan, Budhi sudah menyiapkan tabung oksigen jika terjadi hal yang fatal. Setelah BPJS Kesehatan miliknya aktif, ia langsung meminta jadwal cuci darah pada Jumat (6/2/2026).
Untungnya, pihak RSKG Ny RA Habibie langsung bertindak. Budhi bisa datang di hari Jumat dan perlahan kondisi kesehatannya membaik.
“Kalau nunggu Sabtu itu saya enggak kuat, makanya minta jadwal cuci darah hari Jumat. Itu badan udah bengkak-bengkak semua, terpaksa beberapa hari enggak ngegojek juga. Kesehatan drop, gatel, saya pikir, wah, bahaya ini racun enggak keluar,” ucap Budhi.
“Kemarin bahkan nyiapin oksigen, soalnya enggak pernah kayak gini, rutin terus cuci darahnya. Walaupun pernah sekali karena males, paling ganti hari jadwalnya. Tapi enggak pernah separah kemaren kondisinya mah,” tambahnya.
Engkom sendiri begitu was-was dengan kondisi suaminya. Bahkan, dia mengaku sempat naik pitam di puskesmas karena nasib suaminya yang nyaris tak tergolong akibat urusan BPJS Kesehatan.
Sementara ini, Budhi dan Engkom masih bisa bernapas lega karena kepesetaan BPJS Kesehatan miliknya masih aktif dengan membayar mandiri. Namun ke depan, mereka menaruh harapan kepada pemerintah supaya lebih memperhatikan kondisi masyarakat kurang mampu yang memang membutuhkan uluran bantuan.
Budhi sendiri sebelum terkena gagal ginjal kronis pernah punya sejumlah bisnis di Kota Bandung. Namun setelah menjalani cuci darah, bisnis itu ambruk yang membuat Budhi kini hanya bisa mengandalkan penghasilan dari kerjaan ojek online.
“Bagi saya, ini (BPJS Kesehatan PBI) ngebantu banget, apalagi di tengah kondisi kayak gini. Karena kalau kerja kan enggak mungkin, mana ada yang mau nerima kerja liburnya di hari Rabu sama Sabtu,” katanya.
“Harapannya pemerintah harus berkolaborasi, khususnya untuknya penyakit ginjal. Karena ini mah enggak bisa ditunda, harus ada perhatian khusus. Terus ke depan jangan sampe kejadian gini lagi. Harus ada pemberitahuan dulu, supaya kita juga bisa antisipasi,” pungkasnya.







