Cerita Benjolan dan Mega yang Menahan Nyeri Tak Berkesudahan

Posted on

Indramayu

Jumat (13/3/2026) pagi, di sebuah rumah sederhana yang ada di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, tampak seperti pagi-pagi lainnya. Seorang perempuan muda menjemur pakaian yang baru dicuci. Sesekali ia berhenti, menahan rasa tidak nyaman di tangannya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Perempuan itu adalah Mega Fitria Dewi (24). Di pergelangan tangan kirinya terdapat benjolan besar yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Benjolan itu adalah bagian dari penyakit kanker tulang yang telah ia derita selama beberapa tahun terakhir.

Meski pernah menjalani operasi, Mega hingga kini masih harus menjalani hari-harinya dengan rasa sakit yang datang silih berganti. Namun hidup tetap harus berjalan.

Mega menikah dengan suaminya, Caswandi, sekitar lima tahun lalu. Di rumah itu pula ia menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana.

Walaupun sakit, Mega tetap berusaha melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa. Ia mencuci pakaian, mencuci kain, dan menjemurnya di halaman rumah.

Sesekali ia juga mengantar keponakannya pergi ke sekolah. Bagi orang yang melihatnya dari kejauhan, aktivitas itu mungkin tampak biasa saja. Tetapi bagi Mega, setiap gerakan tangannya bisa berarti menahan rasa nyeri.

Di balik kegiatan sederhana itu yang telah dilakukan, hari-hari Mega sebenarnya dipenuhi rasa sakit dan kesedihan mendalam.

Semua bermula sekitar dua tahun lalu. Saat itu Mega sempat terjatuh di jalan. Tidak lama setelah kejadian tersebut, muncul benjolan kecil di pergelangan tangan kirinya.

Awalnya, benjolan itu tidak terlalu diperhatikan. “Awalnya kecil,” ujar Mega saat menceritakan kembali awal mula penyakitnya.

Ketika masih kecil, benjolan itu bahkan tidak terasa sakit.Namun waktu terus berjalan. Benjolan itu perlahan membesar. Rasa sakit mulai datang.

“Nah, abis itu mulai terasa sakitnya. Nyut-nyutan dan kadang kambuh kadang biasa saja,” kata Mega.

Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti kapan benjolan itu berubah menjadi sebesar sekarang. Namun kira-kira dalam waktu sekitar satu tahun, kondisinya semakin memburuk.

Kini benjolan itu terlihat jelas dan sering menimbulkan rasa nyeri yang tidak mudah diabaikan.Yang dirasakan Mega bukan hanya sakit. Ada perasaan lain yang ikut menghantuinya setiap kali ia harus keluar rumah.

“Malu,” ucapnya pelan.

Karena itu, Mega sering menutupi tangannya ketika berada di luar rumah. Ia tidak ingin terlalu banyak orang memperhatikan kondisinya.

Jika ada yang bertanya tentang tangannya, Mega biasanya memberikan jawaban sederhana.

“Saya bilangnya jatuh.” Jawaban itu menjadi cara paling mudah untuk menghindari pertanyaan yang lebih dalam.

Menurut kakak iparnya, Nurjanah (29), Mega sebenarnya masih berusaha menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.

“Masih normal, Pak. Dia masih bisa beraktivitas juga,” kata Nurjanah. Namun keadaan berubah ketika rasa sakit datang. Mega sering tidak kuat menahannya.

“Kalau sering sakit, dia suka nangis. Tangan Mega katanya terasa panas. Saat rasa nyeri muncul, dia sering megangin tangannya sendiri,” kata Nurjanah.

Kadang ayahnya membantu memijat tangannya untuk meredakan rasa sakit. Namun itu hanya membantu sementara.

Selama ini Mega sudah berusaha menjalani pengobatan. Ia bahkan sudah hampir delapan kali bolak-balik ke rumah sakit di Hasan Sadikin di Bandung.

Dokter menyarankan agar Mega menjalani operasi lanjutan serta kontrol secara rutin. Tetapi perjalanan pengobatan itu tidak mudah bagi keluarganya.

Biaya pengobatan memang ditanggung. Namun ada biaya lain yang tetap harus dipenuhi. Biaya transportasi untuk pergi ke Bandung. Biaya makan selama di sana. Serta biaya untuk membeli obat.

“Pengobatannya gratis, Pak. Tapi transportasi sama jajan (makan) di sana, sama beli obat juga,” jelas Nurjanah.

Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, tampaknya biaya tersebut menjadi beban yang tidak ringan.

Saat ini, Mega sebenarnya sudah dijadwalkan kembali ke rumah sakit untuk kontrol. Namun rencana itu harus tertunda. Alasannya sederhana, tetapi sangat menentukan: tidak ada biaya untuk berangkat.

“Iya, harusnya ke sana lagi. Tapi belum ada dananya,” kata Nurjanah. Sejak saat itu, Mega hanya bisa menunggu di rumah.

Di rumah sederhana itu, Mega tetap menjalani rutinitas hariannya; mencuci, menjemur pakaian, dan membantu pekerjaan rumah sebisanya.

Namun di balik aktivitas itu, ada satu harapan yang ia simpan; Ia ingin kembali berobat, ia ingin sembuh.

“Ingin berobat supaya sembuh,” katanya. Harapan itu sederhana, tetapi bagi Mega, harapan itu berarti segalanya.

Kini Mega dan keluarganya hanya bisa berharap akan ada orang-orang yang peduli, yang mau membantu agar ia bisa kembali melanjutkan pengobatannya.

“Mudah-mudahan nanti ada yang menolong. Kasihan,” harap Nurjanah. Di rumah kecil itu, harapan orang-orang di dalamnya masih terus dijaga.