Tanah Sumatera dirundung duka usai bencana banjir menerjang sejak akhir November 2025. Beberapa provinsi yang didera bencana itu di antaranya Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sudah lebih dari sebulan berlalu, dampaknya tak main-main. BNPB mencatat per 6 Januari 2026 korban bencana di Sumatera mencapai 1.170 orang. Penyintas bencana masih memulihkan fisik dan psikis.
Provinsi Aceh sampai saat ini masih berstatus tanggap darurat. Bantuan berupa logistik serta petugas medis dari berbagai daerah terus mengalir. Termasuk dari Kabupaten Bandung Barat.
Petugas medis diterjunkan ke daerah terdampak bencana, salah satunya Kabupaten Aceh Tamiang. Terbaru, seorang perawat baru saja tiba di Aceh Tamiang untuk memberikan penanganan medis pada penyintas.
“Alhamdulillah saya sudah di Aceh Tamiang, berangkat dari Jakarta tanggal 5 Januari. Sebagai petugas medis, tentunya saya tergerak mengerahkan tenaga dalam misi kemanusiaan ini,” kata Agus Nurjaman, perawat RSUD Cililin, yang diterjunkan ke Aceh Tamiang saat dikonfirmasi, Jumat (9/1/2026)
Matanya jadi saksi betapa dahsyatnya banjir bandung yang menyapu daratan Serambi Mekah. Lumpur menimbun ruang-ruang di setiap bangunan di Kabupaten Aceh Tamiang, tempatnya mengabdi untuk negeri 14 hari ke depan.
Hujan sampai info ini masih terus mengguyur. Penyintas yang bermalam di posko-posko darurat resah banjir bandang kembali menerjang. Doa senantiasa dipanjatkan saban waktu berharap Tuhan menyertai mereka keselamatan.
“Sampai sekarang masih hujan. Jadi apa yang kita lihat di berita dan media sosial, memang seperti itu kondisinya. Lumpur, kayu di atap rumah. Tapi sedikit demi sedikit mulai dibersihkan, bergotong royong,” kata Agus.
Kendati bencana sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu, namun dampaknya masih terasa. Rumah sakit belum beroperasi penuh, petugas medis baru sebagian yang bisa bertugas, hingga ketersediaan alat kesehatan yang masih terbatas.
“Kita utamakan memang anak, perempuan, dan lansia. Kalau kebutuhan obat kan memang sudah disuplai oleh Kemenkes, cuma mungkin peralatan kesehatan ya yang masih terbatas,” ucap Agus.
Para penyintas mulai rawan terserang penyakit. Mereka terus bersentuhan dengan air banjir yang bercampur dengan sampah dan benda lainnya. Keluhan gatal hingga penyakit dalam berpotensi dialami penyintas.
“Ya seperti sampah terbawa banjir, mereka kan setiap hari bersih-bersih rumah dan bangunan lainnya. Jadi memang rawan sekali terserang penyakit,” ujar Agus.
Agus sendiri merupakan 1 dari 200 relawan yang dimobilisasi Kementerian Kesehatan RI pada Batch 2 ini. Para relawan terdiri dari berbagai profesi kesehatan dan disebar ke sejumlah wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh, seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Takengon, dan Gayo Lues.
Plt Kepala Dinas Kesehatan, Bandung Barat, Lia N. Sukandar mengatakan keterlibatan tenaga kesehatan dari KBB merupakan bagian dari dukungan daerah terhadap transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.
“Penyiapan sumber daya manusia yang kompeten dan siap dimobilisasi sewaktu-waktu menjadi indikator penting keberhasilan sistem ini. Pastinya mereka juga sudah menguasai kegawatdaruratan,” ujar Lia.







