Bandung –
Ancaman darurat sampah di wilayah Bandung Raya kian nyata. Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti diproyeksikan mencapai batas kapasitas pada 2027 nanti.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun bergerak cepat, meneken nota kesepahaman (MoU) kerja sama pengelolaan sampah regional berkelanjutan.
Penandatanganan MoU tersebut melibatkan kepala daerah dari Bandung Raya, Bupati Bandung Barat, Bupati Bandung, Wali Kota Bandung, dan Wali Kota Cimahi bersama sejumlah pihak swasta.
Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani kekosongan waktu sebelum proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka beroperasi penuh pada 2029 mendatang.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, MQ Iswara, menegaskan bahwa sejak awal Sarimukti memang dirancang sebagai solusi sementara bagi kawasan Bandung Raya.
“TPPAS Sarimukti ini kan regional sementara. Kita perkirakan tahun 2027 sudah overload. Sementara TPPAS Waste to Energy Legok Nangka yang tendernya dimenangkan Sumitomo belum siap,” kata Iswara, Kamis (26/2/2026).
“Mereka baru siap 2029. Jadi ada missing link dua tahun, 2027 sampai 2029,” imbuh dia.
Celah waktu dua tahun itulah yang kini dikejar melalui kolaborasi dengan sektor swasta. Salah satu poin krusial dalam MoU adalah kesiapan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai off-taker dalam skema pengolahan baru.
“Alhamdulillah tadi sudah MoU dengan pihak swasta dan Indocement juga siap jadi off-taker. Jadi kita akan ubah pengelolaan di Sarimukti,” ujarnya.
Iswara mendorong agar percepatan tidak hanya berhenti di atas kertas. Ia berharap operasional dengan skema baru bisa berjalan dalam waktu dekat.
“Selama manusia hidup, tiap hari kita produksi sampah. Ini keniscayaan. Maka Sarimukti harus dipercepat. Mudah-mudahan Mei Juni sudah bisa operasi dengan pihak ketiga dan off-taker, kami harapkan Indocement, karena juga ada di Jawa Barat,” katanya.
Tak hanya soal kerja sama, perubahan fundamental juga akan diterapkan pada metode pengolahan. Jika sebelumnya Sarimukti masih menerapkan pola open dumping atau buang-timbun, ke depan sistem akan diarahkan ke sanitary landfill dan bertahap menuju waste to energy.
Bagi Iswara, sampah tak lagi bisa dipandang sebagai beban semata, melainkan potensi yang harus diolah secara bernilai. “Sampah harus punya nilai ekonomis. Ini bagian dari ekonomi sirkular,” tandas Iswara.
Video Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel“







