Tanah Sukabumi seolah menjadi panggung bagi drama perebutan ruang yang tak kunjung usai. Di balik rimbunnya hutan tropis dan aliran sungai yang melegenda, tersimpan catatan kelam tentang betapa tipisnya batas antara peradaban manusia dan liar alam.
Sepanjang tahun 2025, konflik ini memperlihatkan bagaimana satwa-satwa yang terdesak mulai menampakkan diri di tengah pemukiman, memicu konflik yang tak jarang harus dibayar dengan nyawa.
Kisah ini bermula saat aroma tanah basah dan riak air Sungai Cimandiri menjadi saksi bisu di penghujung Maret. Di saat warga Kampung Cihurang, Kecamatan Simpenan, tengah menikmati syahdunya suasana menunggu berbuka puasa, sebuah bayangan predator purba memecah ketenangan.
Seekor buaya muncul ke permukaan, tepat saat aktivitas warga sedang tinggi-tingginya. Dede Rukandi, warga yang saat itu tengah memancing, menceritakan info-info yang membuatnya mematung.
“Kejadiannya kemarin sore, saya lagi mancing sambil ngabuburit. Tiba-tiba buaya muncul dan mendekat. Saya langsung takut dan berhenti mancing,” ujar Dede saat ditemui infoJabar.
Penampakan itu bukan sekadar kemunculan sesaat. Kehadirannya yang kian sering menjadi alarm bagi warga yang masih menggantungkan hidup pada sungai.
“Sudah beberapa kali saya lihat, tetapi baru kali ini jaraknya dekat sekali. Warga jadi takut, apalagi sore-sore suka banyak yang ngabuburit di sini,” tambahnya.
Seiring bergantinya musim, “perang” ruang ini bergeser dari tepian sungai menuju aspal panas yang membelah hutan. Memasuki bulan Agustus, jalur Cikidang-Palabuhanratu, tepatnya di Tanjakan Cisarakan, menyuguhkan pemandangan unik sekaligus berisiko.
Kawanan monyet ekor panjang mulai rutin melintas di jalan raya.
Pada Senin (11/8), para pengendara seperti I Supendi terpaksa melambatkan laju kendaraan demi memberi jalan pada penghuni hutan ini.
“Kalau sore lebih ramai lagi, suka tiba-tiba menyeberang. Makanya kalau lewat sini, gas jangan terlalu dalam,” katanya.
Ada rasa kagum sekaligus waspada yang menyertai setiap lintasan di sana, “Kalau yang saya takutkan monyet ini tiba-tiba melompat. Kadang suka takut juga karena kondisi jalan raya langsung berdekatan dengan kawanan hewan liar itu. Namun, hal itu belum pernah terjadi,” ujarnya.
Namun, suasana waspada yang berbalut rasa kagum di jalan raya itu berubah menjadi duka yang menyayat hati hanya dalam hitungan hari. Di wilayah yang tak jauh dari sana, Kecamatan Kabandungan, konflik ini berujung pada duka mematikan bagi seorang anak.
Kamis (21/8) pagi, seorang pelajar bernama Revan (15) tengah membantu ibunya bekerja di sawah Kampung Cihamerang. Namun, sebuah lubang di antara rimbunnya rumput liar menjadi awal dari sebuah akhir.
Nurdin Shopian, relawan Tagana, menuturkan betapa tragisnya ketidaktahuan yang menyelimuti Revan saat itu.
“Informasi awal, ibunya sedang membersihkan rumput di sawah. Anak itu ikut membantu. Tidak lama, dia terperosok ke dalam lubang, lalu merasa seperti digigit sesuatu. Korban mengira itu gigitan kepiting, bukan ular,” terang Nurdin.
Bisa ular Welang hanya butuh sepuluh menit untuk mulai melumpuhkan tubuh remaja itu. Revan sempat mendatangi ibunya dengan tubuh yang kian melemah.
“Ia bilang ke ibunya merasa sempoyongan,” ujar Nurdin.
Nyawa Revan akhirnya tak terselamatkan dalam perjalanan panjang mencari pertolongan medis.
Memasuki bulan September, teror satwa berpindah ke kandang-kandang domba di kaki Gunung Halimun Salak. Bayang-bayang Macan Tutul Jawa hadir di Desa Gunungmalang, Cikidang, meninggalkan jejak berdarah pada 20 ekor domba milik warga.
Kepala Desa, Ajang Rahmat, menggambarkan kengerian yang tak biasa dari cara predator itu memangsa.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Kalau lihat jejaknya diduga macan tutul. Namun, yang mengherankan, sebagian besar domba hanya dicekik, tidak dimakan. Ada satu yang dimakan hanya lehernya saja. Jejak kaki ada yang besar dan kecil, sepertinya macan memangsa dengan anaknya,” ungkap Ajang.
Ironisnya, saat satwa predator turun memangsa, satwa langka lainnya justru menjadi korban. Di penghujung bulan yang sama, seekor lutung tersengat kabel listrik tegangan tinggi di Palabuhanratu.
Uus Sumarna dari Damkar Kabupaten Sukabumi menjelaskan perjuangan lima hari satwa malang itu sebelum akhirnya menyerah.
“Lutung yang dievakuasi sejak hari Jumat mati pada pagi harinya. Lutung mengalami luka sengatan listrik. Menurut anggota yang menangani di lapangan, meskipun terlihat sehat pada awalnya, kondisi internalnya sudah memburuk dan tidak bisa bertahan lama,” ujarnya.
Danpos 1 Palabuhanratu, Aceng Ismail, menambahkan kesan lemahnya satwa tersebut saat dievakuasi, “Saat di lokasi memang masih hidup, tetapi agak lemas. Kami menduga ia tersengat listrik bertegangan cukup tinggi,” ucapnya.
Puncak dari segala konflik manusia dan satwa di Sukabumi meletus secara tragis di Kecamatan Cidadap pada Senin (6/10).
Abah Ocang (73), seorang petani tua, ditemukan tewas setelah terlibat duel hidup dan mati melawan seekor King Cobra sepanjang empat meter di rumahnya yang terpencil.
Camat Cidadap, Azwar Fauzi, membenarkan temuan jenazah korban.
“Betul, korban atas nama Ocang ditemukan sudah meninggal dunia sekitar pukul enam pagi oleh warga bernama Erwanto yang sedang menyadap karet di sekitar lokasi,” jelas Azwar.
Analisis di lokasi menunjukkan Abah Ocang sempat memberikan perlawanan sengit. “Dari jejak di lokasi kejadian, diduga kuat korban berupaya melawan ular tersebut menggunakan sebilah parang dan sebuah tongkat kayu. Korban berhasil membunuh ular itu, tetapi bisa (racun) sudah terlanjur menjalar di tubuhnya,” tutur Azwar.
Menutup lembaran peristiwa konflik satwa, alarm kewaspadaan justru berbunyi dari pusat keramaian. Nanan Apon (45) tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya pada Selasa (9/12) sore.
Tubuhnya seketika gemetar saat menengok ke dalam saluran air (gorong-gorong) yang berada di Komplek Perkantoran Jajaway, Palabuhanratu. Tepat di depan Kantor Dinas Pariwisata, Nanan menemukan ‘sarang’ yang membuat siapa pun merinding.
“Awalnya ada biawak, saat saya dekati (kejar), ada seekor ular di atas. Saat dilihat lagi ke bawah gorong-gorong, ternyata ada banyak,” kata Nanan menceritakan awal mula penemuannya sekitar pukul 17.30 WIB itu.
Niat awal mengejar biawak pun urung. Temuan itu membuatnya merinding. “Saya kaget, merinding juga. Itu banyak sekali ularnya, sepertinya puluhan. Ular-ular itu masih kecil, sepertinya baru menetas. Tadi sama warga lain langsung melapor ke Damkar,” imbuhnya.
Merespons laporan warga yang panik, Tim Damkar Posko Palabuhanratu menerjunkan personel untuk melakukan evakuasi. Wadanpos 1 Posko Damkar Palabuhanratu, Amirudinhaq, mengakui jumlah ular tersebut jauh melampaui laporan awal.
“Kirain saya di video laporan itu hanya 5 ekor. Ternyata setelah kita ke sini, bongkar, dan evakuasi, jumlahnya ada 22 ekor,” ungkap Amirudinhaq.
Menurut Amirudin, puluhan ular Sanca (Python) yang baru menetas ini adalah fenomena alam di musim penghujan.
“Memang di musim hujan ini kita sering banyak laporan ular. Waktunya jenis hewan ini menetas dan berkeliaran di pemukiman,” jelasnya.
Ia pun menutup peristiwa tersebut dengan pesan edukasi bagi warga. “Untuk masyarakat yang melihat ular, berbisa maupun tidak, jangan sekali-kali mencoba menangkap kalau tidak tahu caranya. Lebih baik lapor saja ke pemadam atau ahlinya untuk penanganan,” pungkasnya.
Predator Purba di Balik Tenangnya Cimandiri
Monyet Cisarakan, Ruang yang Terbagi Aktivitas Manusia dan Primata
Saat ‘Gigitan Kepiting’ Berujung Maut
Teror Predator Puncak di Kandang Domba
Akhir Pilu Lutung Tersengat Listrik
Perlawanan Sengit Abah Ocang Berujung Tragis
Menetasnya Puluhan Sanca di Jantung Kota





Memasuki bulan September, teror satwa berpindah ke kandang-kandang domba di kaki Gunung Halimun Salak. Bayang-bayang Macan Tutul Jawa hadir di Desa Gunungmalang, Cikidang, meninggalkan jejak berdarah pada 20 ekor domba milik warga.
Kepala Desa, Ajang Rahmat, menggambarkan kengerian yang tak biasa dari cara predator itu memangsa.
“Kalau lihat jejaknya diduga macan tutul. Namun, yang mengherankan, sebagian besar domba hanya dicekik, tidak dimakan. Ada satu yang dimakan hanya lehernya saja. Jejak kaki ada yang besar dan kecil, sepertinya macan memangsa dengan anaknya,” ungkap Ajang.
Ironisnya, saat satwa predator turun memangsa, satwa langka lainnya justru menjadi korban. Di penghujung bulan yang sama, seekor lutung tersengat kabel listrik tegangan tinggi di Palabuhanratu.
Uus Sumarna dari Damkar Kabupaten Sukabumi menjelaskan perjuangan lima hari satwa malang itu sebelum akhirnya menyerah.
“Lutung yang dievakuasi sejak hari Jumat mati pada pagi harinya. Lutung mengalami luka sengatan listrik. Menurut anggota yang menangani di lapangan, meskipun terlihat sehat pada awalnya, kondisi internalnya sudah memburuk dan tidak bisa bertahan lama,” ujarnya.
Danpos 1 Palabuhanratu, Aceng Ismail, menambahkan kesan lemahnya satwa tersebut saat dievakuasi, “Saat di lokasi memang masih hidup, tetapi agak lemas. Kami menduga ia tersengat listrik bertegangan cukup tinggi,” ucapnya.
Puncak dari segala konflik manusia dan satwa di Sukabumi meletus secara tragis di Kecamatan Cidadap pada Senin (6/10).
Abah Ocang (73), seorang petani tua, ditemukan tewas setelah terlibat duel hidup dan mati melawan seekor King Cobra sepanjang empat meter di rumahnya yang terpencil.
Camat Cidadap, Azwar Fauzi, membenarkan temuan jenazah korban.
“Betul, korban atas nama Ocang ditemukan sudah meninggal dunia sekitar pukul enam pagi oleh warga bernama Erwanto yang sedang menyadap karet di sekitar lokasi,” jelas Azwar.
Analisis di lokasi menunjukkan Abah Ocang sempat memberikan perlawanan sengit. “Dari jejak di lokasi kejadian, diduga kuat korban berupaya melawan ular tersebut menggunakan sebilah parang dan sebuah tongkat kayu. Korban berhasil membunuh ular itu, tetapi bisa (racun) sudah terlanjur menjalar di tubuhnya,” tutur Azwar.
Menutup lembaran peristiwa konflik satwa, alarm kewaspadaan justru berbunyi dari pusat keramaian. Nanan Apon (45) tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya pada Selasa (9/12) sore.
Tubuhnya seketika gemetar saat menengok ke dalam saluran air (gorong-gorong) yang berada di Komplek Perkantoran Jajaway, Palabuhanratu. Tepat di depan Kantor Dinas Pariwisata, Nanan menemukan ‘sarang’ yang membuat siapa pun merinding.
“Awalnya ada biawak, saat saya dekati (kejar), ada seekor ular di atas. Saat dilihat lagi ke bawah gorong-gorong, ternyata ada banyak,” kata Nanan menceritakan awal mula penemuannya sekitar pukul 17.30 WIB itu.
Niat awal mengejar biawak pun urung. Temuan itu membuatnya merinding. “Saya kaget, merinding juga. Itu banyak sekali ularnya, sepertinya puluhan. Ular-ular itu masih kecil, sepertinya baru menetas. Tadi sama warga lain langsung melapor ke Damkar,” imbuhnya.
Merespons laporan warga yang panik, Tim Damkar Posko Palabuhanratu menerjunkan personel untuk melakukan evakuasi. Wadanpos 1 Posko Damkar Palabuhanratu, Amirudinhaq, mengakui jumlah ular tersebut jauh melampaui laporan awal.
“Kirain saya di video laporan itu hanya 5 ekor. Ternyata setelah kita ke sini, bongkar, dan evakuasi, jumlahnya ada 22 ekor,” ungkap Amirudinhaq.
Menurut Amirudin, puluhan ular Sanca (Python) yang baru menetas ini adalah fenomena alam di musim penghujan.
“Memang di musim hujan ini kita sering banyak laporan ular. Waktunya jenis hewan ini menetas dan berkeliaran di pemukiman,” jelasnya.
Ia pun menutup peristiwa tersebut dengan pesan edukasi bagi warga. “Untuk masyarakat yang melihat ular, berbisa maupun tidak, jangan sekali-kali mencoba menangkap kalau tidak tahu caranya. Lebih baik lapor saja ke pemadam atau ahlinya untuk penanganan,” pungkasnya.
Teror Predator Puncak di Kandang Domba
Akhir Pilu Lutung Tersengat Listrik
Perlawanan Sengit Abah Ocang Berujung Tragis
Menetasnya Puluhan Sanca di Jantung Kota











