Kematian badak jawa bernama Musofa usai proses translokasi ke area Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) kini sedang menjadi perhatian. Nyawa hewan endemik bercula satu itu tak bisa diselamatkan setelah dinyatakan mengalami kondisi penyakit kronis bawaan yang sudah lama diderita
Padahal, proses translokasi Musofa telah melalui proses perencanaan yang matang. Badak jawa itu berhasil masuk pit trap atau lubang jebak yang dibuat oleh tim lalu tiba di paddock JRSCA pada 3 November 2025, namun kemudian dinyatakan mati setelah kondisi kesehatannya menurun pada 7 November 2025.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Kematian Musofa turut jadi perhatian peneliti pada Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komukasi Universitas Padjajaran (Unpad), Herlina Agustin. Ia mulanya menyatakan, program JRSCA yang digagas untuk pelestarian badak jawa, tidak bisa langsung dinyatakan sebagai konsep yang gagal akibat kematian Musofa.
“Dalam konteks ini, saya harus menyatakan ada upaya bagus untuk pelestarian. Jadi, kematian badak Musofa itu enggak bisa dijadikan indikator tunggal bahwa program ini gagal. Karena untuk pelestarian itu tekanan ekologisnya besar,” katanya saat berbincang dengan infoJabar, Sabtu (29/11/2025).
Sekedar diketahui, mengutip infoNews, JRSCA merupakan Kawasan Studi dan Konservasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Di sana, pemerintah tengah memproses implementasi asistensi teknologi untuk meningkatkan populasi satwa yang terancam punah.
Namun, Herlina punya catatan kritis dalam upaya konservasi badak jawa. Ia mendesak pemerintah aktif melibatkan masyarakat sekitar supaya populasi hewan endemik itu bisa terjaga secara optimal.
“Dalam hal konservasi, dari sudut pandangan komunikasi lingkungan, ini bukan hanya sekedar, kan kalau kita lihat selama ini, kayaknya, konservasi dan urusan satwa liar tuh urusannya dengan ahli biologi, teknis, gitu. Padahal kalau kita bicara tentang hubungan antara konservasi dengan manusia tuh sebenarnya enggak sederhana,” ungkapnya.
“Kalau ingin terlibat jauh, harus ada keterlibatan dengan masyarakat. Pertama, supaya badak itu enggak diburu. Kita kan sedang sibuk dengan perburuan, kedua tuh kita bicara tentang deforestasi,” tambahnya.
Selama ini, Herlina menilai, upaya perlindungan satwa liar di taman nasional, termasuk badak jawa, terkesan tertutup dan begitu rahasia. Sehingga, pelibatan komunikasi dengan masyarakat sekitar menjadi minim lantaran isu itu seolah eksklusif untuk kalangan tertentu semata.
“Alasan yang paling sering saya denger dari pengelola taman nasional atau dari aparat yang berwenang dalam konteks konservasi, selalu alasan utamanya supaya tidak diburu. Padahal kita tahu pemburu itu kebanyakan bukan orang dalem, tapi orang luar, mereka ini pendatang,” katanya.
“Nah kalau masyarakat di sekitar situ kita berikan kesadaran dan yang paling dekat hubungannya dengan badak itu kita sosialisasikan, termasuk menyampaikan ke publik bahwa konservasi ini penting buat mereka, itu kan paling enggak mereka akan sadar mereka harus menjaga itu. Gimana caranya supaya informasi yang berkaitan dengan konservasi itu bisa dipahami oleh publik, sehingga publik bisa merasakan manfaat dari konservasi ini. Tapi kan seringnya kita hanya bicaranya biologi dan teknis, enggak sosialnya,” bebernya.
Herlina pun sepakat badak, terutama badak jawa, merupakan hewan soliter dengan habitatnya harus terisolir dari dunia manusia. Belakangan kemudian, kasus pemburuan badak jawa di TNUK marak terjadi dan menurutnya itu dilakukan orang-orang pendatang dari luar kawasan.
Untuk itu, kata Herlina, masyarakat sekitar kawasan harus diedukasi supaya tidak tertipu dengan modus-modus para pemburu hewan liar, termasuk badak jawa. Karena biasanya, para pemburu yang datang begitu manipulatif hingga tak disadari keberadaannya.
“Masyarakat sekitar kebanyakan minim dilibatkan. Pemburu kan mayoritas bukan orang situ, dia memanfaatkan orang sana sebagai guide-nya. Dia mah manipulatif, masyarakat sekitarnya dimanipulasi, terus nunjukkin dimana badaknya. Tapi masyarakat mah enggak tahu kalau badaknya mau diburu. Dan lagian masyarakat enggak tahu orang yang dia ajak ngobrol itu pemburu, karena pemburu mah biasanya manipulatif biasanya,” ungkap Herlina.
Mengakhiri perbincangan, Herlina pun mendorong supaya pelibatan masyarakat sekitar harus diintensifkan untuk kebutuhan konservasi hewan liar. Para peneliti jangan lagi menganggap program konservasi ini sebagai isu yang eksklusif tanpa pelibatan dari penduduk aslinya.
“Jangan kemudian jadi hanya ekslusif untuk orang-orang biologi, teknis saja. Perlu dilibatkan masyarakat sekitar, sekaligus untuk menjaga. Dikasih tahu aja ancaman habitatnya besar, masyarakat bisa apa, manfaat yang bisa diterima masyarakat apa untuk kelestarian,” katanya.
“Jadi ancaman terkait badak ini harus kita bahas, disosialisasikan kepada publik, supaya publik bangga, publik tahu badak jawa terancam, dan publik tahu kontribusi mereka dalam pelestatian ini apa. Mereka nanti bisa merasa make them of part of the hero, gitu lah kira-kira. Selama ini kan kayak dicuekin aja, ini mah tugasnya ahli biologi, rimbawan, jangan eksklusif begitu,” pungkasnya.
