Rasa kantuk saat bekerja kerap diatasi dengan mengonsumsi kopi atau camilan manis. Padahal, kebiasaan tersebut belum tentu menjadi solusi yang tepat dan justru berisiko menimbulkan masalah kesehatan dalam jangka panjang, termasuk peningkatan risiko diabetes akibat asupan gula berlebih.
Melansir infoHealth, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, mengungkapkan bahwa penyebab paling umum rasa mengantuk saat beraktivitas bukanlah kekurangan kafein, melainkan kurangnya asupan cairan.
“Coba bayangkan, sedang bekerja tiba-tiba mengantuk berat. Apa yang biasanya dilakukan? Minum kopi atau jajan yang manis-manis. Itu salah,” kata Doddy.
Menurut Doddy, tubuh yang mengalami dehidrasi akan memberikan sinyal berupa rasa lelah dan kantuk. Ia menyarankan cara sederhana untuk mengatasinya.
“Coba tes saja. Kalau mengantuk, minum air putih dua gelas, sebaiknya hangat. Biasanya rasa kantuk akan berkurang,” ujarnya.
Doddy menegaskan bahwa kopi memang dapat membantu membuat tubuh terasa lebih segar, tetapi efeknya hanya bersifat sementara. Setelah itu, rasa lemas dan kantuk dapat kembali muncul.
“Minum kopi segarnya hanya sebentar. Setelah itu bisa lemas lagi. Begitu juga dengan camilan manis. Kalau kebiasaan, lama-lama ginjal yang kena,” katanya.
Ia menilai kebiasaan mengandalkan kopi atau minuman manis setiap kali merasa mengantuk bukanlah pola yang sehat, terutama jika dilakukan secara terus-menerus.
Untuk mencegah penyakit seperti diabetes dan obesitas, Doddy menyebut prinsip dasarnya sebenarnya cukup sederhana.
“Minum air putih sekitar dua liter per hari, lakukan aktivitas fisik atau jalan kaki minimal 30 menit, timbang berat badan setiap bulan, dan ukur tinggi badan secara berkala. Pesan-pesan ini sederhana, tapi sering diabaikan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara asupan makanan dan aktivitas fisik. Menurutnya, pola makan yang berlebihan tanpa diimbangi gerak tubuh dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
“Kalau makan enak terus tapi tidak bergerak, itu berbahaya,” tegasnya.
Terkait pola konsumsi, Doddy menekankan pentingnya keanekaragaman pangan. Ia menyarankan agar masyarakat tidak membatasi jenis makanan secara berlebihan, kecuali karena alasan agama, kepercayaan, atau kondisi medis tertentu.
“Makanlah beragam. Jangan ada yang dilarang sepenuhnya, kecuali memang ada alasan khusus,” katanya.
Ia juga mencontohkan bahwa perubahan lingkungan tidak serta-merta mengubah kebiasaan makan seseorang. “Pergi ke Yogyakarta belum tentu mengurangi konsumsi gula. Ke Padang juga tidak berarti langsung menghindari santan dan lemak. Itu memang tidak mudah,” ujarnya.
Karena itu, Doddy menilai kunci utama menjaga kesehatan bukanlah melarang total jenis makanan tertentu, melainkan mengatur keseimbangan asupan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Ia menambahkan bahwa persoalan gizi, seperti obesitas dan diabetes, tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan yang sama untuk semua orang.
“Kalau ada yang bertanya, ‘Anak saya obesitas, sebaiknya makan apa?’ ya harus diukur dulu tinggi dan berat badannya. Pendekatannya berbeda-beda pada setiap individu,” kata Doddy.
Artikel ini sudah tayang di infoHealth
Efek Kopi Hanya Sementara
Pentingnya Pola Makan Beragam
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.







