Bupati Asjap Resmikan Jembatan Leuwi Reuming, Solusi Ekonomi Kalibunder baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Sukabumi

Bupati Sukabumi Asep Japar meresmikan dua fasilitas pelayanan publik vital di Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (26/1/2026).

Dua fasilitas yang diresmikan tersebut adalah Unit Instalasi Gawat Darurat (IGD) UPTD Puskesmas Kalibunder dan Jembatan Gantung Leuwi Reuming yang kini membentang menghubungkan Desa Sukaluyu dengan Desa Sirnamekar.

Kehadiran Jembatan Gantung Leuwi Reuming menjadi sorotan utama karena dampak signifikannya terhadap mobilitas warga. Jembatan sepanjang 70 meter ini dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sukabumi dengan masa pengerjaan 120 hari.

Bupati Asep Japar mengungkapkan, infrastruktur ini memangkas waktu tempuh warga secara drastis. Akses yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam karena harus memutar, kini dapat ditempuh dalam hitungan menit.

“Kehadiran jembatan ini memberikan dampak signifikan. Jika sebelumnya warga harus menempuh jarak hingga puluhan kilometer atau memutar untuk mencapai Desa Sirnamekar, kini perjalanan dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar lima menit,” ujar bupati yang akrab disapa Asjap tersebut dalam keterangan yang diterima, Kamis (29/1/2026).

Asjap berpesan agar infrastruktur yang telah menelan biaya besar ini dijaga bersama oleh masyarakat.

“Saya mengajak seluruh masyarakat dan pengguna jalan untuk bersama-sama merawat dan memelihara fasilitas ini. Semoga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya dalam jangka waktu yang lama,” pungkasnya.

Bangkit Pasca-Bencana

Pembangunan jembatan ini merupakan respons pemerintah daerah terhadap bencana alam yang terjadi setahun silam. Diketahui, jembatan ini sebelumnya dibangun melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) pada tahun 2020.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Namun, fasilitas tersebut putus total akibat diterjang banjir bandang pada Desember 2024. Pembangunan kembali jembatan ini dinilai krusial untuk memulihkan denyut nadi perekonomian dan aktivitas sosial warga setempat.

Dampak ekonomi dari tersambungnya kembali akses antar-desa ini langsung dirasakan oleh masyarakat. Tokoh masyarakat setempat, Latif Soleh, menyebutkan bahwa sebelumnya warga harus menempuh jarak 20 kilometer untuk beraktivitas antar-desa.

Selain efisiensi waktu, jembatan ini memperbaiki rantai distribusi pertanian yang sempat terganggu. Latif menyebut, ongkos angkut yang mahal akibat akses yang sulit sempat menekan harga jual hasil tani warga.

“Alhamdulillah, setelah jembatan ini dibangun kembali, para petani bisa menjual hasil pertanian dengan harga yang lebih pantas karena akses distribusi kembali lancar,” kata Latif.