Buntut Keracunan Massal di Sukabumi, Warga Protes Kepala SPPG

Posted on

Sukabumi

Sebuah video yang memperlihatkan ketegangan antara warga dan pejabat Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Anugerah Ratu Alam 1 beredar luas di media sosial.

Peristiwa ini terjadi menyusul insiden keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa dan warga akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.

Dalam video yang beredar, terlihat warga meluapkan emosi kepada Kepala SPPG Anugerah Ratu Alam 1, Anwar Syapei, dan Ahli Gizi, Ode Hidayat, di lobi Puskesmas Simpenan.

Pertemuan yang sedianya dilakukan untuk klarifikasi tersebut berubah menjadi ajang protes warga yang menilai pihak SPPG lalai dalam mengawasi mutu makanan.

Selain masalah keracunan, kemarahan warga memuncak akibat beredarnya tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga ditulis oleh Anwar Syapei.

Pesan tersebut dinilai tidak empatik dan provokatif di tengah situasi krisis. Dalam tangkapan layar tersebut, terdapat narasi yang menyebutkan bahwa penutupan dapur akibat viral tidak akan merugikan dirinya secara pribadi karena gaji tetap berjalan, namun akan berdampak pada siswa yang harus ‘berpuasa’.

“Bagi saya tidak rugi dapur viral, saya tetap digaji. Cuma kasihan saja jika diviralkan pasti anak sekolah di Loji dan Sangrawayang, balita akan puasa dulu,” bunyi pesan yang beredar tersebut.

Warga menilai pernyataan itu menunjukkan arogansi pihak SPPG yang seolah tidak peduli dengan dampak sosial, selama hak pribadinya terpenuhi.

Klarifikasi Kepala SPPG

Menanggapi polemik tersebut, Anwar Syapei memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tangkapan layar yang beredar merupakan percakapan lama tertanggal 28 November 2025 dan tidak memiliki korelasi langsung dengan insiden keracunan yang baru saja terjadi.

Menurut Anwar, pesan itu awalnya disampaikan di grup WhatsApp Posyandu sebagai penjelasan mengenai konsekuensi operasional jika dapur ditutup akibat isu viral.

“Jadi tidak ada kaitannya saya berkomentar tentang kejadian yang kemarin,” ujar Anwar.

Anwar juga meluruskan makna kata “puasa” yang memicu amarah warga. Ia menjelaskan bahwa kata tersebut adalah istilah operasional yang berarti penghentian distribusi makanan.

“Berpuasa di sini artinya berhenti distribusi, seperti kondisi saat ini karena dapur ditutup. Jadi tidak ada kiriman nutrisi untuk balita,” jelasnya.

Menyadari pernyataannya telah menimbulkan kegaduhan dan menyinggung perasaan masyarakat di tengah musibah keracunan ini, Anwar menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

“Kami tidak ada niatan menyinggung sedikit pun masyarakat. Adapun yang tersinggung terkait ucapan saya, saya menyampaikan secara pribadi dan secara lembaga memohon maaf yang seluas-luasnya,” pungkas Anwar.