Di tengah hamparan permukiman dan lalu lintas padat wilayah Sumber, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah kawasan hijau yang sejak lama menyimpan kisah tak biasa. Bukit Plangon, hutan seluas kurang lebih 48 hektare di Desa Babakan bukan sekadar ruang alam, melainkan ruang cerita. Di sanalah legenda tentang kerajaan monyet hidup dan diwariskan dari mulut ke mulut oleh warga sekitar.
Memasuki kawasan Plangon, pengunjung akan segera berhadapan dengan pemandangan yang tak lazim. Monyet-monyet berkeliaran bebas, tidak hanya di dalam hutan, tetapi juga turun ke pemukiman warga, menyeberang jalan, bahkan duduk santai di tepi aspal. Bagi masyarakat setempat, keberadaan mereka bukanlah hal yang aneh. Sejak lama, monyet-monyet Plangon diyakini bukan primata biasa.
Dalam cerita rakyat yang terus bertahan hingga kini, monyet-monyet itu disebut berasal dari sebuah kerajaan yang bersemayam di Bukit Plangon. Jumlahnya dipercaya tidak pernah berubah, tak kurang dan tak lebih dari 99 ekor. Jika ada yang mati, maka akan ada penggantinya.
Jika tampak berlebih, diyakini ada yang “menghilang” kembali ke alamnya. Angka 99 itu bukan sekadar hitungan, melainkan simbol keseimbangan yang dijaga oleh kekuatan tak kasatmata.
Di antara puluhan monyet itu, satu sosok paling dikenal oleh warga. Namanya Robert. Ia disebut-sebut sebagai “raja” dari kerajaan monyet Plangon. Tubuhnya lebih besar, gerak-geriknya lebih agresif, dan sering terlihat memimpin rombongan. Warga yang akrab dengan kawasan ini meyakini Robert bukan sekadar monyet tua, melainkan penjaga tatanan pemimpin yang memastikan jumlah 99 tetap terjaga.
Legenda kerajaan monyet Plangon tak bisa dilepaskan dari jejak sejarah spiritual di bukit tersebut. Di puncak kawasan Plangon, terdapat dua makam yang dikeramatkan, makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah barat Cirebon pada masa lampau.
Menurut cerita yang berkembang, Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan pernah menetap di Bukit Plangon bersama pasukannya saat melakukan syiar Islam. Bukit ini menjadi tempat bertapa, menyusun strategi, sekaligus pusat pengajaran agama. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa monyet-monyet Plangon merupakan jelmaan atau titipan dari para prajurit yang setia menjaga kedua pangeran tersebut.
Kepercayaan itu membuat masyarakat sekitar memperlakukan monyet-monyet Plangon dengan sikap berbeda. Mereka tidak diburu, tidak diusik sembarangan, dan dihormati sebagai bagian dari sejarah serta penjaga kawasan.
Namun, sejarawan Cirebon Chaidir S. Susilaningrat menempatkan kisah kerajaan monyet Plangon dalam bingkai yang lebih historis dan rasional. Ia menjelaskan bahwa Bukit Plangon sejatinya merupakan situs makam dua tokoh penting dalam sejarah Cirebon.
“Makam Plangon itu kan makam dari Syarif Abdurrahman dan Syarif Abdurrahim. Syarif Abdurrahman itu Pangeran Panjunan, Syarif Abdurrahim itu adiknya Pangeran Kejaksan. Beliau berdua dimakamkan di Bukit Plangon,” ujar Chaidir saat berbincang dengan infoJabar, Kamis (15/1/2026).
Soal keberadaan monyet yang kerap dikaitkan dengan cerita kerajaan kera, Chaidir menegaskan bahwa hal tersebut lebih merupakan spekulasi yang berkembang di masyarakat. “Mengenai binatang monyet di situ, itu berbagai spekulasi, ada cerita kerajaan kera dan sebagainya itu spekulasi saja, cerita di masyarakat. Tapi memang Bukit Plangon sejak dulu habitat kera,” katanya.
Menurut Chaidir, Plangon bukan satu-satunya kawasan di Cirebon yang menjadi habitat monyet. Fenomena serupa juga ditemukan di wilayah lain yang memiliki situs sejarah. “Selain di Plangon juga ada di Cimandung, di Desa Kerandon, Kecamatan Talun, itu juga ada situs dan banyak monyet juga sama,” jelasnya.
Ia menilai, keberadaan monyet yang berkumpul di kawasan tersebut berkaitan erat dengan aktivitas manusia di masa lampau. Bukit Plangon dulunya merupakan tempat berkumpul pasukan Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan.
“Kenapa monyet itu berkumpul di situ, karena dulunya tempat berkumpul manusia. Misalnya di Plangon itu tempat basecamp Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan otomatis dengan pasukannya ngumpul di situ, makan di situ dan binatang itu cari makan,” tutur Chaidir.
Terkait legenda kerajaan monyet, Chaidir menegaskan bahwa tidak ada literatur sejarah yang mendukung cerita tersebut. Hal itu menurut dia hanya cerita tutur tinular yang menyebar dari generasi ke generasi
“Saya enggak bisa cerita lebih jauh mengenai kerajaan monyetnya, artinya tidak ada literatur apa pun yang menjelaskan itu. Itu semata-mata hanya cerita tutur tinular, jadi hanya cerita lisan yang menyebar dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Meski begitu, Chaidir melihat legenda tersebut memiliki fungsi penting dalam konteks budaya dan lingkungan. Menurutnya, kisah-kisah mistis seperti kerajaan monyet justru menjadi strategi leluhur untuk menjaga alam.
“Kenapa ada cerita itu, ada maksudnya. Itu teknik leluhur kita dalam menjaga alam. Jadi dengan cerita angker, hal yang mistis, orang tidak berani masuk sembarangan. Dengan cara itu orang enggak berani merusak dan menjaga kelestarian. Itu strategi pelestarian di zaman dulu,” katanya.
Ia menambahkan, tanpa narasi mistis semacam itu, kawasan hutan bisa saja sudah rusak sejak lama. “Kalau tidak ada pohon dianggap angker, ya pohon habis dari dulu,” ujarnya.
Chaidir menegaskan bahwa kerajaan monyet Plangon pada akhirnya memang hanya legenda yang hidup di tengah masyarakat. “Iya, legenda yang hidup di masyarakat dengan pesan dan tujuan secara moral untuk melindungi dan melestarikan alam,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui cerita-cerita yang beredar memang sangat kuat, termasuk soal sosok raja monyet bernama Robert. “Iya dengar, ada rajanya namanya Robert. Bahkan waktu Robert katanya mati, ramai itu. Itu biasa, termasuk jumlahnya tidak berubah, memang siapa yang mau menghitung,” katanya tertawa.
Di balik legenda tersebut, Bukit Plangon menyimpan sejarah penting penyebaran Islam di Cirebon. Chaidir menjelaskan, Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan hidup sekitar tahun 1470 M.
“Mereka datang ke Jawa dari Irak, Baghdad. Mereka datang jauh sebelum kelahiran Sunan Gunung Jati, tapi ketika Sunan Gunung Jati bertakhta mereka masih ada sampai mereka wafat dan dimakamkan di situ,” jelasnya.
Alasan keduanya dimakamkan di Bukit Plangon juga berkaitan dengan tugas dakwah dan politik pada masa itu. “Semasa hidupnya mereka bertugas di wilayah Barat Cirebon yang sekarang itu Rajagaluh, Majalengka itu masih dikuasai Hindu, sehingga Kecamatan Sumber, Dukupuntang itu batas,” ujar Chaidir.
Misi mereka, kata Chaidir, adalah mensyiarkan Islam sekaligus menjaga kedaulatan Kesultanan Cirebon yang dipimpin Sunan Gunung Jati. “Tugas Pangeran Panjunan dan Kejaksan untuk menjaga perbatasan termasuk memperkuat syiar Islam di wilayah itu, sehingga mereka berdiam di situ,” katanya.
Bahkan, untuk menguasai Bukit Plangon, mereka harus menundukkan tokoh-tokoh setempat yang belum memeluk Islam. “Jadi memang di masa itu yang dikedepankan politik syiar Islam oleh Sunan Gunung Jati sebagai salah satu Wali Songo,” tuturnya.
Sebelum menetap di Plangon, Chaidir menyebut Pangeran Panjunan dan Kejaksan sempat berdakwah di wilayah pesisir kota Cirebon. “Pangeran Panjunan dan Kejaksan awal syiar Islam berada di wilayah kota di pesisir sebelum akhirnya pindah ke Bukit Plangon, jadi masa mudanya di kota,” katanya.
Hingga kini, di tengah modernisasi dan perubahan zaman, kisah kerajaan monyet Plangon tetap hidup. Ia berdiam di antara rimbun pepohonan, di sela suara kendaraan, dan di ingatan warga yang masih percaya bahwa Bukit Plangon bukan sekadar hutan.
Di sana, legenda, sejarah, dan mitos berjalan berdampingan menjadikan Plangon sebagai salah satu ruang mistis paling unik di Cirebon, tempat monyet bukan hanya satwa, melainkan bagian dari kisah kerajaan yang tak pernah benar-benar hilang.


Meski begitu, Chaidir melihat legenda tersebut memiliki fungsi penting dalam konteks budaya dan lingkungan. Menurutnya, kisah-kisah mistis seperti kerajaan monyet justru menjadi strategi leluhur untuk menjaga alam.
“Kenapa ada cerita itu, ada maksudnya. Itu teknik leluhur kita dalam menjaga alam. Jadi dengan cerita angker, hal yang mistis, orang tidak berani masuk sembarangan. Dengan cara itu orang enggak berani merusak dan menjaga kelestarian. Itu strategi pelestarian di zaman dulu,” katanya.
Ia menambahkan, tanpa narasi mistis semacam itu, kawasan hutan bisa saja sudah rusak sejak lama. “Kalau tidak ada pohon dianggap angker, ya pohon habis dari dulu,” ujarnya.
Chaidir menegaskan bahwa kerajaan monyet Plangon pada akhirnya memang hanya legenda yang hidup di tengah masyarakat. “Iya, legenda yang hidup di masyarakat dengan pesan dan tujuan secara moral untuk melindungi dan melestarikan alam,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui cerita-cerita yang beredar memang sangat kuat, termasuk soal sosok raja monyet bernama Robert. “Iya dengar, ada rajanya namanya Robert. Bahkan waktu Robert katanya mati, ramai itu. Itu biasa, termasuk jumlahnya tidak berubah, memang siapa yang mau menghitung,” katanya tertawa.
Di balik legenda tersebut, Bukit Plangon menyimpan sejarah penting penyebaran Islam di Cirebon. Chaidir menjelaskan, Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan hidup sekitar tahun 1470 M.
“Mereka datang ke Jawa dari Irak, Baghdad. Mereka datang jauh sebelum kelahiran Sunan Gunung Jati, tapi ketika Sunan Gunung Jati bertakhta mereka masih ada sampai mereka wafat dan dimakamkan di situ,” jelasnya.
Alasan keduanya dimakamkan di Bukit Plangon juga berkaitan dengan tugas dakwah dan politik pada masa itu. “Semasa hidupnya mereka bertugas di wilayah Barat Cirebon yang sekarang itu Rajagaluh, Majalengka itu masih dikuasai Hindu, sehingga Kecamatan Sumber, Dukupuntang itu batas,” ujar Chaidir.
Misi mereka, kata Chaidir, adalah mensyiarkan Islam sekaligus menjaga kedaulatan Kesultanan Cirebon yang dipimpin Sunan Gunung Jati. “Tugas Pangeran Panjunan dan Kejaksan untuk menjaga perbatasan termasuk memperkuat syiar Islam di wilayah itu, sehingga mereka berdiam di situ,” katanya.
Bahkan, untuk menguasai Bukit Plangon, mereka harus menundukkan tokoh-tokoh setempat yang belum memeluk Islam. “Jadi memang di masa itu yang dikedepankan politik syiar Islam oleh Sunan Gunung Jati sebagai salah satu Wali Songo,” tuturnya.
Sebelum menetap di Plangon, Chaidir menyebut Pangeran Panjunan dan Kejaksan sempat berdakwah di wilayah pesisir kota Cirebon. “Pangeran Panjunan dan Kejaksan awal syiar Islam berada di wilayah kota di pesisir sebelum akhirnya pindah ke Bukit Plangon, jadi masa mudanya di kota,” katanya.
Hingga kini, di tengah modernisasi dan perubahan zaman, kisah kerajaan monyet Plangon tetap hidup. Ia berdiam di antara rimbun pepohonan, di sela suara kendaraan, dan di ingatan warga yang masih percaya bahwa Bukit Plangon bukan sekadar hutan.
Di sana, legenda, sejarah, dan mitos berjalan berdampingan menjadikan Plangon sebagai salah satu ruang mistis paling unik di Cirebon, tempat monyet bukan hanya satwa, melainkan bagian dari kisah kerajaan yang tak pernah benar-benar hilang.








