Majalengka –
Tanah di Majalengka bukan sekadar hamparan lahan atau bahan bangunan. Dari sanalah lahir denyut ekonomi rakyat, warisan budaya turun-temurun, hingga ekspresi seni yang membentuk identitas daerah.
Salah satu manifestasinya terlihat jelas di Kecamatan Jatiwangi, pusat industri genteng yang telah menghidupi masyarakat selama satu abad lebih. Genteng Jatiwangi tidak lagi dipandang semata sebagai produk ekonomi, melainkan telah menjelma menjadi identitas kultural masyarakat setempat.
Hal ini diakui oleh Pegiat Genteng Jatiwangi Ila Syukrillah Syarief, yang tumbuh dan besar di tengah kehidupan pabrik-pabrik genteng.
“Buat kami warga Jatiwangi, genteng itu sesuatu yang kita lihat dari kecil. Kalau kita tidak punya kesadaran akan wilayah, Jatiwangi akan sangat membosankan. Tapi ternyata orang tua kita sudah sangat berjasa, genteng kita dipakai dari Bandung sampai Jawa Timur, untuk rumah, sekolah hingga rumah sakit. Kita ini seperti peneduh, pahlawan peneduh,” kata Ila saat diwawacarai belum lama ini.
Kesadaran kolektif itu kemudian melahirkan kebanggaan baru. Warga Jatiwangi, termasuk komunitas Jatiwangi Art Factory (JaF), berupaya menempatkan genteng bukan sekadar barang jualan, tetapi simbol kebanggaan daerah.
“Buat saya genteng itu bukan cuma komoditas, tapi identitas,” tegas Ila.
Upaya mengangkat genteng sebagai ekspresi budaya terlihat dari berbagai kegiatan seni yang digagas masyarakat. Salah satunya adalah Rampak Genteng, sebuah pertunjukan yang memadukan unsur seni, ritme, dan keseharian pekerja pabrik genteng. Festival ini digelar setiap 3 tahun sekali.
Selain rampak genteng, ada juga Binaraga Jebor. Event ini mempertontonkan para buruh pabrik genteng yang memamerkan otot layaknya seperti atlet binaraga profesional. Acara yang digelar rutin setiap 11 Agustus ini bukan sekadar ajang pamer otot. Lebih dari itu, lomba ini menjadi simbol semangat dan eksistensi industri genting Jatiwangi.
“Itu cara kami supaya genteng tidak cuma dilihat sebagai komoditas. Kami ajak warga melihatnya dari sisi lain,” ujar Ila.
Tak hanya itu, komunitas setempat juga pernah menggelar Aumdayu, yakni lomba lenggang jebor. Dalam kegiatan itu, para perempuan buruh pabrik genteng berjalan anggun sambil membawa genteng untuk disusun di rak.
“Aumdayu tuh lomba lenggang Jebor karena para perempuan dengan membawa genteng mau simpan ke rak tuh ternyata kalau dilihat secara artistik itu juga sangat indah,” pungkasnya.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, tanah dan genteng Jatiwangi bukan hanya menjadi sumber nafkah, tetapi juga medium ekspresi seni dan penanda identitas budaya Majalengka.
