Bandung Barat –
Nur (38), Kokom (53), Elah (34), dan Ai Nita (25) sedang menyantap nasi kotak pemberian relawan. Sementara itu, anak-anak mereka asyik berlarian sembari menenteng jajanan di area pengungsian.
Sembilan hari sudah keempatnya tinggal di pengungsian setelah longsor menerjang kampung mereka. Bencana tersebut meratakan 48 rumah di tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026) lalu.
Sebetulnya, rumah mereka tak tertimbun material tanah dari Gunung Burangrang. Namun, karena berada di zona merah, Nur dan ketiga rekannya diwajibkan mengungsi. Sebab, material longsor hanya berjarak satu langkah kaki dari teras rumah mereka.
Keempatnya merupakan pengungsi terdampak langsung, berbeda dengan ratusan warga lain yang sempat mengungsi karena faktor keamanan lingkungan. Sejak bencana melanda, jumlah warga yang mengungsi sempat menembus 500 jiwa lebih. Namun pada Sabtu (31/1/2026), mayoritas pengungsi akhirnya memilih pulang ke rumah masing-masing.
Nur, Kokom, Elah, Ai Nita, dan ratusan jiwa lainnya masih harus bertahan. Berdasarkan pendataan pemerintah desa dan Pemda KBB, rumah mereka dinyatakan sudah tidak aman lagi untuk ditinggali.
“Iya masih harus tinggal di sini, soalnya rumah saya masuk zona merah. Kalau yang sudah pulang itu yang rumahnya di zona kuning,” kata Nur saat ditemui, Minggu (1/2/2026).
Nur memaklumi jika hampir seribu warga sempat mengungsi karena khawatir akan longsor susulan. Ia pun tak mempermasalahkan kondisi sepekan terakhir saat harus tidur berdesakan dan berebut bantuan logistik dari donatur.
Namun tak dimungkiri, setelah sebagian besar pengungsi pulang, suasana di GOR Desa Pasirlangu kini lebih lega dan nyaman. Tak ada lagi kesan pengap, gerah, dan bising.
“Ya lebih nyaman sekarang karena kosong. Tidak terlalu ramai, makanan jadi tidak berebut. Lebih diperhatikan,” tutur Nur.
Kini, Nur hanya bisa menunggu kejelasan nasibnya. Ia berharap janji relokasi dari pemerintah segera terealisasi.
“Kami yang masih di sini sebetulnya pengungsi yang rumahnya sudah tidak boleh ditinggali lagi. Katanya dijanjikan mau direlokasi, cuma sampai sekarang belum jelas. Sebetulnya saya sudah jenuh, ingin pulang dan balik kerja lagi,” ungkap Nur.
Kondisi ini kian berat karena Nur dan suaminya kehilangan mata pencaharian. Meskipun hanya buruh penggarap lahan pertanian milik orang lain, setidaknya pekerjaan itu memberikan uang untuk menyambung hidup.
“Bingung juga, mau pulang tidak bisa. Tapi kalau di sini terus tidak bisa kerja, uang juga tidak punya,” ucapnya lirih.
Hal serupa dirasakan Elah. Nahas bagi Elah, rumahnya kini rusak parah bukan hanya karena ancaman longsor, melainkan akibat hujan angin kencang yang melanda sehari sebelum bencana utama terjadi.
“Saya bingung mau pulang ke mana, rumah sudah rusak parah. Inginnya dibantu biar punya rumah lagi. Saya tidak apa-apa kalau harus direlokasi, asal jangan terlalu jauh dari sini,” ujar Elah.
Mengungsi karena Sumber Air Terdampak
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, mengakui bahwa banyak warga yang mengungsi sebenarnya tidak terdampak langsung oleh material longsor. Mereka ikut mengungsi karena akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari rusak diterjang tanah longsor.
“Hasil pendataan awal, pengungsi mencapai 564 jiwa dari 164 kepala keluarga (KK). Sebetulnya mayoritas tidak mengungsi karena rumahnya hancur, tapi karena sumber air warga kena longsor,” kata Nur Awaludin.
Pada Sabtu sore, sebagian besar pengungsi telah diantarkan kembali ke rumah masing-masing. Kini di posko pengungsian hanya tersisa 46 KK atau sekitar 146 jiwa. Merekalah warga yang rumahnya berada di zona bahaya.
Sementara itu, Incident Commander (IC) penanganan longsor Cisarua, Ade Zakir, mengatakan pihaknya telah memetakan zonasi rumah warga menjadi tiga kategori yaitu terdampak, terancam, dan aman.
“Hasil pendataan awal, ada 80 rumah yang akan direlokasi. Rinciannya, 46 rumah rusak karena gerakan tanah, dan 34 rumah berada di zona merah atau terancam,” kata Ade Zakir.
Bagi warga yang rumahnya berada di zona kuning atau area aman, petugas telah mengimbau mereka untuk kembali ke rumah. “Saat ini sedang kami pilah rumah per rumah. Bagi yang berada di luar zona terdampak dan merah, kami imbau segera kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya.







