Jakarta –
Ramainya pemberitaan mengenai konflik dan perang dalam beberapa waktu terakhir memicu beragam reaksi di media sosial. Sebagian warganet mengaku panik dan cemas setelah terus mengikuti perkembangan situasi melalui televisi maupun linimasa.
“GW TAKUT INDONESIA PERANG, kita punya senjata ga si?” demikian kata salah satu pengguna X @Cindy*********.
“Lihat berita serang menyerang, khawatir pecah perang Dunia, gimana generasi berikutnya ini, apalagi yang masih kecil. Semoga semuanya dapat teratasi dengan paling baik dan benar. Tidak mau ada yang menang atau kalah. Maunya Damai,” kata pengguna X lainnya @Lusi*****.
Respons emosional tersebut dinilai sebagai reaksi yang wajar. Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa paparan berita konflik yang muncul hampir setiap jam dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Menurutnya, meskipun peristiwa terjadi jauh dari tempat tinggal, otak tetap merespons informasi tersebut seolah-olah ancaman berada di sekitar. Respons itu memicu ketegangan fisik maupun mental.
Dampaknya beragam. Sebagian orang mengalami kesulitan tidur, mudah gelisah, cepat tersinggung, hingga muncul perasaan bahwa dunia tidak lagi aman. Pada anak-anak, paparan berita perang yang berulang juga dapat menimbulkan rasa takut berlebih.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Kalau dibiarkan, ini bisa membuat suasana rumah jadi ikut tegang,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Selasa (3/3/2024).
Ia mengingatkan pentingnya mengelola asupan informasi agar kecemasan tidak berlarut-larut. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi waktu membaca atau menonton berita, misalnya hanya pada pagi dan sore hari.
Menghindari paparan berita menjelang waktu tidur juga penting untuk menjaga kualitas istirahat. Selain itu, masyarakat disarankan memilih sumber informasi yang valid, kredibel, dan tidak sensasional.
Setelah menyerap informasi, seseorang dapat melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti berbincang dengan keluarga, berolahraga ringan, berdoa, atau melakukan latihan pernapasan dalam sebanyak beberapa kali.
“Ingat, kita tidak harus tahu semua detail setiap jam. Ikuti beritanya secukupnya, jangan bawa tegangnya seharian,” tegasnya.







