Bela Palestina Tak Butuh Agama, Solidaritas Dunia Lintas Iman Terus Menguat

Posted on

Jakarta

Dukungan terhadap Palestina sering kali dianggap identik dengan solidaritas dari umat Islam. Namun kenyataannya, dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina datang dari berbagai kalangan, lintas agama, budaya, dan negara. Hal ini disampaikan oleh Dr. Maimon Herawati, M.Litt., yang baru saja kembali dari pertemuan Steering Committee Global Sumud Flotilla di Tunisia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar bertajuk “Apakah Hati Kita Masih Hidup untuk Palestina?” yang digelar di Cirebon pada Sabtu (8/3). Dalam forum tersebut, Dr. Maimon menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak dibatasi oleh identitas agama tertentu, melainkan berakar pada nilai kemanusiaan yang universal.

Menurutnya, selama berinteraksi dengan berbagai aktivis internasional, ia menemukan banyak individu yang terlibat dalam perjuangan Palestina meskipun tidak beragama Islam. Bahkan, sejumlah aktivis yang ia temui berasal dari latar belakang agama yang berbeda, termasuk Yahudi dan mereka yang tidak beragama.

“Dukungan itu datang bukan hanya dari komunitas Muslim. Ada juga yang beragama Yahudi, bahkan yang atheis pun turut menyuarakan pembelaan terhadap Palestina,” ujar Dr. Maimon. Ia menegaskan bahwa inti dari solidaritas tersebut adalah kesadaran sebagai sesama manusia. “Tidak perlu label agama tertentu. Cukup menjadi manusia yang peduli terhadap ketidakadilan,” tambahnya.

Solidaritas Global untuk Palestina

Dr. Maimon juga menyoroti sejumlah tokoh dunia yang secara terbuka menunjukkan dukungan terhadap Palestina. Salah satu nama yang ia sebut adalah aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg. Ia mengaku beberapa kali bertemu dengan Greta dalam berbagai konsolidasi aksi solidaritas internasional.

Menurut Dr. Maimon, Greta tidak hanya menyuarakan dukungan melalui media sosial atau aksi demonstrasi. Ia bahkan ikut terlibat langsung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, sebuah upaya solidaritas internasional yang bertujuan menembus blokade terhadap wilayah Palestina.

Dalam misi pelayaran tersebut pada Oktober 2025, Greta dilaporkan sempat ditangkap oleh tentara Israel ketika kapal yang membawa para aktivis mencoba mendekati wilayah Palestina. Peristiwa itu menjadi salah satu contoh bagaimana dukungan terhadap Palestina datang dari berbagai kalangan, termasuk aktivis lingkungan global.

Selain Greta Thunberg, Dr. Maimon juga menyinggung kisah tragis Rachel Corrie, seorang aktivis kemanusiaan asal Amerika Serikat yang menjadi simbol solidaritas internasional untuk Palestina. Rachel yang saat itu berusia 23 tahun meninggal dunia setelah dilindas buldoser militer Israel saat mencoba menghalangi penghancuran rumah warga Palestina di Rafah.

Menurut Dr. Maimon, kisah Rachel Corrie menjadi bukti bahwa banyak orang dari berbagai latar belakang memandang konflik Palestina sebagai persoalan kemanusiaan yang mendesak, bukan sekadar konflik agama atau politik semata.

Situasi Terkini di Gaza dan Yerusalem

Selain membahas solidaritas global, Dr. Maimon juga memaparkan kondisi terbaru di wilayah Palestina. Ia menyebutkan bahwa laporan-laporan terbaru masih menunjukkan adanya serangan militer di sejumlah wilayah Gaza sepanjang Februari hingga Maret.

Situasi tersebut semakin memperburuk kondisi warga sipil yang sudah lama hidup dalam keterbatasan. Banyak keluarga yang terpaksa tinggal di tempat pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan akibat konflik yang belum juga berakhir.

Dr. Maimon menyampaikan bahwa situasi ini terjadi meskipun sebelumnya sempat muncul wacana gencatan senjata. Namun dalam praktiknya, serangan masih terus terjadi sehingga membuat situasi kemanusiaan di Gaza semakin kritis.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Al-Quds, atau yang lebih dikenal dengan Yerusalem. Di kota suci tersebut, akses menuju Masjid Al-Aqsa semakin dibatasi oleh otoritas Israel.

Padahal, Masjid Al-Aqsa selama ini dikenal sebagai salah satu tempat ibadah terbesar yang mampu menampung hingga sekitar 200.000 jamaah. Namun saat ini jumlah jamaah yang diperbolehkan masuk sering kali dibatasi secara ketat, bahkan disertai berbagai persyaratan usia dan izin khusus bagi warga Palestina.

Pembatasan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional karena dinilai dapat menghambat kebebasan beribadah di salah satu situs suci umat Islam tersebut.

Isu Palestina Lebih dari Sekadar Konflik

Dalam paparannya, Dr. Maimon juga menegaskan bahwa isu Palestina tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik militer. Menurutnya, persoalan ini juga berkaitan dengan sejarah panjang, identitas bangsa, serta masa depan wilayah tersebut.

Ia menyinggung berbagai narasi politik dan keagamaan yang sering muncul dalam perdebatan internasional terkait wilayah Palestina. Salah satunya adalah gagasan pembangunan “third temple” atau kuil ketiga yang diangkat oleh sebagian kelompok Zionis di kawasan Al-Quds.

Isu tersebut menjadi perdebatan karena berkaitan dengan status wilayah yang selama ini menjadi pusat perhatian dunia, baik dari sisi politik, agama, maupun sejarah.

Pentingnya Literasi Publik tentang Palestina

Di tengah kompleksitas isu tersebut, Dr. Maimon menekankan pentingnya literasi publik mengenai Palestina, khususnya di Indonesia. Ia menilai cara masyarakat memahami informasi internasional sangat berpengaruh terhadap pandangan mereka terhadap konflik yang sedang terjadi.

Peran jurnalisme, penelitian akademik, dan diskusi publik dinilai sangat penting dalam memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai situasi di Palestina. Informasi yang akurat dan berbasis fakta dapat membantu masyarakat memahami konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi yang beredar di media, termasuk propaganda atau narasi yang dapat memengaruhi opini publik.

Hubungan Historis dengan Dunia Islam

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Maimon juga menyinggung hubungan historis antara perjuangan Palestina dengan dukungan dari tokoh-tokoh dunia Muslim. Sejak lama, banyak ulama dan pemimpin di Timur Tengah yang aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional.

Dukungan tersebut tidak hanya dilakukan melalui jalur diplomasi, tetapi juga melalui media, pendidikan, serta berbagai forum solidaritas global. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Palestina telah menjadi isu penting dalam percaturan geopolitik dan kemanusiaan dunia.

Solidaritas Kemanusiaan yang Terus Hidup

Melalui forum diskusi tersebut, para peserta diajak untuk memahami bahwa dukungan terhadap Palestina tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk aksi politik semata. Solidaritas kemanusiaan dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk meningkatkan kesadaran publik dan menyebarkan informasi yang valid.

Menurut Dr. Maimon, masyarakat dunia-termasuk di Indonesia-memiliki peran penting dalam menjaga agar isu Palestina tetap menjadi perhatian global. Edukasi publik, diskusi akademik, dan penyebaran informasi yang faktual menjadi langkah penting untuk melawan propaganda yang menyesatkan.

Ia juga menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina pada akhirnya adalah soal nilai kemanusiaan. Selama masih ada kesadaran untuk melawan ketidakadilan dan membela hak asasi manusia, dukungan terhadap rakyat Palestina akan terus hidup di berbagai penjuru dunia.