Kemajuan pendidikan yang dialami Kota Bandung ternyata tetap meninggalkan sorotan. Baru-baru ini, seorang siswa disabilitas yang duduk di kelas VII SMP, diduga telah mendapat perundungan yang membuatnya harus putus sekolah.
Kabar ini, pertama kali disebarkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Farhan sempat berbincang bersama sang anak dan ibunya, yang diketahui mengalami masalah keterlambatan bicara (speech delay).
“Setiap anak berhak merasa aman di sekolah. Tak ada ruang untuk bullying, Pemerintah Kota Bandung terus berupaya semaksimal mungkin,” tulis Farhan dalam keterangan unggahannya dikutip infoJabar, Selasa (20/1/2026).
Setelah kasus itu jadi perbincangan, Dinas Pendidikan Kota Bandung tak luput memberikan penjelasan. Berdasarkan laporan yang diterima, kasus dugaan perundungan itu telah terjadi beberapa bulan ke belakang.
Namun Disdik menegaskan, sebelum kejadian, pihak sekolah telah memantau siswa kelas VII tersebut. Bahkan, sekolah sudah menyarankan orang tua agar memindahkan sang anak ke Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Anak itu sudah di asesmen oleh tim psikologi sekolah maupun dinas. Hasil pemeriksaan psikologis menyarankan agar anak ini disekolahkan di sekolah berkebutuhan khusus,” kata Kadisdik Kota Bandung Asep Gufron.
“Dua kakaknya juga bersekolah di SLB. Namun, anak yang ini masuk ke SMP umum,” ucapnya menambahkan.
Dari laporan yang dia telusuri, Asep menyebut ada dugaan kesalahpahaman. Menurutnya, rekan-rekan siswa tersebut diduga hanya bercanda.
“Bicaranya kan terbata-bata, ya bisa saja anak-anak lain bercanda (hereuy), lalu dia tersinggung. Tapi kami pastikan anak ini terus diasesmen untuk menjamin hak pendidikannya tetap terlayani,” tegasnya.
Tak hanya itu, Asep menyatakan pihak sekolah terus menjalin komunikasi dengan orang tua siswa. Sekolah masih membujuk agar anak tersebut mau melanjutkan pendidikan, baik di SMP, SLB, maupun program paket kesetaraan.
“Saat ini sekolah terus membujuk anak itu agar mau kembali belajar, atau kami fasilitasi untuk masuk ke sekolah berkebutuhan khusus,” pungkasnya.







