Bandung –
Di tangan generasi Z atau gen Z, batik saat ini menjadi fesyen yang tidak terkesan kaku dan formal. Kain bermotif tradisional itu kini kerap dipadukan dengan celana jins, sneakers, hingga outer kasual.
Perpaduan tersebut membuat batik kian lekat dengan gaya sehari-hari anak muda yang dinamis dan ekspresif. Tren ini menjadi angin segar bagi keberlanjutan batik.
Upaya menjaga daya tarik generasi muda terhadap batik tengah dilakukan oleh Rumah Batik Komar yang berlokasi di Jalan Cigadung, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Komarudin Kudiya mendirikan Rumah Batik Komar pada Juli 1998.
Pak Komar, begitu sapaannya, telah berkecimpung di dunia perajin batik sejak tahun 90-an. Ia lahir dari keluarga perajin batik di Cirebon. Keinginannya untuk melestarikan budaya asli Indonesia itu sangat kuat.
Kota Kembang dipilih sebagai lokasi pengembangan budaya ini karena menjadi saksi dirinya menempuh pendidikan sejak 1987, mulai dari studi di Institut Teknologi Bandung hingga meraih gelar magister dan doktor seni rupa.
Pada awalnya, Batik Komar memosisikan diri sebagai produsen batik premium, terutama batik tulis dan kombinasi cap-tulis. Seiring waktu, Rumah Batik Komar juga membuka diri sebagai ruang eduwisata batik sejak 2004.
“Kemudian juga akhirnya dari tahun 2004 kami memulai tempat ini dijadikan sebagai eduwisata batik,” kata dia.
Komar menilai, kecintaan pada batik perlu dibarengi pemahaman tentang proses dan keasliannya. Tanpa dua hal tersebut, dikhawatirkan perajin batik tergerus perkembangan zaman.
Ia menyebut, seiring waktu banyak gen Z datang ke Rumah Batik Komar untuk berbelanja sekaligus belajar. Di tempat ini, berbagai produk batik tersedia, mulai dari outer, selendang, aksesori, hingga kaus bermotif batik. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp125 ribu hingga Rp400 ribu.
Batik Komar di Bandung (Foto: Gheyna Sabila Z/). |
“Sekarang gen Z sudah mulai ya kalau kunjungan-kunjungan itu kan kebanyakan gen Z. Selain mereka belajar nanti pada beli belanja produk-produk batik sesuai dengan kemampuannya,” kata dia, Kamis, 26 Februari 2024.
Komar menuturkan pentingnya edukasi agar anak muda tidak keliru membedakan batik dengan tekstil bermotif batik. Di tempatnya, setiap produk diberi label yang jelas, apakah termasuk batik tulis, batik cap, kombinasi, atau sekadar kain bercorak batik.
“Jadi batik itu tidak mesti harus yang memiliki simbol, makna simbolik. Contohnya seperti yang dilihat di tempat penjemburan itu ada batik motifnya itu kartun dinosaurus misalkan ada mobil tayo, Itu kan untuk anak-anak,” ujarnya.
Perkembangan itu dapat dilakukan asalkan batik dibuat dengan lilin panas sebagai perintang warna. Penggunaan teknik lain di luar itu tidak dapat dikategorikan sebagai batik.
Batik merupakan warisan budaya tak benda yang diakui dunia. UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai bagian dari Daftar Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan pada 2 Oktober 2009.
Karena itu, pengenalan proses produksi menjadi bagian penting dari kegiatan di Rumah Batik Komar.
Batik Komar di Bandung (Foto: Gheyna Sabila Z/). |
“‘Kalau ada misalnya menggunakan lilin dingin boleh nggak pak?’ Mohon maaf itu nggak boleh. ‘Kenapa nggak boleh?’ UNESCO saja telah menuliskannya itu kalau batik itu harus menggunakan lilin panas sebagai perintang warnanya,” tuturnya.
Untuk menjembatani selera generasi muda, Komar memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam tahap perancangan motif. Dengan AI, ragam hias dapat dirancang dalam hitungan menit.
“Jadi maksudnya begini yang penting Anak-anak itu gen Z itu mencintai dulu ragam hias batiknya lah ya,” katanya.
Batik merupakan warisan budaya bangsa yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan sejarah dan filosofi mendalam. Perkembangannya di Indonesia berkaitan dengan era Kerajaan Majapahit serta penyebaran ajaran Islam di Jawa.
Batik Komar di Bandung (Foto: Gheyna Sabila Z/). |
Karena itu, Komar menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting untuk terus mengenakan, memahami, dan melestarikannya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Harapan kami dari Yayasan Batik atau masyarakat pecinta batik itu inginnya anak-anak Gen Z ini mengenal batik itu mulai dari proses produksi agar tahu betul bagaimana cara membuat batik agar tidak terjadi confus antara tekstil bercorak batik dengan batik itu sendiri.”
“Karena kalau tidak mengenali prosesnya Maka mohon maaf Nampaknya akan susah Mereka untuk mencintai apa itu batik,” pungkas dia.










